Wali Kota Banda Aceh terima IMT-GT Green City Award, raih silver untuk pengelolaan sampah - ANTARA News Aceh

calendar_today 10.09.2026 - person  - timer ~

Banda Aceh (ANTARA) - Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal menerima penghargaan 1st IMT-GT Green City Award kategori Solid Waste Management – Silver Award, dalam rangkaian Gala Dinner 32nd IMT-GT Ministerial Meeting and Related Meetings, di Ballroom JW Marriott Hotel Medan, Rabu malam (9/9).

Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Menteri Ekonomi Malaysia, HE Akmal Nasrullah bin Mohd Nasir, kepada Wali Kota Banda Aceh.

Dalam kategori Solid Waste Management, penghargaan diberikan kepada tiga daerah, yakni Manjung Municipality, Malaysia, sebagai Gold Award; Banda Aceh City, Indonesia, sebagai Silver Award; serta Pekanbaru City, Indonesia, sebagai Bronze Award.

Baca juga: Aceh tawarkan proyek strategis di IMT-GT Aceh Business Forum

Capaian tersebut menjadi bentuk apresiasi atas komitmen dan upaya Kota Banda Aceh dalam pengelolaan persampahan serta pembangunan kota yang berorientasi pada keberlanjutan lingkungan.

Malam penganugerahan tersebut merupakan bagian dari 1st IMT-GT Green City Award Ceremony, yang digelar bersamaan dengan Gala Dinner Pertemuan Menteri IMT-GT ke-32.

Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal menyampaikan penghargaan tersebut bukan sekedar pengakuan, tetapi menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kualitas pengelolaan lingkungan dan persampahan di Kota Banda Aceh.

“Penghargaan ini menjadi kebanggaan sekaligus motivasi bagi kami untuk terus melakukan pembenahan. Pengelolaan sampah merupakan persoalan bersama yang membutuhkan keterlibatan pemerintah, masyarakat, dunia usaha, komunitas dan seluruh pemangku kepentingan,” kata Illiza.

Ia menegaskan bahwa predikat Silver Award harus menjadi pemacu bagi Banda Aceh untuk meningkatkan kualitas pengelolaan persampahan ke depan.

“Kita tidak boleh berhenti pada penghargaan. Justru ini menjadi tantangan bagi kita untuk bekerja lebih baik dan meningkatkan capaian pada masa yang akan datang,” ujarnya.

Illiza juga menekankan pentingnya semangat Banda Aceh Kolaborasi dalam menjawab berbagai persoalan perkotaan, termasuk persoalan lingkungan dan persampahan.

“Persoalan kota tidak mungkin diselesaikan pemerintah sendiri. Kita membutuhkan kolaborasi seluruh elemen masyarakat. Semangat inilah yang terus kita bangun di Banda Aceh,” kata Illiza.

Disisi lain, Menteri Dalam Negeri,  Tito Karnavian dalam sambutannya menegaskan bahwa IMT-GT yang dibentuk pada 20 Juli 1993 di Langkawi, Malaysia, telah menjadi salah satu bentuk penting kerja sama ekonomi subregional yang mendorong pertumbuhan ekonomi, konektivitas, perdagangan, investasi, pariwisata, dan kesejahteraan masyarakat.

Namun, menurut Tito, kerjasama tersebut harus menghasilkan manfaat yang lebih konkret kedepannya.

“IMT-GT tidak boleh hanya menjadi forum untuk berdialog dan berdiskusi, tetapi harus menjadi sebuah platform yang menghasilkan program dan proyek yang konkret, terukur, serta memberikan manfaat langsung kepada masyarakat," katanya.

Menurutnya, Indonesia, Malaysia, dan Thailand memiliki potensi besar untuk membangun kerjasama yang lebih kuat. Khususnya Sumatera, yang memiliki kekayaan sumber daya alam, potensi pertanian dan perkebunan, serta sumber daya manusia yang besar.

Pewarta: Rahmat Fajri
Editor : Febrianto Budi Anggoro

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.