Kamis, 6 Agustus 2026 - 19:08 WIB
VIVA – Kacamata pintar dengan kemampuan merekam video kini menjadi salah satu kategori perangkat wearable yang mengalami pertumbuhan paling pesat.
Baca Juga
Jika beberapa tahun lalu perangkat ini masih dianggap sebagai produk khusus bagi penggemar teknologi, kini produsen besar seperti Meta, EssilorLuxottica, Qualcomm, Xiaomi, hingga Rokid berlomba menghadirkan kacamata pintar dengan kamera, kecerdasan buatan (AI), dan fitur audio yang semakin canggih.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Menurut laporan IDC, dikuti VIVA Kamis, 6 Agustus 2026, pengiriman smart glasses global melonjak tajam pada 2026. Pertumbuhan tersebut didorong oleh meningkatnya minat terhadap perangkat wearable berbasis AI yang mampu membantu aktivitas sehari-hari tanpa harus mengeluarkan smartphone dari saku.
Baca Juga
Lantas, mengapa popularitas kacamata pintar perekam video terus meningkat?
1. Merekam Video dari Sudut Pandang Pengguna
Baca Juga
Daya tarik utama perangkat ini adalah kemampuannya merekam video dari perspektif orang pertama (first-person view).
Berbeda dengan kamera ponsel atau action camera yang harus digenggam maupun dipasang pada aksesori tambahan, kamera pada kacamata pintar memungkinkan pengguna merekam aktivitas secara hands-free.
Pendekatan tersebut sangat berguna untuk mendokumentasikan perjalanan, olahraga, kegiatan luar ruangan, hingga proses pembuatan konten media sosial secara lebih natural.
Meta menyebut konsep ini memungkinkan pengguna tetap fokus pada aktivitas sambil mengabadikan momen tanpa harus terus memegang perangkat.
2. AI Membuat Kacamata Pintar Lebih dari Sekadar Kamera
Perkembangan AI menjadi alasan terbesar di balik evolusi smart glasses.
Model terbaru tidak hanya mampu mengambil foto dan video, tetapi juga memahami lingkungan sekitar melalui bantuan AI.
Pengguna dapat memberikan perintah suara untuk mencari informasi, mengenali objek, menerjemahkan teks, hingga memperoleh jawaban berdasarkan apa yang sedang dilihat.
Meta menjelaskan bahwa integrasi Meta AI memungkinkan kacamata menjadi asisten digital yang selalu siap digunakan sepanjang hari tanpa perlu membuka aplikasi di smartphone.
3. Bentuk Semakin Ringan dan Nyaman Dipakai
Generasi awal smart glasses sering dikritik karena ukurannya besar dan desainnya mencolok.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Kini situasinya berubah.
Produsen bekerja sama dengan perusahaan kacamata ternama agar perangkat terlihat seperti kacamata biasa. Contohnya kolaborasi Meta dengan EssilorLuxottica menghadirkan desain bergaya Ray-Ban maupun model baru yang kompatibel dengan lensa resep.
Halaman Selanjutnya
Pendekatan tersebut membuat smart glasses lebih mudah diterima sebagai aksesori sehari-hari, bukan sekadar perangkat teknologi.