Jakarta (ANTARA) - Veda Ega Pratama membentangkan bendera Merah Putih di atas motornya setelah melewati garis finis Pertamina Mandalika International Circuit, Minggu (11/10). Ia tidak naik podium. Tapi rasanya sungguh berbeda melihat remaja Indonesia begitu kompetitif di ajang balap kelas dunia di rumah sendiri.
Veda, pembalap Honda Team Asia berusia 17 tahun itu start dari posisi ketujuh dan finis keenam pada Grand Prix Indonesia, seri ke-17 Moto3 2026. Sepuluh poin tambahan membawanya ke peringkat ketujuh klasemen sementara dengan 115 poin. Ia menjadi satu-satunya pembalap bermotor Honda di sepuluh besar.
Hasil di Lombok juga punya arti teknis. Finis keenam dari grid ketujuh adalah balapan yang rapi: tanpa kehilangan posisi besar, tanpa insiden, dan dengan poin yang dibawa pulang. Sebulan sebelumnya, balapan seperti itu justru sulit ia dapatkan.
Lampaui target
Musim debut Veda berjalan lebih cepat dari perkiraannya sendiri.
Di Buriram, 1 Maret, ia start kelima, sempat bertahan di posisi ketiga beberapa putaran, lalu finis kelima. Tiga pekan kemudian di Goiania, Brasil, ia finis ketiga dan menjadi pembalap Indonesia pertama yang naik podium Grand Prix.
Setelah finis keempat di Le Mans pada Mei, Veda duduk di peringkat kelima klasemen. Saat itu ia satu-satunya pembalap Asia Tenggara di lima besar.
Target awalnya musim ini hanya mengumpulkan poin sebanyak mungkin. Lima seri pertama melampaui target itu, sekaligus membentuk ekspektasi publik Indonesia yang jauh lebih tinggi. Menonton Veda di Moto3 pun menjadi hari yang selalu dinanti pecinta balap di Indonesia, sebagaimana sejak dulu masyarakatnya keranjingan Valentino Rossi.
Paruh pertama musim juga memperlihatkan pola yang tetap dalam cara Veda membalap. Di Jerez ia memulai dari posisi ke-17 dan menyalip sebelas pembalap untuk finis keenam. Di Sachsenring ia naik lima tingkat dari grid ke-13. Kecepatan balapnya konsisten lebih baik daripada kecepatan satu putarannya di kualifikasi. Aksi-aksi Veda seperti itu yang selalu dinanti.
Namun, pada pola yang sama itu terdapat sisi lain. Saat berada di rombongan depan, Veda kerap kehilangan posisi. Di Austin ia terjatuh di tikungan 11 ketika mengejar grup terdepan. Di Assen ia sempat memimpin balapan sebelum melorot dan jatuh di tikungan empat.
Lembah di tengah musim
Setelah libur musim panas, kurva itu menurun. Finis ke-20 di Aragon menjadi hasil terburuknya musim ini, disusul posisi ke-18 di Misano. Dua seri tanpa poin itu menurunkannya ke peringkat delapan.
Hingga seri ke-13, Veda menyumbang sekitar 97 persen poin Honda Team Asia. Rekan setimnya sesama debutan, Zen Mitani, baru mengoleksi dua poin. Manajer tim Hiroshi Aoyama sampai harus angkat bicara soal situasi sulit yang dihadapi para pembalap Honda. Veda melewati lembahnya di atas paket motor yang sedang tidak unggul.
Pemulihan Veda lalu datang bertahap. Ia finis ke-13 di Austria, lalu ke-11 di Motegi meski start dari posisi ke-16 setelah mengalami highside keras di sesi kualifikasi. Hingga akhirnya sang Rocket Boy kembali memberi tontonan menarik bagi masyarakat Indonesia dengan finis keenam di Mandalika. Urutannya naik di setiap seri.
Bagi seorang debutan, kemampuan keluar dari lembah memberi gambaran yang lebih lengkap daripada podium Brasil. Karena itulah Veda menyebut GP Mandalika adalah yang terbaik dan paling emosional selama dia menjadi rookie Moto3.
Pemulihan seperti itu adalah terjemahan dari pembalap dan tim mampu membaca masalah, lalu memperbaikinya dari satu akhir pekan ke akhir pekan berikutnya.
Sebelumnya, menjelang Mandalika, Veda hanya memasang target finis dan tidak terjatuh. Target itu terdengar rendah untuk pemenang dua balapan Asia Talent Cup 2023 di lintasan yang sama. Namun justru target itulah yang ia penuhi, dengan bonus satu posisi lebih baik dari grid start.
Hitungan Moto2
Hasil Mandalika datang ketika wacana kepindahan Veda ke Moto2 2027 menguat. Honda Team Asia memiliki tim di kedua kelas, sehingga jalur promosi internal terbuka. Sejak awal musim, tidak sedikit yang menilai Veda layak naik kelas jika konsisten finis lima besar.
Di sisi lain, motor Honda NSF250RW yang ditunggangi Veda sedang kewalahan membendung dominasi motor berbasis KTM yang dipakai tim-tim Eropa. Tim raksasa seperti CFMOTO Gaviota Aspar Team dan Liqui Moly Dynavolt Intact GP sempat memantau potensi Veda. Namun, Veda sendiri memilih menunggu, karena musim ini baru tahun pertamanya di kelas tersebut.
Dari 17 seri Moto3 2026, Veda finis lima besar empat kali: Buriram, Brasil, Le Mans, dan Brno.
Kurva musim pertamanya memberi bahan pertimbangan lain. Moto2 menuntut pembalap mengendalikan motor bermesin Triumph 765 cc yang jauh lebih berat dan bertenaga, dengan teknik pengereman dan pengelolaan ban yang berbeda.
Pekerjaan rumah Veda ada pada kualifikasi dan menjaga posisi di rombongan depan. Keduanya lebih murah dipelajari di kelas yang sudah ia kenal. Usia juga berpihak padanya. Veda baru genap 18 tahun pada 23 November, sehingga satu musim tambahan di Moto3 tidak membuatnya tertinggal dari pembalap seangkatannya.
Terlebih lagi, statusnya sebagai atlet resmi Red Bull memberinya hak istimewa dan jalur pembinaan global yang solid, menjamin masa depannya tidak hanya bergantung pada satu keputusan promosi instan.
Lima seri tersisa musim ini akan menjadi bahan paling jujur bagi Honda dan Veda untuk menentukan arah 2027. Jika ritme dari Austria, Motegi, dan Mandalika bertahan, keputusan apa pun akan diambil dari posisi yang kuat.
Bendera Merah Putih yang dibentangkan di Lombok menandai satu hal yang sudah pasti dari musim ini: Veda tahu cara bangkit dari lembah.
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.