Kamis, 6 Agustus 2026 - 19:10 WIB
Tangerang Selatan, VIVA - Kendaraan elektrifikasi kini tidak hanya terbagi menjadi mobil listrik murni (EV) dan hybrid biasa (HEV). Di tengah perkembangan teknologi tersebut, Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) mulai menjadi alternatif karena menggabungkan kemampuan berkendara dengan tenaga listrik sekaligus tetap memiliki mesin bensin.
Baca Juga
Konsep ini diperkenalkan Wuling melalui dua model yang ditampilkan di Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026, yakni Darion PHEV dan Eksion PHEV. Keduanya menjadi bagian dari lini kendaraan elektrifikasi Wuling yang mengusung sistem penggerak plug-in hybrid.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Secara sederhana, PHEV merupakan kendaraan yang menggunakan dua sumber tenaga, yaitu motor listrik dan mesin pembakaran internal.
Baca Juga
Berbeda dari hybrid konvensional, baterai pada PHEV dapat diisi ulang melalui sumber listrik eksternal sehingga memungkinkan mobil melaju menggunakan tenaga listrik dalam jarak tertentu.
Ketika kapasitas baterai mulai berkurang atau kendaraan membutuhkan tenaga lebih besar, mesin bensin akan bekerja secara otomatis. Dengan cara kerja tersebut, kendaraan dapat menyesuaikan sumber tenaga sesuai kondisi berkendara.
Baca Juga
Pada sistem PHEV miliknya, Wuling menggunakan teknologi yang disebut LING Power. Sistem ini menggabungkan mesin bensin khusus hybrid, motor listrik, dan Dedicated Hybrid Transmission (DHT) yang bertugas mengatur distribusi tenaga.
DHT berfungsi menentukan kapan tenaga berasal dari motor listrik, kapan mesin bensin mengambil alih, atau kapan keduanya bekerja bersamaan. Pengaturan dilakukan secara otomatis berdasarkan kecepatan kendaraan, kondisi jalan, hingga kebutuhan tenaga.
Selain sistem penggerak, kendaraan PHEV Wuling juga memiliki beberapa pilihan mode berkendara. Tersedia tiga Driving Mode yang terdiri dari Eco, Normal, dan Sport.
Mode Eco dirancang untuk memaksimalkan efisiensi penggunaan energi dengan karakter akselerasi yang lebih halus. Mode Normal digunakan untuk penggunaan harian dengan respons yang seimbang, sedangkan Sport memberikan respons akselerasi yang lebih cepat.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Di luar mode berkendara, tersedia pula empat pilihan Energy Mode yang mengatur bagaimana kendaraan memanfaatkan tenaga listrik dan mesin bensin.
Pada mode EV Max, kendaraan akan mengutamakan penggunaan motor listrik selama daya baterai masih tersedia. EV First juga memprioritaskan tenaga listrik, namun mesin bensin akan aktif apabila dibutuhkan.
Halaman Selanjutnya
Kemudian Hybrid memungkinkan sistem menentukan kombinasi penggunaan motor listrik dan mesin bensin secara otomatis sesuai kondisi perjalanan. Sementara Fuel Priority mengutamakan penggunaan mesin bensin sehingga daya baterai tetap disimpan untuk kebutuhan tertentu.Pilihan tersebut memberikan keleluasaan bagi pengemudi untuk menyesuaikan strategi penggunaan energi, misalnya saat berkendara di dalam kota atau ketika melakukan perjalanan dengan jarak lebih jauh.
Kamis, 6 Agustus 2026 - 19:10 WIB
Jakarta, VIVA –bGubernur DKI Jakarta, Pramono Anung menegaskan sikap bahwa Pemprov DKI Jakarta mendukung hak rakyat Palestina untuk hidup dalam perdamaian, keamanan dan mendapatkan martabat sepenuhnya.
Baca Juga
Hal itu disampaikan Pramono saat menerima kedatangan Duta Besar Palestina untuk Indonesia Abdalfatah A.K. Al-Sattari di Balai Kota DKI Jakarta, Kamis, 6 Agustus 2026.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
“Pemerintah Jakarta mendukung sepenuhnya. Tentunya, pemerintah mendukung sepenuhnya perjuangan masyarakat Palestina yang sekarang ini sedang menghadapi berbagai persoalan yang luar biasa,” kata Pramono kepada wartawan.
Baca Juga
Pramono menjelaskan, dukungan kemanusiaan itu diberikan, antara lain melalui Badan Amil Zakat Nasional (Baznas/Baziz) bagi warga di Gaza.
Dia juga menyampaikan keprihatinan yang mendalam terhadap krisis kemanusiaan di Gaza dan wilayah Palestina yang diduduki Israel.
Baca Juga
“Termasuk warga sipil yang terus menghadapi kehilangan nyawa, pengungsian yang berulang, serta keterbatasan air, pangan, dan layanan kesehatan,” ujar Pramono.
Lebih lanjut, dia menyambut keinginan sejumlah komunitas Palestina yang ingin memperingati HUT ke-81 Indonesia di Kedutaan Besar Palestina yang berada di Jakarta.
“Kami akan bersama-sama nanti untuk membuat kedutaannya menjadi betul-betul menyambut kemerdekaan Republik Indonesia,” tutur Pramono.
Sementara itu, Duta Besar Palestina untuk Indonesia Abdalfatah A.K. Al-Sattari mengungkapkan pertemuannya dengan Gubernur DKI Jakarta itu, di antaranya membahas tentang Palestina dan situasi di Gaza.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
“Rakyat Palesrina sangat menderita. Tapi, seperti yang saya selalu katakan, Palestina akan bebas, Insya Allah. Alhamdulillah, dukungan terhadap Palestina meningkat dari seluruh dunia,” ungkapnya.
Dalam pertemuan itu, Dubes Palestina juga mengucapkan selamat memperingati Hari Kemerdekaan kepada rakyat Indonesia. (Ant)
VIVA.co.id
6 Agustus 2026
Kamis, 6 Agustus 2026 - 19:08 WIB
VIVA – Kacamata pintar dengan kemampuan merekam video kini menjadi salah satu kategori perangkat wearable yang mengalami pertumbuhan paling pesat.
Baca Juga
Jika beberapa tahun lalu perangkat ini masih dianggap sebagai produk khusus bagi penggemar teknologi, kini produsen besar seperti Meta, EssilorLuxottica, Qualcomm, Xiaomi, hingga Rokid berlomba menghadirkan kacamata pintar dengan kamera, kecerdasan buatan (AI), dan fitur audio yang semakin canggih.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Menurut laporan IDC, dikuti VIVA Kamis, 6 Agustus 2026, pengiriman smart glasses global melonjak tajam pada 2026. Pertumbuhan tersebut didorong oleh meningkatnya minat terhadap perangkat wearable berbasis AI yang mampu membantu aktivitas sehari-hari tanpa harus mengeluarkan smartphone dari saku.
Baca Juga
Lantas, mengapa popularitas kacamata pintar perekam video terus meningkat?
1. Merekam Video dari Sudut Pandang Pengguna
Baca Juga
Daya tarik utama perangkat ini adalah kemampuannya merekam video dari perspektif orang pertama (first-person view).
Berbeda dengan kamera ponsel atau action camera yang harus digenggam maupun dipasang pada aksesori tambahan, kamera pada kacamata pintar memungkinkan pengguna merekam aktivitas secara hands-free.
Pendekatan tersebut sangat berguna untuk mendokumentasikan perjalanan, olahraga, kegiatan luar ruangan, hingga proses pembuatan konten media sosial secara lebih natural.
Meta menyebut konsep ini memungkinkan pengguna tetap fokus pada aktivitas sambil mengabadikan momen tanpa harus terus memegang perangkat.
2. AI Membuat Kacamata Pintar Lebih dari Sekadar Kamera
Perkembangan AI menjadi alasan terbesar di balik evolusi smart glasses.
Model terbaru tidak hanya mampu mengambil foto dan video, tetapi juga memahami lingkungan sekitar melalui bantuan AI.
Pengguna dapat memberikan perintah suara untuk mencari informasi, mengenali objek, menerjemahkan teks, hingga memperoleh jawaban berdasarkan apa yang sedang dilihat.
Meta menjelaskan bahwa integrasi Meta AI memungkinkan kacamata menjadi asisten digital yang selalu siap digunakan sepanjang hari tanpa perlu membuka aplikasi di smartphone.
3. Bentuk Semakin Ringan dan Nyaman Dipakai
Generasi awal smart glasses sering dikritik karena ukurannya besar dan desainnya mencolok.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Kini situasinya berubah.
Produsen bekerja sama dengan perusahaan kacamata ternama agar perangkat terlihat seperti kacamata biasa. Contohnya kolaborasi Meta dengan EssilorLuxottica menghadirkan desain bergaya Ray-Ban maupun model baru yang kompatibel dengan lensa resep.
Halaman Selanjutnya
Pendekatan tersebut membuat smart glasses lebih mudah diterima sebagai aksesori sehari-hari, bukan sekadar perangkat teknologi.
Kamis, 6 Agustus 2026 - 19:05 WIB
VIVA – Seorang bernama Yurizal Tri Chaerawan menjadi perhatian publik setelah dirinya sempat menuliskan pengalamannya menunggu 8 jam untuk menjalani perawatan dan tak kunjung mendapatkan ruangan.
Baca Juga
Sebuah utas yang ditulis Yurizal Tri Chaerawan di akun media sosial treads miliknya, @yurizaltrich pada (22/7/2026) justru mendapatkan komentar sinis dan nirempati dari sejumlah nakes.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
“8 jam belum dapat ruangan, gamau spill RSnya soalnya gue pake BPJS,” tulis Yurizal pada akun Treads miliknya.
Baca Juga
Saat ditelisik lebih lanjut oleh para netizen, ternyata tanggapan nirempati tersebut diduga berasal dari sejumlah tenaga kesehatan dan dokter.
Salah satunya merupakan seorang dokter yang sedang menjalani Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di RSUP Dr Sardjito, Elda Putri Rahardini.
Baca Juga
Dalam utas tersebut, Elda memberikan komentar yang sinis dan nirempati terhadap Yurizal hingga menjadi sorotan publik.
“PPnya kayak orang have tapi aslinya haven’t kah? Haven’t some brain cells,” ujar Elda melalui akun @erudarahaadini.
Menyoroti komentar Elda, pihak RSUP Dr Sardjito memberikan sanksi tegas kepada dokter PPDS itu.
Kabag Hukum dan Humas RSUP Dr. Sardjito, Banu Hermawan mengungkapkan pihaknya telah menonaktifkan peserta PPDS tersebut dan sedang diproses secara internal.
“Untuk ini, Rumah Sakit Sardjito dan FKKMK memiliki sekretaris bersama pendidikan bermartabat. Tentunya yang bersangkutan nanti akan kita proses di dalam pendidikan bermartabat terkait apa yang telah dilakukannya,” ungkap Banu Hermawan.
“Kemudian mulai hari ini yang bersangkutan sudah di nonaktifkan,” sambungnya.
Photo :
Dirinya menjelaskan bahwa RS Sardjito hanya menghentikan terkait praktik dokter yang dilakukan di lingkungan rumah sakit, bukan sebagai peserta PPDS.
“Jadi kewenangan Sardjito adalah menghentikan stase yang bersangkutan. Stase itu praktik di Sardjito. Itu yang kami hentikan,” tegasnya.
Sementara itu, ia juga menegaskan dr Elda bukan pegawai dari rumah sakit tersebut melainkan hanya sebagai peserta mahasiswa PPDS FK-KMK UGM.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Banu juga mengatakan bahwa pasien BPJS yang ramai disebutkan namanya itu bukan merupakan pasien dari RSUD Dr Sardjito.
“Mohon dibantu bahwa yang viral di cibir itu bukan pasiennya Sardjito. Tapi dia terlalu tidak memikirkan efek dari perbuatannya. Pasien yang dikomentari di media sosial itu bukan pasien Sardjito,” jelas Banu.
Halaman Selanjutnya
Klarifikasi Elda Putri Rahardini
Bagikan:
JAKARTA - Asosiasi ritel mengaku kecewa dengan keputusan pemerintah yang menunda pemungutan pajak terhadap transaksi e-commerce.
Pasalnya, Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah menyebut, kebijakan tersebut diperlukan untuk menciptakan persaingan adil antara pelaku usaha online dan ritel fisik.
Dia mengatakan, seluruh pelaku ritel modern selama ini telah memungut Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 11 persen dari setiap transaksi dan menyetorkannya kepada negara. Menurutnya, mekanisme serupa juga perlu diterapkan secara konsisten di platform digital.
"Ya, kecewa (ditunda). Di ritel itu kami bayar 11 persen, bahkan kami jual (barang) online pun kami setor negara 11 persen. Jadi, kami harapkan dalam hal ini terjadi sama rata antara online dan offline," ujar Budihardjo saat ditemui wartawan usai Konferensi Pers Indonesia Retail Summit & Expo (IRSE), Hati Retail Modern Indonesia (HARMONI) Award dan Belanja di Indonesia Aja (BINA) Tahun 2026 di Jakarta, Kamis, 6 Agustus.
Hippindo, kata Budi, mendukung penuh upaya pemerintah memungut pajak dari transaksi e-commerce. Menurutnya, kebijakan itu bukan untuk membebani pelaku usaha, melainkan menciptakan kesetaraan dalam sistem perpajakan.
Iya menjelaskan, setiap transaksi di gerai ritel otomatis dikenakan PPN dan disetorkan ke kas negara. Oleh karena itu, ia berharap platform e-commerce juga menerapkan mekanisme pemungutan yang sama.
"Kalau kami di kasir pasti kenakan 11 persen, kemudian kami setor ke negara. Jadi, kami harapkan dipungut juga seperti kami memungut," tuturnya.
Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memutuskan untuk menunda penerapan pajak bagi transaksi di marketplace yang sebelumnya telah mulai diterapkan pada 1 Agustus 2026.
Menurut Purbaya, keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan kondisi daya beli masyarakat yang dinilai belum sepenuhnya pulih dan penundaan akan dituangkan secara resmi melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK).
"Pajak online mungkin kami tunda, nggak (jadi) Agustus ini mulai berjalan," ujar Purbaya dalam Media Briefing, Rabu, 5 Agustus.
Purbaya menjelaskan, kebijakan pajak marketplace akan diterapkan kembali ketika kondisi ekonomi nasional menunjukkan perbaikan lebih kuat.
"Saya selalu bilang (penerapannya) kalau daya beli ekonominya sudah membaik," katanya.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
Bagikan:
JAKARTA — Persoalan administrasi yang tak kunjung tuntas kini menjadi beban baru bagi puluhan kontraktor yang terlibat dalam pembangunan Sarana Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Badan Gizi Nasional (BGN).
Di tengah dorongan percepatan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), para penyedia jasa justru masih menunggu kepastian pembayaran atas pekerjaan yang telah mereka selesaikan.
Forum Komunikasi Kontraktor Pembangunan Sarana SPPG BGN Tahun Anggaran 2025 menyebut nilai tagihan yang belum terselesaikan diperkirakan mencapai sekitar Rp800 miliar. Nilai tersebut berasal dari pekerjaan yang dikerjakan oleh 74 perusahaan kontraktor di sekitar 22 provinsi.
Ketua Forum Arifin Nababan menegaskan bahwa pihaknya tidak sedang mempersoalkan program pemerintah, tetapi menuntut kepastian penyelesaian administrasi serta pembayaran sesuai kontrak.
"Yang kami harapkan bukan perlakuan khusus, melainkan kepastian administrasi dan kepastian pembayaran atas pekerjaan yang telah kami laksanakan," ujar Arifin.
Menurut data forum, pembangunan Sarana SPPG melalui mekanisme e-Katalog atau mini kompetisi telah berjalan di 315 lokasi hingga akhir Maret 2026. Dari jumlah tersebut, 66 proyek telah rampung 100 persen dan 249 lainnya masih dalam proses penyelesaian sesuai ketentuan kontrak.
Namun, proyek yang telah selesai pun belum seluruhnya dapat diserahterimakan. Forum menyebut proses administrasi di pihak pengguna masih menjadi hambatan sehingga aset yang telah dibangun tetap menjadi tanggung jawab kontraktor.
Akibatnya, perusahaan masih harus menanggung biaya keamanan, pemeliharaan bangunan, utilitas, hingga kebutuhan operasional lainnya selama proses serah terima belum dilakukan.
"Selama proses serah terima belum dilakukan, kami tetap harus menjaga aset tersebut, membayar keamanan, pemeliharaan, utilitas, dan berbagai kebutuhan operasional lainnya," kata Arifin.
Forum menilai persoalan ini tidak hanya berdampak pada arus kas perusahaan konstruksi. Rantai usaha lain juga ikut terdampak, mulai dari tenaga kerja, pemasok material, vendor jasa, pelaku UMKM, subkontraktor, hingga lembaga pembiayaan yang terlibat dalam proyek tersebut.
Sejauh ini forum telah enam kali mengirim surat permohonan audiensi kepada Kepala Badan Gizi Nasional untuk meminta kejelasan mengenai penyelesaian administrasi, jadwal serah terima bangunan, serta kepastian pembayaran. Akan tetapi, hingga kini belum ada tanggapan resmi.
Arifin menegaskan para kontraktor tetap mendukung keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis. Jadi, mereka berharap penyelesaian administrasi dipercepat, pembayaran segera dipastikan, dan ruang dialog dengan pemerintah dibuka agar persoalan tidak berlarut-larut.
"Kami ingin memastikan Program Makan Bergizi Gratis dan pembangunan Sarana SPPG dapat berjalan dengan baik. Yang kami harapkan adalah kepastian administrasi, kepastian pembayaran, dan ruang dialog yang terbuka agar seluruh persoalan dapat diselesaikan secara bersama-sama," ujarnya.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Ancaman Iran membalas Amerika Serikat dengan membumihanguskan infrastruktur strategis di wilayah Teluk ternyata jadi alasan Presiden Donald Trump menghentikan serangan beberapa waktu lalu. Pimpinan negara-negara Teluk dilaporkan membujuk Trump menghentikan serangan karena khawatir dengan balasan Iran.
Ancaman itu disampaikan Iran melalui jalur diplomatik menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump pada 28 Juli lalu yang mengancam akan menyerang jaringan energi dan infrastruktur Iran apabila negosiasi kembali menemui jalan buntu.
Reuters merujuk sejumlah sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut melansir Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi melakukan komunikasi intensif dengan para menteri luar negeri Arab Saudi, Qatar, dan Turki, serta Panglima Angkatan Darat Pakistan.
Dalam pembicaraan itu, Araqchi meminta negara-negara yang memiliki hubungan dekat dengan Washington menggunakan pengaruh mereka untuk membujuk Trump agar tidak kembali memilih opsi militer.
Seorang diplomat senior kawasan mengatakan, Araqchi menegaskan Iran siap memberikan balasan apabila kembali menjadi sasaran serangan. Namun, ia juga menekankan bahwa penyelesaian diplomatik tetap menjadi pilihan terbaik untuk mencegah konflik yang lebih luas.
"Pesan Iran dalam setiap pembicaraan sama. Kami siap membalas, tetapi solusi diplomatik adalah cara terbaik untuk menghindari eskalasi dan kehancuran yang lebih besar di kawasan," kata diplomat tersebut.
Sumber dari negara Teluk juga menyebut peringatan Iran disampaikan tanpa keraguan. Jika AS menyerang infrastruktur Iran, Teheran akan menyerang fasilitas energi negara-negara Teluk serta berbagai aset yang berkaitan dengan kepentingan AS di kawasan.
Ancaman tersebut menunjukkan strategi baru Iran untuk meningkatkan tekanan terhadap Washington. Dengan menjadikan infrastruktur energi sebagai sasaran potensial, Teheran berharap negara-negara Teluk yang selama ini menjadi mitra dekat AS ikut mendesak Washington menghindari aksi militer.
Posisi negara-negara Teluk memang tidak mudah. Selain menjadi lokasi pangkalan militer AS, sebagian besar perekonomian mereka juga bergantung pada ekspor minyak dan gas.
Setelah peringatan Iran disampaikan, Putra Mahkota Arab Saudi Muhammad bin Salman dilaporkan berbicara langsung dengan Trump. Menurut sejumlah sumber, pemimpin de facto Arab Saudi itu meminta AS menunda rencana serangan, kembali ke meja perundingan, mengupayakan gencatan senjata, dan mencari penyelesaian melalui diplomasi.
Kamis, 6 Agustus 2026 - 19:00 WIB
VIVA –Di tengah polemiknya dengan Sarwendah, Ruben Onsu mengaku mulai merasa tidak percaya diri saat berhadapan dengan kedua putrinya. Hal ini disampaikan Ruben Onsu saat menjadi bintang tamu dalam podcast Deddy Corbuzier baru-baru ini.
Baca Juga
"Lo tanya gue sekarang gue ada rasa nggak percaya diri di mata anak gue. Ada rasa nggak percaya diri," kata dia dikutip dari tayangan YouTube Deddy Corbuzier, Kamis 6 Agustus 2026.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Saat ditanya alasan merasa tidak percaya diri saat berhadapan dengan putrinya, mantan suami Sarwendah itu mengaku sang anak kini sudah beranjak besar dan mulai bisa memahami banyak hal. Dia juga menyadari anak-anaknya dapat mengakses berbagai pemberitaan maupun informasi yang beredar di media sosial. Lantaran hal itu, Ruben khawatir mereka akan membentuk penilaian terhadap dirinya berdasarkan apa yang dilihat di media sosial.
Baca Juga
"Kalau dia bisa tau apa yang lakukan dari tontonan dia nonton juga nggak tingkah laku?," kata dia.
Ruben kemudian mengenang sebuah momen yang membuatnya merasa terpukul sebagai seorang ayah. Saat itu, putri sulungnya, Thalia, berada bersamanya di dalam mobil ketika dia menerima panggilan telepon yang diwarnai teriakan. Setelah percakapan itu berakhir, Ruben mengaku merasa gagal sebagai seorang ayah karena sang anak menyaksikan langsung kejadian tersebut.
Baca Juga
"Ada anak gue Thalia itu tau suasana itu teriak-teriak dalam mobil, terima telepon, ngatain gue. Ketika tutup telfon gue 'gagal gue' gue ngomong apa? Bukan anak nggak tau, anak tau, mau ngomong gimana?," kata dia.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Ruben juga menegaskan bahwa keinginannya selama ini hanya satu, yakni bisa bertemu dengan anak-anaknya. Dia mengaku terpukul ketika niat tersebut justru direspons dengan anggapan negatif, termasuk tudingan bahwa dirinya lepas tanggung jawab karena sempat terlambat memenuhi kewajiban.
"Apa salah gue cuman apa yang gue minta ini hal yang sulit? Tapi gue ada keterlambatan bayar ini lepas tanggung jawab, bener-bener lo rendah serendah-rendahnya. Lo mau ngomong gimana? Nggak ada gue. Air mata gue abis. Gue ada dropnya, gue kerja dari pagi ada tiitk point 'aduh' gitu drop karena mikirin," kata dia.
VIVA.co.id
6 Agustus 2026
Bagikan:
JAKARTA - Badan Riset dan Inovasi Nasional mengembangkan alat untuk mendeteksi tanda-tanda makanan mulai membusuk dalam program Makan Bergizi Gratis atau MBG.
Alat bernama Food Guard itu ditempatkan pada ompreng atau wadah makanan. Perangkat tersebut menggunakan sejumlah sensor dan kecerdasan artifisial untuk membaca gas yang muncul ketika makanan mulai rusak.
Kepala BRIN Arif Satria memperkenalkan teknologi itu saat bertemu Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Kamis, 6 Agustus.
“Salah satu contohnya adalah Food Guard, perangkat yang ditempatkan pada ompreng untuk mendeteksi gas pembusukan menggunakan multisensor dan model AI,” kata Arif.
Multisensor adalah gabungan beberapa alat pendeteksi yang bekerja membaca kondisi makanan. Data dari sensor kemudian dianalisis menggunakan model AI untuk mengenali tanda pembusukan.
Food Guard menjadi bagian dari inovasi BRIN untuk mendukung rantai program MBG. Riset yang dikembangkan mencakup bahan pangan, mesin pengolahan, pengemasan, deteksi halal, distribusi, hingga sistem pemantauan berbasis AI.
Namun, Arif belum menjelaskan tingkat ketepatan Food Guard, lama waktu deteksi, harga perangkat, maupun kapan alat tersebut mulai digunakan dalam pelaksanaan program MBG.
BRIN juga belum memerinci apakah Food Guard akan dipasang pada seluruh ompreng atau hanya digunakan sebagai alat pemeriksaan di dapur dan titik distribusi.
Teknologi tersebut penting karena makanan dalam program MBG melewati proses memasak, pengemasan, pengangkutan, dan pembagian. Perubahan suhu dan waktu distribusi dapat memengaruhi kondisi makanan sebelum sampai kepada penerima.
Arif mengatakan berbagai hasil riset BRIN harus dipertemukan dengan kebutuhan pemerintah, industri, dan masyarakat. Tujuannya agar teknologi tidak berhenti sebagai prototipe di laboratorium, tetapi benar-benar digunakan.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
Kamis, 6 Agustus 2026 - 18:59 WIB
Jakarta, VIVA –bAyah kandung WLG, Sanalu Gowasa membeberkan sejumlah kejanggalan terkait kematian putrinya, yang merupakan mantan istri personel Polrestabes Medan, Brigadir IH yang tewas menggunakan senjata api dinas milik Polri.
Baca Juga
WLG (35) ditemukan tewas bersimbah darah di dalam kamar mandi, di rumah Brigadir IH di Perumahan Bumi Asri, Jalan Pondok Kelapa, Kecamatan Medan Helvetia, Kota Medan, Minggu sore, 2 Agustus 2026, sekitar pukul 17.00 WIB.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Sanalu Gowasa menjelaskan bahwa pihak keluarga baru mengetahui korban tewas dari petugas kepolisian pada Senin 3 Agustus 2026. Keluarga menilai terdapat sejumlah kejanggalan pada kondisi jenazah. Yang mana, pihak kepolisian menyebutkan korban tewas bunuh diri menggunakan senjata api milik mantan suaminya itu.
Baca Juga
Sanalu Gowasa mengatakan dirinya diberitahu bahwa korban bukan tewas karena senjata api. Tapi, melainkan sakit jantung, setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Bhayangkara Medan selama sepekan terakhir.
“Saya sempat bertanya, bukannya anak saya masih di Jakarta. Adiknya bilang kalau dia (WLG) sudah dijemput mertuanya ke Medan,” sebut Sanalu Gowasa kepada wartawan, dikutip Kamis 6 Agustus 2026.
Baca Juga
Usai mendapatkan informasi putrinya tewas, Sanalu Gowasa mengatakan pihak keluarga langsung mendatangi RS Bhayangkara Medan. Lalu, ia mengatakan dirinya tidak diperbolehkan untuk melihat jenazah dan melapor serta harus mendapat izin dari Polsek Medan Helvetia.
Setelah kembali ke rumah sakit, Sanalu akhirnya diperbolehkan melihat jenazah putrinya, keesokan harinya. Dia pun, terkejut dengan kondisi tubuh putrinya.
“Saya kaget karena menurut saya ini bukan meninggal karena penyakit. Saat itu saya hanya diperlihatkan bagian wajah dan saya melihat wajah anak saya memar-memar,” jelas Sanalu Gowasa.
Melihat kematian putrinya diduga tidak wajar itu. Sanalu mengatakan tidak menerima kesimpulan yang menyebut putrinya diduga bunuh diri menggunakan pistol. Menurutnya, kondisi jenazah yang dilihatnya tidak sesuai dengan dugaan tersebut.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
“Ada lubang di bagian kepala, tetapi saya menduga itu bukan bekas peluru. Ada jahitan di sana. Rambutnya juga tidak terbakar,” beber Sanalu Gowasa.
Sanalu juga mengungkapkan melihat memar pada bagian leher dan beberapa bagian tubuh korban. Berdasarkan kondisi tersebut, keluarga menduga korban mengalami penganiayaan sebelum meninggal dunia.“Kami tidak terima kalau anak saya dibilang bunuh diri. Kami menduga ada penganiayaan,” ungkapnya.
Halaman Selanjutnya
Selanjutnya, Sanalu akan membuat laporan ke Polrestabes Medan dan Polda Sumatera Utara, setelah menerima hasil autopsi yang hingga kini belum diserahkan kepada pihak keluarga.