Sumbawa (ANTARA) - Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat Indah Dhamayanti Putri mendorong perluasan edukasi pencegahan kekerasan fisik dan seksual serta perkawinan usia anak hingga jenjang sekolah menengah pertama (SMP) guna memperkuat perlindungan anak sejak dini.
Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri sosialisasi pencegahan kekerasan fisik dan seksual serta pendewasaan usia perkawinan yang diselenggarakan Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW) NTB di SMK Negeri 3 Sumbawa, Kamis.
Ia menegaskan sekolah harus menjadi lingkungan yang aman bagi seluruh peserta didik sekaligus tempat membangun kepercayaan diri dan membekali mereka dengan pengetahuan untuk menghadapi berbagai ancaman.
"Sekolah harus menjadi ruang aman bagi seluruh siswa, tanpa diskriminasi, sekaligus tempat membangun kepercayaan diri dan membekali generasi muda agar mampu melindungi diri dari berbagai ancaman," kata Indah.
Berdasarkan data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPA), sepanjang 2025 tercatat 637 kasus kekerasan terhadap anak di NTB dengan jumlah korban mencapai 654 anak. Secara kumulatif, sebanyak 3.764 anak menjadi korban kekerasan selama periode 2020–2025.
Sementara itu, Dinas Sosial dan instansi pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak Provinsi NTB mencatat 262 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak selama Januari hingga Mei 2026, dengan kekerasan seksual disebut mendominasi laporan.
Data tersebut memperlihatkan pentingnya memperkuat pencegahan melalui edukasi di sekolah, keluarga, dan lingkungan masyarakat agar anak mampu mengenali kekerasan serta mengetahui cara memperoleh perlindungan.
Wagub yang juga Ketua Umum BKOW NTB mengatakan dukungan keluarga dan tenaga pendidik diperlukan untuk membentuk generasi yang tangguh, percaya diri, dan mampu mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
Selain pencegahan kekerasan, edukasi pendewasaan usia perkawinan diperlukan agar pelajar memahami pentingnya kesiapan fisik, psikologis, dan sosial sebelum memasuki kehidupan berkeluarga.
Wakil Bupati Sumbawa Mohamad Ansori mengapresiasi kegiatan tersebut dan berharap sosialisasi serupa diperluas ke SMA dan SMK lainnya di Kabupaten Sumbawa agar semakin banyak pelajar memperoleh pemahaman mengenai pencegahan kekerasan dan perkawinan usia anak.
Menurut dia, perluasan edukasi menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan pemahaman generasi muda mengenai perlindungan diri dan pentingnya mempersiapkan masa depan.
"Pelajar perlu dibekali pengetahuan untuk mengenali kekerasan, melindungi diri, dan berani mencari pertolongan ketika menghadapi tindakan yang mengancam keselamatan mereka," kata Sudarti.
Ia berharap keterlibatan sekolah, keluarga, dan organisasi perempuan dapat memperkuat perlindungan terhadap perempuan dan anak sekaligus mendorong terciptanya lingkungan pendidikan yang aman.
Kegiatan tersebut turut dihadiri jajaran perangkat daerah, kepala sekolah se-Kabupaten Sumbawa, pengurus BKOW NTB, serta perwakilan Dharma Wanita Persatuan.
Pewarta : Ady Ardiansah
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026