Ulasan Album Bernadya Semoga Hanya di Mimpi: Tenang, Takut, dan Kehilangan - Pophariini

calendar_today 29.09.2026 - person  - timer ~

Pada tahun perilisannya, album penuh perdana Bernadya, Sialnya, Hidup Harus Tetap Berjalan sering dibicarakan teman-teman di ruangan kerja. Teman saya mengaku lirik lagu-lagu sang penyanyi membuat ia memahami perasaan perempuan. Sementara saya tak pernah tertarik mendengarkan, hingga akhirnya seseorang yang kini menjauh buat saya ingin menelusuri apa sebenarnya Semoga Hanya di Mimpi.

Album dibuka “Laut yang Tenang”, membuat saya membayangkan lautan tak bergelombang. Lagu yang dituliskan Bernadya bersama Enrico Octaviano dan Baskara Putra ini pula yang menjadi alasan pertama saya mau menyimak lagu-lagu yang lain.

Bernadya menanggapi pujian lagu tersebut magis dengan ucapan terima kasih melalui pesan suara (16/09). Saya juga menanyakan, ia sendiri sebenarnya merasa lagu ini seperti apa.

“Lagu ini cukup unik. Aku jarang sekali menulis lagu yang tidak tentang cinta. Lagu ini juga ada tentang cintanya, tapi fokusnya adalah tentang ketakutanku in general terutama tentang masa depan dan ketakutan akan rasa tenang. Jadi menurut aku ini point of view yang agak jarang. Di mana di lagu ini, aku cautiously happy. Aku gak pernah sepenuhnya merasa tenang, aku selalu waswas, kalau sesuatu too good to be true,” ungkapnya.

Setiap hari dalam menjalani segala rutinitas terukur oleh waktu, adakalanya penat maksimal membagi kepentingan internal dan eksternal hidup agar tetap adil. Kemudian telepon berdering di trek kedua “Peluk Aku Sekarang!”, membicarakan yang barusan. Bernadya berkolaborasi dengan Perunggu dalam penulisan lagu ini, dan nuansanya memang Perunggu banget.

Lalu saya bertanya ke Bernadya apakah benang merah terbuatnya album ini berawal dari perasaan tenang, bahagia, ketakutan yang besar, atau hal lain. Ternyata ketakutan besar akan rasa tenang.

“Harusnya aku tenang, aku ada di stage hidup di mana harusnya aku merasa bahagia, tenang, semuanya berjalan normal, tapi di situlah aku waswas. Aku overthinking bahwa ini patut dicurigai karena biasanya gak seperti ini,” jelas Bernadya.

Dari sepuluh lagu yang ada di album ini, saya kemudian penasaran lagu mana yang akan Bernadya pilih untuk orang yang sedang jatuh hati dan yang sedang patah hati. Bukan sekadar memilih lagu berdasarkan suasana, tetapi bagaimana ia melihat kedua kondisi tersebut dari lagu-lagu yang ia tulis.

“Untuk yang sedang jatuh hati, aku akan rekomendasikan lagu pertama malah ‘Laut yang Tenang’ agar lebih waswas karena menurut aku kalau orang lagi jatuh hati itu isinya cuma happy. Lagi senang-senangnya, semuanya rasanya cuma butterfly, semuanya kayak menyenangkan. Tapi menurut aku harus selalu sisakan ruang kecewa. Jadi ‘Laut yang Tenang’ mungkin cocok untuk berjaga-jaga.”

“Kalau lagi yang patah hati, mungkin lagu ‘Kita Buat Menyenangkan’. Ini tentang sesuatu yang kamu tau sebuah hubungan yang kamu tau akan berakhir, tapi kamu mencoba untuk ya udah kita buat menyenangkan saja karena kita gak tau ini sampai kapan.”

Pada nomor ketiga “Lawan Waktu dan Jarak”, Bernadya ditemani Rendy Pandugo dalam pembuatannya. Tak selalu sederhana tentang perasaan, yang terdalam. Mengaku kalah sudah di puncaknya.

Masuk ke trek keempat, cukup dahsyat. Petra Sihombing terlibat dalam kredit lagu ini, tapi Franky Sihombing, ayah Petra, juga turut andil dalam “Wanita Tak Punya Malu” hingga terdengarlah nada lama, nada yang memeluk kerapuhan karena cinta memang tak ada malunya.

Ada lanjutan dari trek sebelumnya, “Kita Buat Menyenangkan” masih diproduseri Petra Sihombing. Bedanya kali ini Bernadya menuliskan lirik sendirian. Pernyataan “jika beruntung” pada lirik lagu menunjukkan kepasrahan diri, seolah tahu bahwa hubungan ini punya batas waktu yang tidak bisa dipastikan. Tetap dijalani dan dibuat menyenangkan selama masih ada kesempatan.

Sejak intro saya langsung merasakan suasana lama, kemudian melihat catatan Vega Antares adalah produsernya, bahkan berkontribusi mengisi gitar, piano, keyboard, synthesizer, dan drum. Lagu yang santai dan tenang, namun menyesakkan menyimak lirik penutupnya dalam judul “Menyenangkan Mengenalmu”.

Kondisi mata saya sama dengan judul lagu ini, “Rabun Jauh”. Mengerti bagaimana mengharapkan seseorang tiba-tiba muncul di keramaian. Pandangan yang tak lagi jelas, tapi tetap berusaha mencari sosok yang sebenarnya mungkin sudah tidak akan datang. Rasanya seperti tahu harus berhenti melihat ke satu arah, tetapi mata masih saja mencari.

“Terus dipaksa mati, yang bisa saja abadi. Di sisa waktu ini, tak bolehkah kumemilih?” Penggalan lirik yang paling mewakili “Tolong Bilang Ini Mimpi”. Produser sang lagu, Rendy Pandugo, yang juga ikut menyumbangkan suara.

Sudah tidak berlanjut hubungannya, kemudian yang pasti tetap harus dihadapi momen-momen di luar kesedihan itu. Acara-acara yang mengharuskan bertemu sanak saudara atau teman-teman seperti tekanan. Lagu “Sebelum Jadi Panjang” mewakili perasaan seseorang yang menyembunyikan segala kehancuran, tak ingin mengingat lagi dengan pertanyaan-pertanyaan.

Apakah semua cerita Bernadya untuk album ini sosok yang sama? Diakhiri “Belum Sempat Kenal”, seakan penyesalan. Ada beruntungnya juga hubungan yang tak jelas menghasilkan karya yang luar biasa, walaupun hancurnya kadang bisa tak terlihat dan tak tersisa.

Delapan tahun lagi, ketika album ini sudah menjadi bagian dari masa lalu, saya penasaran apa yang ingin Bernadya sampaikan kepada dirinya sendiri. Apalagi Semoga Hanya di Mimpi merayakan satu windunya.

“Semoga kamu tidak pernah menyesal menulis album ini. Semoga album ‘Semoga Hanya di Mimpi’ ini akan selalu jadi album yang bisa kamu banggakan, hey Bernadya 8 tahun lagi. Dan semoga nanti kamu umur 30 cara penulisanmu sudah jauh lebih matang dan sudah jauh lebih dewasa, dan kamu bisa tersenyum tidak geli tapi tersenyum penuh bangga melihat dirimu yang dulu juga gitu. No regrets.”