Mataram (ANTARA) - Warga Nusa Tenggara Barat (NTB) yang merasakan suhu udara lebih panas dari biasanya harus mengubah kebiasaan dan menyesuaikan aktivitas untuk mengurangi rasa panas agar badan tetap bugar.
Salah seorang warga Mataram bernama Dani Rizki mengatakan dirinya harus menyiram halaman dua kali sehari untuk membantu mengurangi hawa panas.
"Sekarang lebih sering siram halaman supaya udara tidak terlalu panas," ujar dia saat ditemui di Mataram, NTB, Kamis.
Dani menuturkan ia sebelumnya hanya menyiram halaman sekali sehari, yakni sekitar pukul 11.00 WITA. Namun, belakangan ini kegiatan tersebut ditambah menjadi dua kali sehari, yaitu pukul 11.00 WITA dan 17.00 WITA.
Selain itu, ia mengaku mesin pendingin udara atau air conditioner (AC) di kantornya terasa kurang dingin ketika cuaca sedang panas.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan suhu udara di wilayah NTB hari ini berada pada rentang 24 sampai 36 derajat Celcius.
Kepala Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid (ZAM) Lombok, Tri Widiarto, menjelaskan suhu udara yang terasa lebih panas dipengaruhi sejumlah faktor, antara lain posisi semu Matahari yang berada di belahan bumi selatan.
Gerak semu Matahari merupakan pergerakan yang seolah berpindah posisi dari utara ke selatan dan sebaliknya. Fenomena setiap tahun itu terjadi lantaran Bumi mengelilingi Matahari dengan sumbu rotasi yang miring sekitar 23,5 derajat.
Faktor lain yang turut memicu peningkatan suhu udara saat ini adalah tutupan awan yang minim selama musim kemarau, tingkat kelembapan relatif, serta pengaruh fenomena El Nino yang membuat atmosfer lebih kering.
Baca juga: BMKG peringatkan potensi hujan dan suhu panas
Tutupan awan yang terbatas itu memungkinkan radiasi matahari mencapai permukaan bumi secara lebih maksimal sehingga meningkatkan paparan panas, terutama saat siang hari.
Tri mengimbau masyarakat untuk selalu menjaga kecukupan cairan tubuh dan membatasi paparan langsung sinar matahari saat beraktivitas di luar ruangan, terutama saat siang hari ketika cuaca terasa terik.
Pewarta : Sugiharto Purnama
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026