UGM menyoroti akar persoalan jual beli naskah kuno di Lombok

calendar_today 14.07.2026 - person  - timer ~

UGM menyoroti akar persoalan jual beli naskah kuno di Lombok

Selasa, 14 Juli 2026 19:43 WIB

Image Print

Guru Besar Sejarah Universitas Gadjah Mada (UGM) Bambang Purwanto memaparkan pandangan tentang sejarah Lombok dalam diskusi kelompok terpumpun bertajuk Exploring New Futures for Indonesian Objects di Museum NTB, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, Selasa (14/7/2026). ANTARA/Sugiharto Purnama

Mataram (ANTARA) - Guru Besar Sejarah Universitas Gadjah Mada (UGM) Bambang Purwanto menilai praktik jual beli naskah kuno yang marak terjadi di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), tidak bisa diselesaikan hanya dengan melarang masyarakat menjual warisan dokumenter tersebut.

"Kondisi yang menciptakan mereka memahami naskah kuno sebagai komoditi, maka yang dicari adalah keuntungan ekonomi," ujar dia saat diwawancarai usai diskusi kelompok terpumpun bertajuk Exploring New Futures for Indonesian Objects di Museum NTB, Mataram, Selasa.

Bambang menjelaskan praktik jual beli naskah kuno adalah persoalan klasik yang berakar dari cara pandang masyarakat memaknai warisan budaya.

Masyarakat hanya memandang naskah kuno sebagai komoditas ekonomi, sehingga praktik jual beli menjadi marak. Apabila mereka menempatkan naskah kuno sebagai benda budaya, maka masyarakat tentu tidak akan menjual artefak tulisan tangan tersebut ke pihak luar.

Ia menegaskan upaya menghentikan perdagangan naskah kuno tidak bisa dilakukan dengan menyalahkan masyarakat yang menjual koleksi-koleksi mereka kepada para wisatawan ataupun kolektor.

"Kita kadang terlalu menghujat mereka, tapi kalau kondisi membuat mereka melihat itu sebagai komoditas, kita mau bilang apa," ucap Bambang.

Lebih lanjut ia menyampaikan pelestarian warisan budaya tidak hanya berfokus pada penyelamatan benda, melainkan juga menjaga pengetahuan dan keterampilan yang melahirkan warisan tersebut.

Kemampuan menulis lontar, membuat keris, perlengkapan upacara adat, hingga berbagai keterampilan tradisional lainnya perlu terus diwariskan agar tidak punah.

Bambang berharap negara hadir memfasilitasi upaya pelestarian sejarah dan kebudayaan dengan memberikan ruang bagi masyarakat untuk mempertahankan tradisi agar tidak lagi bergantung terhadap penjualan benda-benda kuno.

Petugas Perpustakaan Nasional merawat naskah kuno lontar dengan melumurinya menggunakan kemiri bakar untuk memunculkan kembali aksara yang pudar di Museum NTB, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, Rabu (24/6/2026). ANTARA/Sugiharto Purnama

Yayasan Pasirputih—yang melakukan riset dan kajian seni dan budaya berbasis di Lombok Utara—mengungkapkan praktik penjualan naskah kuno yang telah berlangsung sejak lama dengan harga bervariasi mulai dari ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah.

Direktur Program Yayasan Pasirputih Muhammad Sibawaihi menyampaikan alasan utama warga menjual naskah kuno untuk ditukar dengan kebutuhan dapur. Bahkan, praktik jual beli manuskrip kini telah menjadi bagian dari bisnis pariwisata.

"Saya menemui beberapa orang yang di masa lalu, bahkan sampai sekarang, mereka punya kelompok yang menjual naskah-naskah kuno ke wisatawan," kata Sibawaihi.

Yayasan Pasirputih mencatat bahwa tradisi literasi lontar masih bertahan di Lombok Utara. Sejumlah orang tua dan anak muda mampu membaca serta menulis aksara bahasa kuno pada lontar.

Kemampuan itu memerlukan upaya pelestarian mengingat setiap periode zaman memiliki karakter huruf dan teknik penulisan aksara yang berbeda.

Pewarta : Sugiharto Purnama
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026