Ustadz Luthfi nyatakan di balik musibah ada kenikmatan - ANTARA News Kalimantan Selatan

calendar_today 01.08.2026 - person  - timer ~

Banjarmasin (ANTARA) - Ustadz H Luthfi Syarkawi Thayib dalam tausyiah di Masjid Assa'adah Komplek Beruntung Jaya Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel) menyatakan, di balik musibah ada kenikmatan. 

"Kenikmatan di balik musibah yang bisa dinikmati oleh seseorang manakala yang bersangkutan menerima dengan ikhlas musibah tersebut," ujar Ustadz Luthfi dalam tausyiahnya di hadapan jamaah Masjid Assa'adah tersebut sesudah Shalat Subuh, Sabtu. 

Ustadz Lutfi mengemukakan itu dalam kajian rutin "Kalam Hikmah" Ibnu Athaillah Askandari, seorang ahli sofi atau tarekat dunia Islam asal Mesir pada sekitar abad XII yang banyak kaum Muslim Indonesia pelajari. 

Menurut ustadz keluaran Pondok Pesantren (Ponpes) Darussalam Martapura (40 km dari Banjarmasin), ibukota Kabupaten Banjar, Kalsel itu, bahwa orang yang bisa menerima musibah dengan ikhlas tersebut, "ma'rifatullah" (mengenal Allah) sudah betul-betul.

Baca juga: Ustadz Luthfi nyatakan "ma'rifat" anugerah paling besar

"Kalau ma'rifatullah seseorang sudah mantap, orang tersebut tak mengeluh ketika mendapat musibah dan darang bala. Tapi dia terima dengan ikhlas dan senang hati," ujar ustadz muda itu. 

Diceritakan, suami Rabi'ah serta anaknya, orang tua dan kakaknya pergi berangkat ke medan perang bersama Rasulullah SAW. Perang usai, Rabi'ah terlihat seperti menunggu dan para sahabat mengatakan; bahwa suami, anak, ayah dan kakaknya meninggal dunia. Tapi Rabi'ah justru menanyakan nasib Rasulullah SAW. 

"Kemudian ketika bertemu Rasulullah SAW pulang dari peperangan, Rabi'ah menyatakan syukur, karena Rasul Muhammad SAW masih hidup,. dia tidak menanyakan suami, anak, ayah dan kakak," kutip Ustadz Luthfi. 

Ustadz H Luthfi Syarkawi Thayib saat tausyiah di Masjid Assa'adah Komplek Beruntung Jaya Banjarmasin, sesudah Shalat Subuh, Sabtu (1/8/2026). (ANTARA/Syamsuddin Hasan)

Pada kesempatan itu, ustadz Banua tersebut mengatakan, bahwa "mahual" Tuhan (membantah/mempersoalkan qadha dan qadar Allah) sama dengan bala. 

"Oleh sebab itu, jangan sekali-kali mahual Allah, tapi justu sebaliknya taat atau patuhlah atas segala perintah Allah dan Rasul Nya," Ustadz Luthfi Syarkawi Thayib. 

Pewarta: Syamsuddin Hasan
Editor : Sukarli

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.