Bagikan:
JAKARTA - Wakil Presiden J.D Vance mengatakan Amerika Serikat akan menggunakan sarana militer, ekonomi, dan diplomatik untuk menyelesaikan konflik dengan Iran.
Saat ditanya dalam wawancara dengan Fox News pada Hari Rabu mengenai hambatan dalam negosiasi dengan Iran, Wapres Vance menyebutkan dua faktor: "Pertama, pihak Iran adalah orang-orang yang sangat sulit diajak bekerja sama. Kedua, sistem mereka terpecah-belah."
"Ada orang-orang di dalam sistem mereka yang menginginkan perang berakhir, namun ada pula kelompok radikal ekstrem yang justru ingin perang terus berlanjut," ujarnya, dikutip dari Anadolu (6/8).
"Tugas kami adalah menavigasi situasi tersebut dan mencapai hasil terbaik bagi rakyat Amerika serta bagi Presiden Amerika Serikat," tambahnya.
Wapres Vance menyatakan harapannya akan penyelesaian konflik tersebut, namun mengakui "prosesnya akan rumit dan memakan waktu - tetapi kita akan sampai pada tujuannya," seraya menambahkan bahwa harga minyak akan "turun dan tetap rendah."
"Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir, dan Amerika Serikat akan berada dalam posisi yang lebih kuat," jelasnya.
"Namun, kami akan mengerahkan segala sarana yang kami miliki - baik militer, ekonomi, maupun diplomatik - untuk memastikan tercapainya penyelesaian yang tepat atas masalah ini," tegas Wapres Vance.
Pernyataan ini disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan di sekitar Selat Hormuz menyusul konfrontasi militer baru-baru ini antara AS dan Iran.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyatakan lebih memilih mencapai kesepakatan dengan Iran daripada mengambil tindakan militer, meski juga memperingatkan bahwa penggunaan kekuatan tetap menjadi opsi jika diplomasi gagal.
Kawasan Timur Tengah mengalami eskalasi menyusul serangan AS-Israel ke wilayah Iran pada 28 Februari 2026, yang dibalas dengan serangan ke wilayah Israel serta target terkait AS di negara-negara kawasan.
Pada tanggal 18 Juni, Washington dan Tehran menandatangani kesepakatan kerangka kerja dan memulai negosiasi menuju kesepakatan akhir. Namun, pembicaraan tersebut kemudian terhenti akibat perbedaan pendapat mengenai jaminan keamanan dan kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
Bulan lalu, ketegangan kembali meningkat saat AS melancarkan serangan di wilayah Iran, sementara Tehran merespons dengan menargetkan apa yang mereka sebut sebagai fasilitas dan peralatan militer AS di beberapa negara Arab, khususnya Yordania, Bahrain, dan Kuwait.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+