Wall Street Memerah, Saham AI Berguguran dan Ada Tekanan Inflasi AS - Bursa Katadata.co.id

calendar_today 14.10.2026 - person  - timer ~

Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat ditutup turun pada perdagangan Kamis (15/10). Pelemahan terjadi karena tekanan dari saham bidang kecerdasan buatan atau AI dan data inflasi konsumen September yang lebih tinggi dari perkiraan.

Indeks S&P 500 turun 1,11% dan ditutup di level 7.718,94. Sementara itu, Nasdaq Composite merosot 1,88% ke level 26.692,87. Dow Jones Industrial Average turun 48,62 poin atau 0,09% menjadi 51.621,48. 

Sementara itu, indeks harga konsumen (CPI) naik 0,6% pada September dibandingkan bulan sebelumnya (month to month/mtm) dan meningkat 3,7% secara tahunan (year on year/yoy). Kenaikan bulanan tersebut sesuai dengan ekspektasi. Namun, kenaikan tahunan lebih tinggi dari perkiraan ekonom yang disurvei Dow Jones, yakni sebesar 3,6%.

Di luar harga pangan dan energi, inflasi inti atau core CPI masing-masing naik 0,3% mtm dan 2,6% yoy. Kedua angka tersebut juga sedikit lebih tinggi dibandingkan perkiraan ekonom, yakni masing-masing 0,2% dan 2,5%.

"Laporan ini membuat kemungkinan langkah Federal Reserve (The Fed) pada Desember menjadi sangat terbuka," kata Kepala Strategi Pasar Osaic Philip Blancato dikutip dari CNBC, Kamis (16/10). 

Ia memperkirakan inflasi inti kemungkinan mencapai 3% tahun depan, mengingat dampak kenaikan harga minyak.

Laporan tersebut dirilis ketika harga minyak masih bertahan tinggi dan konsumen harus membayar lebih mahal untuk bensin. Menurut AAA, harga bensin rata-rata mencapai US$ 4,33 per galon, dibandingkan sekitar US$ 3,08 per galon pada periode yang sama tahun lalu.

Pekan lalu, Presiden AS Donald Trump mengumumkan pelonggaran sementara terhadap pembatasan ekspor bahan bakar diesel Rusia. Namun, para analis menilai kebijakan tersebut tidak akan banyak membantu menurunkan harga bahan bakar bagi pengemudi truk dan petani.

Harga minyak AS naik pada perdagangan Rabu. Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) ditutup menguat 1,01% menjadi US$ 95,09 per barel.

Kendati demikian, Blancato tidak terlalu mengkhawatirkan pasar saham maupun obligasi karena ia menilai kenaikan inflasi terbaru hanya bersifat sementara. 

"Saya pikir sebagian besar dampak ini sudah diperhitungkan oleh pasar," ujarnya.

Selain kekhawatiran terhadap inflasi, investor menyoroti perusahaan teknologi di luar kelompok Magnificent Seven yang dinilai menggunakan terlalu banyak utang untuk mendorong ledakan investasi AI. Saham CoreWeave anjlok lebih dari 15%, sedangkan saham perusahaan lain, seperti Oracle, turun hampir 9%.

Saham-saham produsen cip juga memperpanjang penurunannya. Micron Technology, yang telah merosot lebih dari 3% pada perdagangan sebelumnya, kembali turun 4% pada Rabu. Advanced Micro Devices dan Sandisk masing-masing melemah lebih dari 5%, sedangkan Intel turun 4%.

Di luar sektor teknologi, saham Bank of America turun hampir 5% setelah pendapatan perusahaan perbankan tersebut pada kuartal III tidak memenuhi ekspektasi pasar.

Bank of America juga menghadapi sanksi federal senilai lebih dari US$ 1,2 miliar. Regulator menyatakan bank tersebut gagal melaporkan transaksi mencurigakan dengan nilai lebih dari US$ 5 miliar.

Sementara itu, Morgan Stanley membukukan hasil keuangan kuartalan yang melampaui ekspektasi. Namun, sahamnya tetap ditutup melemah hampir 3% pada akhir perdagangan.