YKAN libatkan 22 petambak di Kabupaten Berau realisasikan ekonomi biru - ANTARA News Kalimantan Timur

calendar_today 06.08.2026 - person  - timer ~

Samarinda, Kaltim (ANTARA) - Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) melibatkan 22 petambak di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, dalam merealisasikan ekonomi biru program dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, sebagai langkah menjaga keseimbangan antara ekologi dan ekonomi.

"Pengelolaan tambak ramah lingkungan dengan pendekatan Shrimp Carbon Aquaculture (SECURE) di Berau berhasil menaikkan panen rata-rata 15 persen, ketimbang tambak yang sebelumnya tidak ditanami mangrove," ujar Direktur Program Kelautan YKAN Muhammad Ilman dihubungi dari Samarinda, Kamis.

Saat ini, katanya, implementasi SECURE di Berau telah melibatkan 22 pembudi daya ikan yang mengelola sekitar 240 hektare tambak, pengembangan ekonomi yang diintegrasikan dengan restorasi mangrove seluas 87 hektare.

"Pengalaman di Berau menunjukkan bahwa produktivitas tambak dapat meningkat melalui perbaikan desain tambak, pengelolaan hidrologi dan restorasi mangrove secara terpadu," kata Ilman.

Sebagai langkah menguatkan pengembangan ekonomi biru, lanjutnya, Konsorsium Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM)-KONEKSI, bahkan telah menyerahkan dan memaparkan risalah kebijakan tentang Kerangka Akuakultur Berkelanjutan guna mendukung implementasi ekonomi biru Indonesia kepada Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, pada 28 Juli 2026.

"Konsorsium RIIM-KONEKSI ini berasal dari lintas sektor, meliputi Institut Teknologi Bandung (ITB), Monash University Australia, Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) dan YKAN," kata Ilman.

Risalah kebijakan itu disusun oleh konsorsium melalui program kemitraan Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Australia. Dokumen ini disiapkan sebagai masukan bagi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dalam memperkuat kebijakan akuakultur yang produktif dan berkelanjutan.

Penyusunan risalah kebijakan dilatarbelakangi kebutuhan untuk menyeimbangkan peningkatan produksi udang nasional dengan upaya konservasi mangrove, terutama pada kawasan tambak air payau ekstensif yang selama ini menghadapi penurunan produktivitas sekaligus tekanan terhadap ekosistem pesisir.

Dalam hal ini, Konsorsium RIIM-KONEKSI mengembangkan Kerangka Akuakultur Berkelanjutan (Sustainable Aquaculture Framework-SAF) yang melibatkan peneliti dari ITB, Monash University, BRIN, dan YKAN, dengan dukungan Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Australia.

"Kerangka ini diimplementasikan melalui program Integrated Sustainable Mangrove-Carbon Aquaculture (SMACA) di Kabupaten Berau pada 2025–2027, sebagai pengembangan dari program SECURE yang telah dijalankan YKAN sejak 2022," katanya lagi.

SAF merupakan langkah yang mengintegrasikan empat dimensi keberlanjutan, yakni biofisik dan iklim, keanekaragaman hayati, sosial-ekonomi, serta tata kelola.

"Melalui pendekatan ini, kawasan budidaya udang dan restorasi mangrove dirancang dalam satu lanskap tambak terpadu yang saling mendukung, guna meningkatkan produktivitas tambak, memperbaiki kualitas lingkungan, sekaligus mempertahankan fungsi mangrove sebagai habitat pesisir, pelindung pantai dan penyerap karbon biru," ucapnya.

Pewarta: M.Ghofar
Editor : Rahmad

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.