Transjakarta membuka layanan rute khusus yang menghubungkan kawasan Bundaran Senayan dengan Ancol, Jakarta Utara. Layanan rute tersebut beroperasi setiap pelaksanaan Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) atau Car Free Day (CFD) pada Minggu dengan tarif Rp3.500.
Namun, masyarakat mendapatkan tarif khusus sebesar Rp1 pada peluncuran perdana pada Minggu (9/8) di Bundaran HI, Jakarta Pusat,
"TransJakarta dari Bundaran Senayan sampai dengan Ancol untuk hari ini Rp1, tapi begitu nanti sudah berjalan, maka akan menggunakan tarif biasa, yaitu Rp3.500," kata Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung saat peluncuran Transjakarta rute Senayan-Ancol di Bundaran HI, Jakarta, Minggu (9/8).
Layanan tersebut dibuka untuk memberikan alternatif transportasi publik bagi masyarakat yang beraktivitas saat CFD. Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Budi Awaluddin mengatakan layanan Transjakarta rute khusus HBKB Ancol itu merupakan layanan satelit yang hanya beroperasi setiap Minggu saat pelaksanaan HBKB.
Layanan tersebut beroperasi mulai pukul 06.00 hingga 10.00 WIB dengan menghubungkan Bundaran Senayan dan Bundaran Symphony of the Sea di kawasan Ancol.
Rute khusus itu memiliki panjang lintasan sekitar 34,9 kilometer dengan 18 titik pemberhentian serta waktu tempuh sekitar 142 menit untuk satu kali ritase.
"Layanan ini menggunakan tujuh unit bus listrik tipe EV High-Deck dengan headway setiap 15 sampai dengan 20 menit," ujar Budi.
Dia menjelaskan dari Bundaran Senayan, bus tersebut melintasi sejumlah ruas jalan utama di Jakarta sebelum menuju kawasan Ancol.
Rute itu mencakup Jalan Jenderal Sudirman, Jalan MH Thamrin, Jalan Medan Merdeka Barat, Jalan Ir. H Juanda, Jalan Gunung Sahari, Jalan RE Martadinata, hingga Jalan Ancol dan berakhir di Bundaran Symphony of the Sea.
Budi pun berharap kehadiran rute khusus tersebut memberikan kemudahan bagi masyarakat yang hendak menuju kawasan Ancol setelah maupun selama mengikuti kegiatan CFD. Masyarakat tidak perlu menggunakan kendaraan pribadi karena tersedia layanan langsung dari kawasan Bundaran Senayan.
Selain layanan transportasi khusus, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga memberikan fasilitas berupa akses masuk gratis ke kawasan Ancol bagi penumpang yang menggunakan layanan Transjakarta tersebut.
Budi menuturkan penumpang Transjakarta yang tiba di Ancol tidak perlu membayar tiket masuk kawasan. Bus Transjakarta dapat langsung masuk ke kawasan Ancol sehingga penumpang dapat melanjutkan aktivitas di dalam kawasan wisata tersebut.
"Untuk di Ancol nanti itu gratis. Jadi, TransJakarta-nya langsung masuk ke Ancol dan tidak perlu lagi harus ditanya untuk tiketnya," ungkap Budi.
Setelah memasuki kawasan Ancol, kata dia, masyarakat juga dapat menggunakan kesempatan tersebut untuk berkeliling dan mengakses berbagai area di dalam kawasan tersebut.
Minggu, 9 Agustus 2026 - 16:00 WIB
Jakarta, VIVA - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menginisiasi perubahan paradigma penegakan hukum terpadu terkait kehutanan, tumbuhan, serta satwa liar (TSL) ilegal menghadapi perubahan tren kejahatan dan dampaknya yang semakin kompleks.
Baca Juga
Menurut Direktur Jenderal (Dirjen) Penegakan Hukum (Gakkum) Kemenhut Dwi Januanto Nugroho pentingnya penerapan pendekatan hukum multidisiplin (multidoor) guna bongkar kejahatan terorganisasi terkait kehutanan dan TSL.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
"Pendekatan multidoor menjadi semakin penting. Berbagai instrumen hukum yang tersedia perlu dimanfaatkan secara optimal, termasuk tindak pidana korupsi, perpajakan, kepabeanan, hingga sektor jasa keuangan. Dengan pendekatan tersebut, kita dapat memperluas ruang penegakan hukum sekaligus meningkatkan daya ungkit dalam membongkar jaringan kejahatan yang lebih besar," katanya, Minggu, 9 Agustus 2026.
Baca Juga
Maka dari itu, lanjutnya, Ditjen Gakkum Kemenhut bersama program Law Enforcement for Sustainable Viable Ecosystems and Biodiversity Resilience through Multi-Sectors Engagement (LEVERAGE) menggelar Multistakeholder Meeting Penegakan Hukum Terpadu Kehutanan dan Tumbuhan dan Satwa Liar sebagai langkah strategis menanggulangi tindak pidana perdagangan tumbuhan dan satwa liar ilegal yang dilaksanakan 7-8 Agustus 2026 di Bogor, Jawa Barat.
Dalam kesempatan itu, Januanto menyatakan pentingnya strategi penegakan hukum masa depan harus bertransformasi pada pembuktian berbasis sains dan pemutusan insentif ekonomi kejahatan.
Baca Juga
"Kita perlu menempatkan pemulihan aset (asset recovery), pemutusan keuntungan ekonomi hasil kejahatan, serta dukungan sains forensik (forensic science) sebagai bagian utama strategi," ujar dia.
Hal it karena penegakan hukum yang efektif tidak hanya diukur dari jumlah pelaku yang dipidana, melainkan dari kemampuan negara membangun pembuktian presisi berbasis ilmiah dan menghilangkan motivasi ekonomi kejahatan tersebut.
Forum itu kemudian merumuskan empat langkah strategis yaitu penguatan kelembagaan, penyusunan standar operasional prosedur (SOP) terintegrasi, penguatan substansi regulasi dan pengembangan kapasitas sumber daya manusia.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Forum itu sendiri dihadiri oleh sejumlah tokoh terkait termasuk Direktur D Jampidum Kejagung RI Dwi Agus Arfianto, Direktur Penuntutan KPK Budhi Sarumpaet, Direktur Penegakan Hukum Ditjen Pajak Samingun, Hakim Tinggi Yustisial BSDK/Anggota Lingkungan Hidup Mahkamah Agung R. Heru Wibowo Sukaten.
Dalam diskusi tersebut, hadir juga Staf Khusus Menteri Kejutanan (Menhut) Bidang Penegakan Hukum Kehutanan Inspektur Jenderal Polisi K. Rahmadi dan Staf Khusus Menteri Kehutanan Bidang Hubungan Antar Lembaga dan Konflik Tenurial Irjen Pol (Purn) Didik Agung Widjanarko sebagai Penanggap Utama. (Ant)
VIVA.co.id
9 Agustus 2026
Jakarta, CNN Indonesia --
Manajemen Perusahaan Otobus (PO) MTrans memberikan klarifikasi terkait beredarnya video viral di media sosial yang memperlihatkan sejumlah bus membunyikan klakson berbunyi potongan suara pidato Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) "Saya akan lawan!".
Humas Resources Development (HRD) MTrans, Jhony Sasongko, memastikan bahwa suara klakson dalam video tersebut merupakan hasil rekayasa audio atau editan semata. Kepastian ini diperoleh setelah pihak manajemen melakukan pengecekan langsung terhadap armada yang muncul dalam video.
"Kami mohon maaf sebelumnya karena beredar video seperti itu. Kami pastikan video itu adalah editan. Kami sudah cek pada armada kami yang sesuai di video tersebut, bahwasannya aturan penggunaan klakson sudah dipatuhi oleh kru," kata Jhony kepada detikJatim, Kamis (6/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jhony menjelaskan, armada MTrans yang terseret dalam video viral tersebut merupakan bus yang melayani rute Blitar - Jakarta (Poris). Tidak hanya armada pada rute tersebut, pengecekan juga dilakukan ke seluruh armada MTrans lainnya untuk memastikan tidak ada modifikasi klakson yang melanggar aturan.
Ia menegaskan bahwa manajemen MTrans menerapkan regulasi dan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang ketat terkait standar operasional armada, termasuk masalah kelengkapan klakson.
"Armada kami ada regulasi tertentu mengenai penggunaan klakson. Jadi kami konfirmasi itu tidak 100 persen benar, sehingga kemungkinan besar itu adalah video editan," tegasnya.
Menyikapi maraknya konten rekayasa di media sosial yang melibatkan nama PO bus, Jhony mengimbau warganet dan masyarakat umum agar lebih bijak serta teliti dalam mencerna informasi digital.
"Untuk netizen atau viewer, kami berharap bisa lebih bijak melihat bahwasannya tidak semua video yang disebarkan itu benar adanya, terutama hal-hal yang viral mengenai pelanggaran peraturan maupun modifikasi klakson ini," pesannya.
Selain itu, Jhony memberi pesan khusus kepada komunitas pecinta bus (Busmania) untuk bersama-sama menciptakan suasana yang positif di industri transportasi publik Indonesia.
"Untuk Busmania, alangkah baiknya kita buat suasana yang lebih positif agar masyarakat awam bisa lebih menghargai dan menggunakan jasa transportasi bus. Karena pada dasarnya, transportasi bus selalu mengutamakan keselamatan dan kenyamanan," tandasnya.
Sebelumnya, sebuah video berdurasi singkat viral di media sosial memperlihatkan sejumlah armada bus dari beberapa PO-seperti PO Belvia Trans, MTrans, dan Aleena Trans-melintas di jalan raya. Dalam video tersebut, bus-bus itu tampak membunyikan suara klakson berulang kali berupa potongan pidato khas Joko Widodo yang mengucapkan kalimat "Saya akan lawan!" saat disapa para pecinta bus di pinggir jalan.
Unggahan itu memicu beragam reaksi warganet. Sebagian netizen merasa terhibur dengan kreativitas tersebut, namun tidak sedikit pula yang mempertanyakan keaslian suara serta aspek legalitas modifikasi klakson di jalan raya.
Selengkapnya di sini.
(tim)
[Gambas:Video CNN]
Industri migas membutuhkan asuransi dengan kapasitas sangat besar karena nilai aset dan investasinya tinggi, sementara risiko yang dihadapi dapat menimbulkan kerugian berskala masif. Kebakaran, ledakan, blowout, kerusakan mesin, pencemaran, gangguan usaha, hingga kecelakaan pada fasilitas offshore dapat menimbulkan kerugian yang tidak realistis jika seluruhnya ditanggung sendiri oleh pemilik aset maupun satu perusahaan asuransi.
Karena itu, asuransi berfungsi sebagai mekanisme transfer risiko finansial. Risiko tersebut kemudian dapat dibagi lebih lanjut melalui dukungan reasuransi, termasuk ke pasar internasional.
Persoalannya bukan sekadar apakah sebuah perusahaan migas memiliki polis. Pertanyaan yang lebih penting adalah: seberapa besar kapasitas perlindungan yang tersedia ketika risiko terbesar benar-benar terjadi?
Ada alasan mengapa sektor minyak dan gas membutuhkan pendekatan pengelolaan risiko yang sangat spesifik. Industri ini memiliki sedikitnya lima karakteristik yang membuat eksposurnya berbeda.
Pertama, industri migas bersifat capital intensive. Eksplorasi, produksi, pengolahan, penyimpanan, dan distribusi membutuhkan investasi modal dalam jumlah besar. Ketika nilai aset yang dibangun semakin tinggi, potensi kerugian finansial yang harus diantisipasi juga ikut meningkat.
Kedua, sektor ini memiliki risiko yang dapat bersifat katastropik. Kebakaran atau ledakan pada fasilitas energi tidak selalu menghasilkan kerusakan lokal. Insiden dapat mengganggu sejumlah bagian operasi sekaligus.
Ketiga, aktivitas migas melibatkan teknologi kompleks dan material yang memiliki tingkat bahaya tertentu. Pengeboran sumur, pengolahan minyak, penyimpanan bahan bakar, hingga transportasi energi membutuhkan prosedur keselamatan dan mitigasi risiko yang berbeda-beda.
Keempat, kerugian tidak selalu berhenti pada aset yang mengalami kerusakan. Ketika sebuah fasilitas berhenti beroperasi, perusahaan juga dapat menghadapi business interruption, yaitu kerugian yang timbul karena terganggunya kegiatan usaha.
Kelima, industri energi memiliki eksposur terhadap faktor eksternal seperti kondisi geopolitik, regulasi, pasar global, cuaca ekstrem, hingga risiko rantai pasok.
Artinya, nilai sebuah polis tidak hanya ditentukan oleh harga aset yang diasuransikan. Kompleksitas risiko di belakang aset tersebut ikut menentukan kebutuhan perlindungannya.
Perbedaan risiko paling mudah terlihat ketika membandingkan fasilitas onshore dan offshore.
Pada aktivitas onshore, akses menuju fasilitas relatif lebih mudah dan biaya operasional umumnya lebih rendah. Namun, risikonya tetap signifikan. Kebakaran, ledakan, pencemaran, kerusakan fasilitas, dan gangguan operasi dapat terjadi pada berbagai titik, mulai dari sumur pengeboran hingga kilang, terminal BBM, dan jaringan pipa.
Sementara itu, fasilitas offshore menghadapi lapisan risiko tambahan. Investasi dan teknologi yang digunakan cenderung lebih besar dan kompleks. Kondisi cuaca ekstrem juga dapat menjadi faktor penting, sementara akses terhadap bantuan darurat lebih terbatas dibandingkan fasilitas yang berada di darat.
Konsekuensinya sederhana tetapi penting: risiko tidak hanya ditentukan oleh apa yang diasuransikan, melainkan juga di mana dan bagaimana aset tersebut beroperasi.
Pada fasilitas offshore, misalnya, insiden yang membutuhkan respons cepat dapat menghadapi hambatan geografis dan kondisi laut. Karena itu, pengelolaan risiko membutuhkan penilaian teknis sebelum polis diterbitkan.
Kebutuhan terhadap kapasitas asuransi tidak dapat dipisahkan dari perkembangan industri migas itu sendiri.
Materi Tugu Insurance mencatat bahwa wilayah kerja migas pada 2026 mencapai 110 blok, meningkat dari 75 blok pada 2025. Pada saat yang sama, rencana investasi hulu migas 2026 mencapai US$16 miliar, dengan target lifting minyak sebesar 610 ribu barel per hari.
Angka tersebut penting bukan semata-mata karena menunjukkan besarnya investasi. Ada konsekuensi lain yang sering luput diperhatikan: setiap proyek dan aset baru membawa eksposur risiko baru yang harus dikelola.
Semakin banyak sumur yang dieksplorasi, fasilitas yang dibangun, kapasitas pengolahan yang dikembangkan, atau infrastruktur energi yang dioperasikan, semakin banyak pula aset bernilai besar yang membutuhkan perlindungan.
Dengan kata lain, pertumbuhan investasi migas menciptakan dua kebutuhan secara bersamaan. Industri membutuhkan modal untuk membangun aset, tetapi juga membutuhkan mekanisme agar potensi kerugian dari aset tersebut tidak sepenuhnya kembali ke neraca perusahaan.
Di titik inilah asuransi bekerja sebagai bagian dari infrastruktur finansial sebuah proyek.
Secara sederhana, risk transfer berarti pemilik aset mengalihkan sebagian risiko finansial kepada perusahaan asuransi dengan membayar premi. Jika terjadi peristiwa yang dijamin polis, perusahaan asuransi memberikan ganti rugi sesuai syarat dan ketentuan yang telah disepakati.
Namun, dalam industri migas prosesnya tidak sesederhana membayar premi lalu menerima polis.
Tahap awal dimulai dengan identifikasi risiko. Perusahaan perlu memetakan kemungkinan kejadian yang dapat menimbulkan kerugian, mulai dari kebakaran, kerusakan mesin, gangguan usaha, hingga tanggung jawab terhadap pihak ketiga.
Selanjutnya terdapat risk survey dan valuasi. Tim risk engineering melakukan survei terhadap aset dan kondisi operasional, menilai nilai aset, serta memberikan rekomendasi mitigasi.
Setelah eksposur diketahui, persoalan berikutnya adalah kapasitas.
Untuk risiko bernilai sangat besar, perusahaan asuransi dapat menempatkan sebagian eksposur tersebut ke pasar reasuransi. Setelah struktur perlindungan disepakati, polis diterbitkan dengan cakupan, batasan, dan ketentuan yang telah ditetapkan.
Artinya, proses asuransi migas sebenarnya dimulai jauh sebelum terjadi klaim.
Jawabannya bukan sekadar “ganti rugi ketika terjadi kecelakaan”.
Yang dibeli adalah kemampuan untuk mengelola konsekuensi finansial dari risiko yang tidak dapat sepenuhnya dihilangkan.
Sebuah perusahaan migas tetap harus melakukan mitigasi. Kebakaran tidak dapat dicegah hanya dengan membeli polis. Demikian pula kerusakan mesin tidak otomatis membuat operasi aman karena perusahaan memiliki perlindungan asuransi.
Asuransi bekerja pada lapisan berbeda: ketika risiko yang telah dimitigasi tetap terjadi, dampak finansialnya dapat dialihkan sesuai struktur perlindungan yang telah disepakati.
Inilah perbedaan penting antara risk prevention dan risk transfer.
Mitigasi berusaha menurunkan kemungkinan atau dampak suatu kejadian. Asuransi membantu mengelola konsekuensi finansial ketika kejadian tersebut tetap terjadi.
Karena itu, dalam industri migas, keduanya tidak dapat dipisahkan.
Ambil ilustrasi sederhana.
Sebuah fasilitas pengolahan mengalami kebakaran. Kerugian pertama terlihat jelas: sebagian peralatan dan bangunan mengalami kerusakan.
Tetapi perusahaan mungkin menghadapi konsekuensi lain:
biaya memperbaiki atau mengganti aset;
terhentinya kegiatan produksi;
hilangnya pendapatan selama fasilitas tidak beroperasi;
kerusakan terhadap aset atau properti pihak lain;
kewajiban kepada pihak ketiga;
biaya tertentu yang timbul dalam proses penanganan insiden.
Inilah alasan perlindungan dalam sektor energi dapat terdiri atas berbagai jenis polis dan tidak berhenti pada property damage.
Semakin kompleks rantai operasi, semakin beragam pula potensi kerugiannya.
Dengan demikian, kapasitas asuransi yang dibutuhkan bukan hanya soal “berapa harga kilang” atau “berapa nilai rig”. Perusahaan perlu memperhitungkan berapa besar kerugian yang mungkin muncul ketika aset tersebut mengalami gangguan dan bagaimana dampaknya menjalar ke operasi.
Di sinilah muncul paradoks dalam industri energi.
Perusahaan migas membutuhkan perlindungan karena nilai risikonya sangat besar. Tetapi perusahaan asuransi juga harus mempertimbangkan kemampuan finansialnya sendiri untuk membayar klaim apabila risiko tersebut benar-benar terjadi.
Jika satu perusahaan asuransi mengambil seluruh risiko dalam jumlah yang terlalu besar, konsentrasi eksposur tersebut dapat menjadi masalah.
Karena itu, kapasitas dalam asuransi energi tidak semata-mata berarti perusahaan asuransi memiliki modal besar. Kapasitas juga berkaitan dengan kemampuan melakukan underwriting, kualitas penilaian risiko, kekuatan permodalan, dan akses terhadap jaringan reasuransi.
Materi edukasi Tugu Insurance menekankan bahwa karena nilai risiko sektor energi umumnya sangat besar, industri asuransi bekerja sama dengan reasuradur global. Dengan demikian, sebagian risiko dapat ditempatkan ke pasar reasuransi domestik maupun internasional.
Dari sini terlihat bahwa perlindungan sebuah aset migas pada dasarnya dapat melibatkan lebih dari satu lapisan institusi keuangan.
Pemilik aset → perusahaan asuransi → reasuransi → pasar reasuransi global.
Rantai inilah yang memungkinkan risiko bernilai sangat besar tetap dapat dikelola tanpa seluruh beban finansial berada pada satu pihak.
Data premi juga memberikan gambaran mengenai perkembangan kebutuhan tersebut.
Per Q3 2025, premi energi offshore di industri asuransi tercatat Rp1,18 triliun, tumbuh 18% yoy. Sementara premi energi onshore mencapai Rp225 miliar, meningkat 18,4% yoy.
Sebagai pembanding, pertumbuhan industri asuransi umum pada FY2025 tercatat 4,8%.
Perbedaan tersebut menarik. Pertumbuhan segmen energi sekitar empat kali lipat dibandingkan pertumbuhan industri asuransi umum menunjukkan bahwa aktivitas dan nilai risiko di sektor energi sedang menciptakan kebutuhan proteksi yang tumbuh lebih cepat.
Namun, angka tersebut tidak semestinya dibaca hanya sebagai kabar baik bagi penjualan produk asuransi.
Ada cerita yang lebih besar di belakangnya: ketika investasi energi bertambah, industri asuransi harus menyediakan kapasitas yang sepadan dengan pertumbuhan eksposur tersebut.
Pertumbuhan premi, dengan demikian, merupakan salah satu cerminan dari semakin besarnya kebutuhan untuk memindahkan risiko finansial dari pemilik aset kepada industri asuransi.
Dan ketika risikonya terlalu besar untuk ditanggung sendiri, cerita tersebut berlanjut ke satu lapisan yang jauh lebih penting: reasuransi.
Di sinilah pertanyaan berikutnya muncul. Jika perusahaan asuransi sendiri tidak menanggung seluruh risiko proyek migas, siapa yang sebenarnya berada di belakang kapasitas perlindungan tersebut, dan bagaimana risiko bernilai sangat besar dibagi ke pasar internasional?
Baca Juga: Lagi Paparkan Teknologi Energi Nuklir, Peneliti BRIN Diminta Matikan Mic oleh Prabowo
Baca Juga: B50 Jadi Penyangga Ketahanan Energi, Airlangga: Harga Pertalite Tak Akan Naik hingga Akhir Tahun
Jika perusahaan asuransi harus menanggung sendiri seluruh risiko dari sebuah proyek migas bernilai sangat besar, kapasitas finansial perusahaan akan menjadi salah satu batas utama. Karena itu, industri asuransi energi mengenal lapisan perlindungan lain yang disebut reasuransi.
Secara sederhana, reasuransi memungkinkan perusahaan asuransi mengalihkan sebagian eksposur yang telah diterimanya kepada perusahaan reasuransi. Mekanisme ini membuat risiko yang sangat besar dapat dibagi ke lebih banyak pihak.
Dalam materi paparannya, Strategic Business 1 Group Head (Pertamina Business) PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (Tugu Insurance) Carolina Ledy Babbyana menjelaskan bahwa kebutuhan tersebut muncul karena karakteristik risiko sektor energi memang berbeda.
"Nilai risiko di sektor energi umumnya sangat besar, industri asuransi bekerja sama dengan reasuradur global," ujar Babbyana dalam acara Media Gathering di Jakarta beberapa waktu lalu.
Pernyataan tersebut menunjukkan satu hal penting: kapasitas asuransi migas tidak hanya ditentukan oleh kemampuan perusahaan asuransi menerbitkan polis. Ada ekosistem reasuransi di belakangnya yang memungkinkan risiko dengan nilai sangat besar tetap dapat dikelola.
Dalam praktiknya, sebagian eksposur dapat ditempatkan ke pasar reasuransi domestik maupun internasional. Namun, akses ke pasar tersebut juga tidak otomatis dimiliki semua perusahaan.
Menurut materi paparan Tugu, rating keuangan yang kuat menjadi salah satu kunci untuk mengakses pasar reasuransi kelas dunia. Artinya, kemampuan perusahaan asuransi untuk menerima risiko besar juga berkaitan dengan kredibilitas finansialnya.
Di sinilah istilah kapasitas menjadi penting.
Kapasitas bukan hanya soal seberapa besar premi yang bisa dihimpun perusahaan asuransi. Kapasitas juga berkaitan dengan kemampuan perusahaan menyerap risiko, melakukan underwriting, menjaga permodalan, dan memperoleh dukungan reasuransi ketika eksposurnya semakin besar.
Besarnya nilai aset migas membuat proses sebelum penerbitan polis menjadi sangat penting.
Perusahaan asuransi tidak cukup hanya mengetahui bahwa sebuah perusahaan memiliki kilang, rig, kapal, pipa, atau terminal. Mereka perlu memahami bagaimana aset tersebut beroperasi dan risiko apa yang melekat pada masing-masing fasilitas.
Karena itu terdapat proses risk survey dan valuasi.
Tim risk engineering melakukan survei lapangan, menilai nilai aset, sekaligus memberikan rekomendasi mitigasi. Informasi tersebut kemudian menjadi salah satu dasar bagi perusahaan asuransi untuk memahami eksposur yang akan ditanggung.
Pendekatan ini penting karena dua aset dengan nilai yang sama belum tentu menghasilkan profil risiko yang sama.
Sebuah fasilitas yang memiliki sistem proteksi kebakaran memadai, prosedur keselamatan ketat, dan akses darurat yang baik dapat memiliki karakter risiko berbeda dari fasilitas dengan kondisi operasional yang lebih rentan.
Dengan kata lain, harga atau nilai aset hanyalah salah satu bagian dari persoalan. Kualitas pengelolaan risiko ikut menentukan bagaimana sebuah risiko dinilai oleh industri asuransi.
Hal tersebut menjelaskan mengapa risk engineering menjadi bagian penting dalam asuransi energi.
Risiko migas tidak berada di satu tempat. Rantai industrinya membentang dari pencarian cadangan hingga produk energi sampai kepada konsumen.
Karena karakteristik setiap tahap berbeda, perlindungan asuransinya pun tidak seragam.
Pada sektor hulu, aktivitas utama meliputi eksplorasi dan produksi.
Aset yang dapat menjadi objek perlindungan antara lain anjungan lepas pantai, rig pengeboran, sumur, dan fasilitas produksi.
Materi Tugu mencantumkan sejumlah contoh perlindungan, seperti Property Damage, Operator's Extra Expense, Well Control, Business Interruption, dan Third Party Liability.
Risikonya juga beragam, mulai dari kebakaran, blowout, kerusakan mesin hingga kondisi laut ekstrem.
Khusus offshore, kompleksitasnya semakin tinggi karena aktivitas dilakukan di lingkungan yang memiliki keterbatasan akses dan dipengaruhi kondisi laut.
Setelah minyak dan gas diproduksi, risiko tidak berhenti.
Energi harus diangkut dan disimpan. Aset yang terlibat antara lain kapal tanker, jaringan pipa, terminal, dan depot penyimpanan.
Untuk tahap ini, materi Tugu mencantumkan perlindungan seperti Marine Hull & Machinery, Marine Cargo, Property All Risks, dan Pipeline Insurance.
Risiko yang dihadapi juga berbeda, misalnya kecelakaan pelayaran, tumpahan minyak, kebocoran pipa, hingga risiko geopolitik pada jalur perdagangan.
Ini menunjukkan mengapa konsep asuransi energi tidak bisa disederhanakan menjadi “asuransi untuk kilang”.
Rantai nilai energi memiliki banyak titik yang berpotensi menghasilkan kerugian.
Pada sektor hilir, minyak dan gas diproses, didistribusikan, dan dipasarkan.
Asetnya dapat berupa kilang minyak, kompleks petrokimia, depot bahan bakar, hingga fasilitas pengisian.
Jenis perlindungan yang disebut dalam materi antara lain Industrial All Risks, Machinery Breakdown, Business Interruption, serta Construction/Erection All Risks.
Risiko utamanya meliputi kebakaran, ledakan, kerusakan mesin, dan gangguan operasi, termasuk ketika fasilitas menjalani pemeliharaan besar.
Dengan demikian, satu ekosistem energi dapat membutuhkan beragam perlindungan sekaligus.
Bagi pembaca awam, kerugian akibat insiden mungkin terlihat sederhana: aset rusak, lalu perusahaan asuransi membayar biaya perbaikan.
Namun, bagi perusahaan energi, persoalannya dapat jauh lebih panjang.
Jika sebuah fasilitas berhenti beroperasi, perusahaan bukan hanya harus memikirkan biaya memperbaiki fasilitas. Ada kemungkinan pendapatan terganggu karena produksi tidak berjalan seperti biasa.
Inilah alasan Business Interruption menjadi salah satu perlindungan yang penting dalam industri energi.
Ilustrasinya sederhana.
Sebuah fasilitas pengolahan mengalami insiden dan harus berhenti sementara. Mesin yang rusak mungkin bisa diperbaiki. Tetapi selama proses perbaikan berlangsung, kegiatan produksi juga dapat terganggu.
Maka terdapat dua persoalan yang berbeda:
kerugian atas aset dan kerugian akibat terhentinya bisnis.
Jika ditambah kemungkinan tuntutan pihak ketiga, tanggung jawab lingkungan, atau kerusakan pada fasilitas lain yang terkait, total eksposur menjadi semakin kompleks.
Inilah alasan perusahaan migas membutuhkan program perlindungan yang dirancang berdasarkan karakteristik risiko, bukan sekadar membeli satu produk asuransi.
Dalam paparannya, Babbyana memberikan penekanan yang cukup tegas mengenai posisi asuransi dalam industri energi.
“Asuransi Migas bukan sekadar instrumen pelengkap, melainkan kebutuhan absolut (mandatory) yang menjadi prasyarat bagi keberlangsungan operasional dan investasi di sektor energi," ujarnya.
Pernyataan tersebut dapat dibaca dari dua sisi.
Pertama, asuransi memberikan perlindungan terhadap neraca keuangan perusahaan dari potensi kerugian besar.
Kedua, perlindungan tersebut berkaitan dengan keberlangsungan operasi. Ketika sebuah insiden terjadi, kemampuan untuk memulihkan aset dan operasi menjadi bagian penting dari keberlanjutan bisnis.
Dengan kata lain, fungsi asuransi tidak berhenti pada pembayaran klaim setelah kerugian terjadi.
Asuransi juga menjadi bagian dari perencanaan bagaimana sebuah perusahaan menghadapi skenario terburuk.
Hubungan antara asuransi dan ketahanan energi mungkin tidak terlihat secara langsung.
Perusahaan asuransi tidak menghasilkan minyak. Mereka juga tidak mengoperasikan kilang atau jaringan distribusi bahan bakar.
Namun, perlindungan finansial dapat memengaruhi kemampuan pemilik aset untuk melakukan pemulihan setelah terjadi insiden.
Materi Tugu menjelaskan fungsi tersebut melalui tiga kepentingan utama: melindungi aset strategis nasional, menjamin keberlangsungan operasi, dan mendukung proyek strategis.
Ketika sebuah aset energi mengalami kerusakan, semakin cepat proses pemulihan dapat dilakukan, semakin kecil potensi gangguan berkepanjangan terhadap operasi.
Oleh karena itu, asuransi dapat menjadi salah satu lapisan pendukung ketahanan energi.
Babbyna juga menempatkan fungsi tersebut dalam konteks pembangunan nasional.
“Asuransi bukan sekadar memberikan ganti rugi, tetapi menjadi enabler pembangunan sektor energi yang aman, berkelanjutan, dan berdaya saing," paparnya.
Kalimat tersebut memperluas cara melihat industri asuransi. Perusahaan asuransi bukan hanya berada di belakang layar ketika terjadi kecelakaan, tetapi ikut menjadi bagian dari ekosistem yang memungkinkan investasi berisiko tinggi tetap dapat dilakukan.
Data pasar memperkuat gambaran tersebut.
Per Q3 2025, premi energi offshore mencapai Rp1,18 triliun, tumbuh 18% yoy. Sementara premi energi onshore mencapai Rp225 miliar, tumbuh 18,4% yoy.
Sebagai pembanding, pertumbuhan industri asuransi umum pada FY2025 tercatat 4,8%.
Artinya, kedua segmen energi tersebut tumbuh sekitar empat kali lipat dibandingkan pertumbuhan industri asuransi umum.
Ada setidaknya tiga faktor yang disebut dalam materi Tugu sebagai pendorongnya, yakni meningkatnya nilai proyek energi, aktivitas investasi yang terus berlangsung, dan perbaikan disiplin underwriting.
Pertumbuhan ini juga tidak hanya berbicara mengenai migas konvensional.
Perluasan investasi ke energi baru dan terbarukan menciptakan segmen risiko baru yang membutuhkan perlindungan.
Maka, tantangan industri asuransi ke depan bukan sekadar menyediakan lebih banyak polis. Tantangannya adalah memastikan kapasitas, keahlian, dan struktur reasuransi mampu mengikuti perubahan skala serta karakter risiko energi.
Di titik inilah kekuatan perusahaan asuransi mulai menjadi faktor yang tidak kalah penting dari produk polis itu sendiri.
Risiko energi membutuhkan kemampuan teknis yang tidak bisa dibangun secara instan.
Perusahaan asuransi perlu memahami karakter risiko upstream, midstream, downstream, hingga gas dan power. Di saat yang sama, perusahaan membutuhkan modal dan akses reasuransi agar dapat menangani risiko bernilai besar.
Tugu, misalnya, mencatat pengalaman di sektor energi sejak 1981. Materi yang dipaparkan juga mencantumkan rating AM Best A- (Excellent) dengan outlook stabil per Desember 2025, ekuitas Rp10,93 triliun, serta Risk-Based Capital 360,9% per 9M 2025.
Data tersebut penting bukan semata-mata untuk menunjukkan profil satu perusahaan.
Lebih jauh, data tersebut menggambarkan jenis fondasi yang dibutuhkan perusahaan asuransi ketika masuk ke segmen dengan risiko besar: pengalaman, permodalan, kemampuan teknis, dan kredibilitas yang memungkinkan akses terhadap pasar reasuransi.
Asuransi energi memiliki porsi sekitar 30% dari pendapatan premi Tugu. Semakin besar nilai pertanggungan, semakin penting pula kemampuan perusahaan untuk mengelola eksposur tersebut.
Berhubung industri energi terus berkembang, kebutuhan tersebut kemungkinan tidak berhenti pada minyak dan gas saja. Infrastruktur gas, pembangkit, proyek LNG, hingga energi terbarukan juga menghadirkan kebutuhan perlindungan dengan karakter masing-masing.
Kebutuhan terhadap kapasitas besar membuat tidak semua perusahaan asuransi memiliki kemampuan yang sama untuk masuk jauh ke sektor energi.
Berdasarkan Laporan AAUI Triwulan IV 2025 yang tercantum dalam materi Tugu, perusahaan tersebut berada pada posisi teratas di sejumlah lini bisnis yang berkaitan dengan energi.
Tugu tercatat berada di posisi:
Marine Hull: peringkat #1 dari 50 perusahaan;
Aviation: peringkat #1 dari 21 perusahaan;
Fire/Property: peringkat #2 dari 71 perusahaan;
Energy Offshore: peringkat #2 dari 8 perusahaan.
Peringkat tersebut menggunakan indikator Gross Premium Written per Class of Business.
Data tersebut perlu dibaca secara proporsional. Peringkat berdasarkan premi bruto tidak otomatis berarti sebuah perusahaan unggul dalam seluruh aspek pengelolaan risiko. Namun, posisi tersebut memberikan gambaran mengenai skala keterlibatan Tugu pada sejumlah lini bisnis yang memiliki hubungan dengan sektor energi.
Khusus Energy Offshore, jumlah pemain yang tercantum hanya delapan perusahaan. Hal ini menggambarkan bahwa segmen tersebut memiliki hambatan masuk yang relatif tinggi karena membutuhkan kapabilitas teknis, underwriting, dan kapasitas perlindungan yang memadai.
Dengan karakter risiko offshore yang kompleks, kemampuan masuk ke segmen tersebut tidak cukup hanya dengan memiliki produk asuransi. Perusahaan perlu memahami risiko dan memiliki dukungan kapasitas yang memadai.
Ada perbedaan antara perusahaan yang mampu menjual polis dengan perusahaan yang mampu menangani risiko energi bernilai besar secara berkelanjutan.
Setidaknya ada lima fondasi yang terlihat dari materi Tugu.
Pertama adalah pengalaman sektor energi. Pemahaman terhadap karakter risiko tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh modal.
Kedua adalah rating internasional. Rating menjadi salah satu bagian penting dalam membangun kredibilitas di pasar reasuransi global.
Ketiga adalah permodalan. Risiko besar membutuhkan fondasi finansial yang kuat.
Keempat adalah underwriting spesialis energi. Penilaian risiko migas membutuhkan pemahaman teknis mengenai upstream, midstream, downstream, gas, power, hingga proyek energi baru.
Kelima adalah risk engineering. Perusahaan asuransi perlu memahami risiko sebelum menentukan struktur perlindungan.
Dari kelima faktor tersebut terlihat bahwa kapasitas bukanlah satu angka tunggal.
Kapasitas merupakan hasil dari kombinasi antara modal, keahlian, pengalaman, kualitas underwriting, risk engineering, dan akses reasuransi.
Meskipun pembahasan utama berada pada industri minyak dan gas, kebutuhan perlindungan tidak berhenti pada sektor tersebut.
Materi Tugu juga mencantumkan pembangkit listrik, jaringan gas, panas bumi, dan energi baru sebagai bagian dari sektor energi yang membutuhkan pendekatan proteksi tersendiri.
Ini menjadi semakin relevan ketika investasi energi berkembang ke berbagai teknologi.
Setiap teknologi membawa profil risiko yang berbeda. Infrastruktur gas memiliki karakteristik berbeda dari kilang. Pembangkit memiliki risiko berbeda dari rig pengeboran. Proyek energi terbarukan juga memiliki eksposur yang berbeda dari fasilitas minyak konvensional.
Artinya, pertumbuhan sektor energi akan memperluas kebutuhan industri asuransi, tetapi sekaligus membuat pekerjaan underwriting menjadi semakin kompleks.
Risiko energi tidak lagi terbatas pada kebakaran atau kerusakan mesin.
Materi Tugu mencatat sejumlah risiko yang perlu diantisipasi, termasuk bencana alam, perubahan iklim, risiko siber, gangguan rantai pasok, dan dinamika geopolitik.
Perubahan ini penting karena satu fasilitas energi semakin terhubung dengan sistem yang lebih luas.
Sebuah gangguan pada satu titik dapat berdampak terhadap distribusi, produksi, pengangkutan, atau kegiatan bisnis lainnya. Sementara itu, faktor eksternal seperti cuaca ekstrem dan geopolitik berada di luar kendali langsung perusahaan.
Karena itu, pendekatan pengelolaan risiko juga perlu berkembang.
Asuransi tidak dapat menghilangkan risiko tersebut. Namun, mekanisme transfer risiko dapat membantu perusahaan mengelola konsekuensi finansialnya.
Ada kecenderungan melihat asuransi hanya dari berapa besar klaim yang dibayar setelah terjadi kerusakan.
Dalam industri energi, ukuran lain sama pentingnya: seberapa cepat operasi dapat dipulihkan?
Materi Tugu menempatkan business continuity sebagai salah satu fungsi utama asuransi migas.
Logikanya sederhana.
Jika sebuah fasilitas mengalami insiden, kerusakan aset adalah masalah pertama. Penghentian operasi menjadi masalah berikutnya.
Semakin lama operasi berhenti, semakin panjang pula dampak finansial yang harus ditanggung perusahaan.
Karena itu, struktur perlindungan harus memperhitungkan tidak hanya aset fisik, tetapi juga potensi gangguan terhadap bisnis.
Di sinilah perlindungan seperti Business Interruption menjadi relevan.
Perspektif ini juga menjelaskan mengapa asuransi dapat berhubungan dengan ketahanan energi. Pemulihan fasilitas yang lebih cepat membantu menjaga keberlangsungan kegiatan operasional dan, pada akhirnya, mendukung kesinambungan pasokan energi.
Pertumbuhan aktivitas energi menciptakan peluang sekaligus tantangan.
Peluangnya jelas: semakin besar investasi sektor energi, semakin besar pula kebutuhan perlindungan.
Namun, pertumbuhan tersebut menuntut industri asuransi melakukan investasi pada kapasitasnya sendiri.
Perusahaan membutuhkan tenaga underwriting yang memahami risiko energi. Mereka juga membutuhkan risk engineer, kemampuan valuasi, sistem klaim, permodalan, dan jaringan reasuransi.
Jika tidak, pertumbuhan aset energi justru dapat menciptakan kesenjangan antara kebutuhan perlindungan dan kapasitas yang tersedia.
Data pertumbuhan premi energi memperlihatkan arah kebutuhan tersebut. Ketika premi offshore dan onshore tumbuh sekitar 18% yoy, jauh di atas pertumbuhan industri asuransi umum sebesar 4,8%, industri asuransi menghadapi pasar yang berkembang sekaligus semakin kompleks.
Dengan demikian, pertumbuhan asuransi energi tidak seharusnya hanya dibaca sebagai peluang meningkatkan premi.
Lebih penting lagi, pertumbuhan tersebut menunjukkan kebutuhan untuk membangun kapasitas pengelolaan risiko yang mampu mengikuti ekspansi sektor energi.
Kembali ke persoalan awal: mengapa kapasitasnya harus sangat besar?
Jawabannya terletak pada skala kerugian yang mungkin terjadi.
Satu perusahaan asuransi dapat memiliki modal yang kuat, tetapi bukan berarti seluruh risiko sebuah proyek energi harus berada di neracanya.
Melalui reasuransi, sebagian risiko dapat dibagi ke perusahaan reasuransi lainnya. Ketika jaringan tersebut mencakup pasar internasional, kapasitas yang tersedia untuk industri energi dapat menjadi lebih luas.
Inilah alasan rating dan kredibilitas perusahaan asuransi menjadi penting. Dalam konteks asuransi energi, rating juga berkaitan dengan kemampuan membangun kepercayaan dan mengakses ekosistem reasuransi yang dibutuhkan untuk menangani risiko bernilai besar.
Jawabannya kembali kepada karakter dasar sektor migas.
Nilai asetnya besar. Investasinya besar. Teknologinya kompleks. Risiko operasionalnya tinggi. Beberapa insiden dapat menimbulkan kerugian yang bukan hanya berupa kerusakan aset, tetapi juga gangguan operasi dan kewajiban terhadap pihak lain.
Karena itu, perusahaan membutuhkan mekanisme untuk mengalihkan sebagian risiko finansial tersebut.
Perusahaan asuransi kemudian menjadi salah satu lapisan dalam mekanisme tersebut. Tetapi karena nilai risikonya dapat sangat besar, perusahaan asuransi juga membutuhkan dukungan reasuransi.
Maka rantainya menjadi:
pemilik aset → asuransi → reasuransi → pasar reasuransi domestik dan internasional.
Semakin besar dan kompleks proyek energi, semakin penting pula kemampuan seluruh rantai tersebut.
Pada akhirnya, kapasitas asuransi bukan sekadar angka pertanggungan dalam polis. Kapasitas adalah kemampuan sebuah ekosistem untuk menyerap, membagi, dan mengelola risiko ketika skenario terburuk benar-benar terjadi.
Itulah alasan industri migas membutuhkan perusahaan asuransi yang tidak hanya mampu menerbitkan polis, tetapi juga memiliki permodalan, keahlian teknis, risk engineering, underwriting, dan akses reasuransi yang kuat.
Carolina Ledy Babbyana merangkumnya dengan menempatkan asuransi sebagai bagian dari ekosistem energi, bukan sekadar produk finansial.
“Asuransi menjadi fondasi pengelolaan risiko untuk mendukung ketahanan energi, investasi, dan pembangunan nasional sejalan dengan Asta Cita.”
Dalam konteks tersebut, keberadaan asuransi yang kuat bukan hanya soal melindungi neraca perusahaan migas. Perlindungan tersebut juga menjadi salah satu mekanisme untuk menjaga agar investasi energi tetap dapat berjalan dan pemulihan dapat dilakukan ketika risiko benar-benar terjadi.
Industri migas membutuhkan kapasitas asuransi besar karena nilai aset dan investasinya tinggi, sedangkan risiko yang dihadapi dapat menghasilkan kerugian masif. Kebakaran, ledakan, blowout, kerusakan fasilitas, pencemaran, hingga gangguan operasi dapat menimbulkan lebih dari satu jenis kerugian. Karena itu, perusahaan membutuhkan perlindungan yang mampu mengelola risiko aset sekaligus konsekuensi finansial dari gangguan bisnis.
Asuransi migas berfungsi sebagai mekanisme transfer risiko finansial dari pemilik aset kepada perusahaan asuransi. Perlindungan dapat mencakup kerusakan properti, kerusakan mesin, business interruption, tanggung jawab pihak ketiga, hingga risiko khusus dalam kegiatan pengeboran dan produksi. Dalam sektor energi, asuransi juga mendukung keberlangsungan operasi dan proses pemulihan setelah terjadi insiden.
Reasuransi memungkinkan perusahaan asuransi mengalihkan sebagian eksposur yang diterimanya kepada perusahaan reasuransi. Mekanisme ini penting karena nilai risiko sektor energi dapat sangat besar. Sebagian risiko dapat ditempatkan pada pasar reasuransi domestik maupun internasional sehingga beban risiko tidak sepenuhnya berada pada satu perusahaan asuransi.
Risiko offshore umumnya lebih kompleks karena fasilitas berada di lingkungan laut, membutuhkan investasi dan teknologi besar, serta menghadapi cuaca ekstrem dan keterbatasan akses darurat. Sementara itu, fasilitas onshore memiliki aksesibilitas yang relatif lebih baik, tetapi tetap menghadapi risiko seperti kebakaran, ledakan, pencemaran, kerusakan mesin, dan gangguan operasi.
Perlindungan asuransi energi dapat mencakup aset dan aktivitas dari hulu hingga hilir. Di sektor upstream terdapat rig, sumur, anjungan dan fasilitas produksi. Midstream mencakup kapal, pipa, terminal dan depot. Downstream dapat mencakup kilang, kompleks petrokimia dan depot bahan bakar. Jenis perlindungan dapat meliputi Property Damage, Business Interruption, Marine Hull & Machinery, Marine Cargo, Machinery Breakdown, dan Third Party Liability.
Rating menjadi salah satu faktor yang mendukung kredibilitas perusahaan asuransi dan aksesnya terhadap pasar reasuransi internasional. Dalam sektor energi yang memiliki risiko bernilai sangat besar, perusahaan asuransi membutuhkan dukungan kapasitas yang lebih luas. Karena itu, kekuatan finansial, rating, pengalaman underwriting, dan jaringan reasuransi menjadi bagian penting dari kemampuan perusahaan menangani risiko energi.
Tidak. Asuransi tidak menghilangkan kemungkinan kebakaran, ledakan, kerusakan mesin, bencana alam, atau gangguan operasi. Fungsi utamanya adalah mengalihkan sebagian konsekuensi finansial dari risiko yang terjadi sesuai cakupan polis. Karena itu, asuransi tetap harus berjalan bersama mitigasi risiko, risk engineering, pengawasan operasional, dan prosedur keselamatan.
Lombok Tengah (ANTARA) - Direktur Utama Perum LKBN ANTARA Benny Siga Butarbutar mengatakan media ANTARA sebagai kantor berita nasional tetap berkomitmen memperkuat promosi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika dalam mewujudkan pariwisata olahraga yang berkelanjutan.
"Tugas ANTARA harus tetap menghasilkan berita yang berdampak untuk pengembangan Mandalika," kata Benny saat mengunjungi Bukit 360 di Sirkuit Mandalika di Lombok Tengah, Minggu.
Kunjungan Direktur Utama LKBN ANTARA di Sirkuit Mandalika itu diterima oleh Direktur Operasi ITDC Troy Warokka dan sejumlah jajaran.
"Mandalika telah ditetapkan sebagai destinasi pariwisata super prioritas oleh Pemerintah Indonesia dan dikenal secara nasional maupun internasional," katanya
Oleh karena itu berita atau informasi tentang Mandalika, lanjutnya, harus diperlihatkan lebih banyak lagi hal-hal yang menjadi keunggulan di Mandalika, tidak saja ajang balap maupun hanya sirkuitnya.
"Tetapi budaya lokal dan keindahan potensi alam di destinasi wisata lingkar Mandalika harus terus dipromosi," kata Benny
Di Sirkuit Mandalika, kata dia, telah dilaksanakan berbagai ajang nasional maupun internasional dengan digelarnya ajang MotoGP Indonesia dan telah memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat.
"ANTARA harus menjadikan Mandalika sebagai narasumber informasi yang berdampak bagi pengembangan pariwisata di Mandalika," katanya.
Ia mengatakan Sirkuit Mandalika telah menghasilkan pembalap lokal yang mampu bersaing di tingkat Internasional dan menjadi pahlawan nasional yang membawa nama besar Indonesia di tingkat Internasional.
"Sekarang telah ada pembalap Indonesia yang bersaing di event internasional," kata Benny.
Oleh karena itu kemampuan para pembalap lokal itu harus tetap dimunculkan, karena mereka tidak hanya berjuang untuk bertanding, tetapi mereka juga membawa nama baik Indonesia.
"Artinya generasi muda Indonesia telah mampu bersaing ditingkat Internasional," kata Benny.
Sementara itu Direktur Operasi ITDC Troy Warokka mengatakan kolaborasi semua pihak sangat penting dalam mewujudkan pariwisata berkelanjutan di Mandalika, termasuk peran media dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat.
"Peran media sangat dalam memperkuat promosi pariwisata di Mandalika," katanya.
Selain peran media, kata dia, diharapkan juga dukungan dari masyarakat, sehingga dalam pengembangan Mandalika tetap diprioritaskan masyarakat lokal.
"Kami harus hadir bagaimana masyarakat itu tetap dilibatkan," katanya.
Ia mengatakan aset maupun infrastruktur yang dibangun dalam mengembangkan pariwisata itu ada di daerah, sehingga tenaga kerja yang dilibatkan itu tetap warga lokal.
"Dalam ajang MotoGP Indonesia saja sebanyak 3.000 warga lokal yang dilibatkan. Artinya event yang digelar memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat," katanya.
Pewarta: Akhyar Rosidi
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – PT Kereta Api Indonesia (KAI) mencatat 14.890 barang temuan di berbagai wilayah operasional dengan estimasi nilai mencapai sekitar Rp10,84 miliar sepanjang Januari hingga Juli 2026. Dari jumlah tersebut, sebanyak 10.795 merupakan barang kategori biasa, 3.371 barang berharga, dan 724 makanan.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, meningkatnya mobilitas masyarakat pada akhir pekan perlu diiringi perhatian terhadap barang bawaan, terutama bagi pelanggan yang bepergian bersama keluarga atau membawa beberapa barang selama perjalanan.
Dia mengingatkan penumpang untuk kembali memeriksa seluruh barang bawaan sebelum turun dari rangkaian maupun meninggalkan area stasiun.
“Melihat kembali rak bagasi, tempat duduk, serta area di sekitar pelanggan menjadi langkah sederhana agar perjalanan berakhir dengan nyaman,” ujar Anne dalam keterangan tertulis di Jakarta, Ahad (9/8/2026).
Anne mengatakan, barang berharga yang diamankan petugas antara lain handphone, tablet, laptop, perhiasan, uang tunai, serta perangkat elektronik dan barang pribadi bernilai lainnya.
Beragam barang tersebut ditemukan di dalam rangkaian maupun lingkungan stasiun, kemudian dicatat dan diamankan melalui layanan Lost and Found KAI.
“Data KAI menunjukkan pada Juli 2026 saja terdapat tambahan 2.234 barang temuan, termasuk 502 barang berharga, dengan estimasi nilai sekitar Rp1,98 miliar,” ucap Anne.
Menurut Anne, catatan tersebut menjadi pengingat penting bagi pelanggan, terutama ketika turun dalam kondisi stasiun yang ramai. Pada saat yang sama, petugas KAI terus membantu mempertemukan barang temuan dengan pemiliknya.
“Hingga akhir Juli 2026, sebanyak 7.066 barang telah kembali kepada pemiliknya setelah melalui proses pencatatan dan verifikasi,” lanjut Anne.
Anne mengimbau penumpang segera melapor kepada Customer Service, Passenger Service, kondektur, atau petugas keamanan jika menyadari barang tertinggal.
Ia mengatakan, informasi seperti nama atau nomor KA, relasi perjalanan, nomor kereta dan tempat duduk, waktu perjalanan, serta ciri-ciri barang akan membantu proses penelusuran.
“Petugas kemudian akan berkoordinasi dengan petugas di atas rangkaian dan stasiun terkait untuk melakukan pencarian,” kata Anne.
Minggu, 9 Agustus 2026 - 16:00 WIB
VIVA – Pedangdut Dewi Perssik kembali menjadi sorotan setelah dirinya diserang sejumlah warganet yang diduga merupakan pendukung Sarwendah. Persoalan tersebut bermula dari sebuah unggahan Dewi Perssik di media sosial yang kemudian dikaitkan dengan polemik rumah tangga Sarwendah dan Ruben Onsu.
Baca Juga
Dewi Perssik diketahui membuat unggahan di Threads dengan kalimat yang terdengar cukup emosional. Ia menuliskan pesan yang belakangan justru memancing spekulasi di kalangan pengguna media sosial.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
"Sebenarnya pingin ngomong langsung… tp suara hati yg sering ngomong,” tulis Dewi Perssik, dikutip Minggu 9 Agustus 2026.
Baca Juga
Unggahan tersebut ternyata bukan ditujukan untuk membahas persoalan pribadi orang lain. Dewi Perssik menjelaskan bahwa tulisan tersebut berkaitan dengan proyek series yang sedang ia jalani, yakni Suara Hati.
Namun, penjelasan tersebut rupanya tidak serta-merta menghentikan spekulasi. Sejumlah oknum yang mengaku sebagai penggemar Sarwendah justru mengaitkan unggahan Dewi Perssik dengan konflik yang tengah terjadi antara Sarwendah dan Ruben Onsu.
Baca Juga
Dewi Perssik bahkan dituding memiliki keberpihakan terhadap salah satu pihak dalam persoalan tersebut. Tuduhan itu membuat pelantun sejumlah lagu dangdut tersebut merasa tidak terima.
Dalam sebuah video yang diunggah akun TikTok @dramahalu, Dewi Perssik terlihat memberikan penjelasan saat melakukan siaran langsung. Ia menegaskan bahwa kalimat yang ditulisnya di media sosial sama sekali tidak berkaitan dengan Sarwendah.
"Hanya gara-gara caption 'gue enggak bisa ngomong tapi suara hati yang bicara,'" kata Dewi saat live TikTok.
Dewi Perssik kemudian mengungkapkan bahwa dirinya justru mendapat berbagai serangan verbal setelah unggahan tersebut beredar. Ia merasa heran karena sebuah materi promosi pekerjaan bisa ditarik menjadi persoalan personal.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
"Langsung gue diserang sama -yang katanya, dibilang buzzer enggak mau, dibilang babu pasti enggak mau, dibilang se**n kali ya?' tiba-tiba nyerang gue. Katanya 'saya bukan buzzer, saya pembela wanita,' lah yang lo serang ini wanita," imbuhnya.
Kemarahannya semakin terlihat ketika nama Sarwendah terus dibawa-bawa oleh pihak yang menyerangnya. Dewi Perssik mempertanyakan alasan dirinya harus ikut membicarakan kehidupan pribadi Sarwendah.
Halaman Selanjutnya
"Ngomongin Sarwendah ngomongin Sarwendah, Sarwendah Sarkiwi. Emang dia siapa saya harus omongin?" ujarnya.
Jakarta (ANTARA) - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mempercepat intervensi pertanian di Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui penguatan pangan dan pengembangan perkebunan jangka panjang guna menekan kemiskinan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
"Di sini kemiskinan masih tinggi. Solusi tercepatnya adalah pertanian. Karena itu, kita kerjakan yang jangka pendek dan jangka panjang sekaligus," kata Mentan dalam kunjungan kerja di Alor, sebagaimana terkonfirmasi di Jakarta, Sabtu.
Mentan melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur, setelah mendengar langsung aspirasi mahasiswa asal Alor, Adriano Padama, saat mengisi kuliah umum di Universitas Diponegoro (Undip), Semarang pada Kamis (6/8).
Dalam kesempatan tersebut, Adriano menyampaikan kondisi masyarakat Alor, mulai dari persoalan harga dan distribusi beras hingga kebutuhan dukungan pemerintah untuk mengembangkan sektor pertanian.
Aspirasi tersebut kemudian mendorong Mentan Amran untuk tidak berhenti pada respons dari Jakarta, tetapi turun langsung melihat kondisi masyarakat dan potensi pertanian Alor.
Mentan mengatakan, dirinya sengaja membatalkan agenda rapat pimpinan karena ingin memastikan persoalan yang disampaikan mahasiswa tersebut dapat segera ditindaklanjuti di lapangan.
“Kami langsung turun. Kami batalkan acara rapat pimpinan di Jakarta dan langsung terbang ke Alor. Kami sudah lihat, semua permintaan kami penuhi di bawah naungan Kementerian Pertanian,” kata Mentan.
Menurut Mentan, aspirasi Adriano menunjukkan bahwa suara mahasiswa dapat menjadi pengingat penting bagi pemerintah mengenai persoalan nyata yang dihadapi masyarakat di daerah.
“Dia membawa aspirasi rakyat, bukan kepentingan pribadi. Saya bangga dengan Adriano, ini putra terbaik NTT. Aspirasi seperti ini harus kita kawal karena mereka membaca denyut nadi masyarakat, mengetahui apa yang benar-benar dibutuhkan rakyat,” tegas Amran.
Setibanya di Alor, Mentan langsung meninjau sejumlah lokasi dan berdialog dengan pemerintah daerah serta masyarakat. Dari peninjauan tersebut, ia menegaskan pengentasan kemiskinan menjadi salah satu sasaran utama intervensi Kementerian Pertanian di Alor.
Mentan melihat sektor pertanian memiliki potensi besar untuk menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat Alor.
Karena itu, pemerintah menyiapkan strategi yang berjalan secara bersamaan, mulai dari pemenuhan kebutuhan pangan dalam jangka pendek hingga pengembangan komoditas perkebunan yang dapat menjadi sumber pendapatan masyarakat dalam jangka panjang.
“Beras kita amankan, benih kita berikan, alsintan (alat dan mesin pertanian) dan pompa kita siapkan. Setelah itu kita bangun tanaman jangka panjang seperti kelapa, kakao, dan mete,” kata Amran.
Untuk kebutuhan pangan, Mentan memastikan ketersediaan beras di Alor harus aman dan masyarakat memperoleh harga yang terjangkau. Ia juga meminta Bulog memastikan stok tetap tersedia serta melakukan operasi pasar apabila dibutuhkan.
“Beras sudah aman, sudah ada di gudang. Harganya harus sama dengan Jakarta, sekitar Rp13 ribu. Jangan sampai ada lagi masyarakat yang membeli beras dengan harga Rp25 ribu atau Rp30 ribu. Kalau dibutuhkan, Bulog lakukan operasi pasar,” tegasnya.
Selain beras, Kementerian Pertanian menyiapkan dukungan untuk percepatan produksi pangan melalui benih padi dan jagung, alat dan mesin pertanian, serta pompa untuk mendukung lahan yang memiliki sumber air.
Dalam kunjungannya, Mentan bahkan menambah sejumlah dukungan alsintan dan pompa berdasarkan kebutuhan yang disampaikan pemerintah daerah dan masyarakat.
Untuk jangka panjang, Amran mendorong pengembangan komoditas yang dinilai sesuai dengan kondisi agroklimat Alor, terutama kelapa, kakao, dan jambu mete. Pengembangan komoditas tersebut diharapkan menjadi sumber pendapatan berkelanjutan bagi masyarakat karena dapat dipanen dalam jangka panjang.
“Kita targetkan tanaman minimal 10 ribu hektare di Alor. Kalau satu hektare dikelola satu keluarga, berarti ada 10 ribu keluarga yang mendapat sumber penghasilan. Kalau satu keluarga empat orang, sekitar 40 ribu orang bisa merasakan manfaatnya. Karena itu, kita harus kerja sungguh-sungguh agar kemiskinan di Alor bisa ditekan,” ujar Amran.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Mentan percepat intervensi pertanian untuk tekan kemiskinan di Alor
Pewarta: Muhammad Harianto
Editor : Debby H. Mano
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Jakarta (ANTARA) - Manajer Chelsea Xabi Alonso menyebut penggemar Chelsea menunjukkan dukungan yang menakjubkan dalam laga pramusim melawan AC Milan di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta.
"Dukungan mereka (penggemar Chelsea) sangat fantastis. Sorak-sorai terdengar setelah pertandingan, bahkan sebelum kick-off. Ujung tribun kami sangat berisik," kata Xabi Alonso dalam konferensi pers seusai laga di SUGBK, Jakarta, Sabtu.
Tidak hanya The Blue Army, sebutan untuk penggemar Chelsea, pendukung AC Milan, menurutnya, juga turut memeriahkan pertandingan. Antusiasme kedua kelompok suporter tersebut menciptakan atmosfer sepak bola yang luar biasa dan membuat laga di Jakarta berlangsung semakin semarak.
Alonso pun menyampaikan terima kasih kepada seluruh penggemar yang telah menghadirkan atmosfer sepak bola yang menurutnya sangat layak dan menyenangkan. Ia menilai dukungan tersebut menjadi pengalaman berharga bagi para pemain Chelsea selama menjalani rangkaian tur pramusim.
"Saya senang orang-orang kami, pendukung kami, bisa menikmati pertandingan tersebut," katanya.
Dalam laga bertajuk Indonesia Super Cup 2026 tersebut, Chelsea berhasil membungkam AC Milan dengan skor 3-0. Tiga gol The Blues masing-masing dicetak oleh Joao Pedro yang menyumbangkan dua gol dan satu gol Moses Caicedo.
Kemenangan atas AC Milan menjadi kemenangan kedua Chelsea dalam empat pertandingan tur pramusim mereka di Asia dan Australia. Chelsea mengawali tur dengan mengalahkan Western Sydney dengan skor 6-4, kemudian menelan kekalahan dari Tottenham Hotspur 1-2 dan Juventus 0-1.
Hasil positif atas AC Milan sekaligus menjadi modal penting bagi Chelsea sebelum melanjutkan perjalanan mereka dalam tur pramusim. Selanjutnya, Chelsea akan bertolak ke Malaysia untuk menghadapi klub papan atas Malaysia, Johor Darul Ta'zim (JDT), pada Minggu (9/8).
Susunan pemain Chelsea dan AC Milan:
Chelsea (4-2-3-1): Robert Sanchez (GK); Marco Palestra, Wes Fofana, Josh Acheampong, Jorrel Hato, Moises Caicedo, Romeo Lavia, Pedro Neto, Cole Palmer, Joao Pedro, Danny Welbeck.
Pelatih: Xabi Alonso.
AC Milan (3-4-2-1): Lorenzo Torriani (GK); Filippo Terracciano, Koni De Winter, Strahinja Pavlovic, Samuel Chukwueze, Luka Modric, Christian Comotto, Pervis Estupinan, Ruben Loftus-Cheek, Rafael Leao, Francesco Camarda.
Pelatih: Ruben Amorim.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Xabi Alonso sebut dukungan penggemar Chelsea menakjubkan di GBK
Pewarta: Aloysius Lewokeda
Editor : Debby H. Mano
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Jakarta (ANTARA) - Pelatih AC Milan Ruben Amorim mengagumi dukungan dari penggemar AC Milan di Indonesia selama tim tersebut menjalani laga pramusim melawan Chelsea di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta.
"Para penggemar di sini sangat luar biasa. Dukungan yang mereka berikan kepada kami selama tiga hari ini sungguh tidak bisa dipercaya," kata Ruben Amorim dalam konferensi pers usai laga di SUGBK, Jakarta, Sabtu.
Meskipun, Milan menelan kekalahan telak 0-3 dari Chelsea dalam laga pramusim bertajuk Indonesia Super Cup 2026 itu, Amorim mengakui dukungan yang diberikan para penggemar berarti sangat besar bagi Rossoneri.
Dukungan diberikan, kata dia, tidak hanya saat pertandingan berlangsung, namun sejak tim tersebut tiba di Jakarta pada Kamis (6/8).
Amorim mengatakan memang sangat ingin memenangkan pertandingan tersebut untuk para penggemar, tapi hasil yang diraih tidak sesuai harapan.
Meski demikian, kata dia, hal yang penting adalah bagaimana mempersiapkan tim dan melihat kemampuan semua pemain.
"Tentu saja kami tidak bermain dengan sangat baik, ada banyak hal yang harus kami perbaiki. Tapi, itu adalah hal yang normal," katanya.
Pelatih asal Portugal itu mengaku telah mengantongi banyak informasi yang bagus dari pertandingan di Jakarta untuk menyiapkan tim yang berkompetisi di Serie A itu pada musim depan.
Menurutnya, banyak hal yang tidak lakukan dengan baik dari para pemain sehingga harus dibenahi sebelum musim kompetisi 2026/2027 dimulai.
"Kami akan kembali ke Milan dan kami akan melatih hal-hal yang perlu kami kerjakan tersebut," katanya.
Susunan Pemain Chelsea vs AC Milan:
Chelsea (4-2-3-1): Robert Sanchez (GK); Marco Palestra, Wes Fofana, Josh Acheampong, Jorrel Hato, Moises Caicedo, Romeo Lavia, Pedro Neto, Cole Palmer, Joao Pedro, Danny Welbeck.
Pelatih: Xabi Alonso.
AC Milan (3-4-2-1): Lorenzo Torriani (GK); Filippo Terracciano, Koni De Winter, Strahinja Pavlovic, Samuel Chukwueze, Luka Modric, Christian Comotto, Pervis Estupinan, Ruben Loftus-Cheek, Rafael Leao, Francesco Camarda.
Pelatih: Ruben Amorim.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Ruben Amorim kagumi dukungan penggemar AC Milan di Indonesia
Pewarta: Aloysius Lewokeda
Editor : Debby H. Mano
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.