Warta Ekonomi, Bandung -
Pemanfaatan teknologi monitoring mulai menjadi bagian dari pengelolaan operasional transportasi antarkota, termasuk untuk memantau kondisi kendaraan, pengemudi, hingga pergerakan armada selama perjalanan.
Model ini juga diterapkan TRAVL dalam mengelola layanan shuttle yang menghubungkan Bandung dengan Jakarta dan Tangerang Selatan.
Head of Unit Business TRAVL Syukron Fadillah Alkautsar mengatakan, teknologi digunakan sebagai lapisan pendukung dalam sistem keselamatan dan pemantauan operasional. Sejumlah sistem yang diterapkan antara lain Advanced Driver Assistance System (ADAS), Driver Monitoring System (DMS), serta GPS untuk memantau armada secara real-time.
“Teknologi seperti ADAS dan DMS menjadi supporting system bagi pengemudi dan command center,” ujar Alka di Bandung, Jumat (25/9/2026).
ADAS memanfaatkan sensor dan sistem pemantauan lingkungan sekitar kendaraan melalui dashcam. Sistem tersebut dapat memberikan peringatan kepada pengemudi terkait kondisi tertentu, seperti jarak kendaraan yang terlalu dekat atau potensi tabrakan.
Sementara itu, DMS digunakan untuk membantu memantau kondisi pengemudi selama perjalanan, termasuk indikasi mengantuk atau kehilangan fokus. Ketika sistem mendeteksi kondisi yang membutuhkan perhatian, peringatan dapat diberikan kepada pengemudi.
Menurut Alka, penggunaan teknologi tersebut ditujukan untuk menambah lapisan pemantauan dalam keselamatan operasional, bukan menggantikan peran pengemudi.
“Kami tidak ingin keselamatan hanya bergantung kepada satu faktor, misalnya kemampuan pengemudi saja. Kami ingin membangun sistem yang memberikan additional layer of monitoring and support,” katanya.
Selain teknologi yang berada di dalam kendaraan, TRAVL memanfaatkan GPS untuk memantau pergerakan armada secara real-time. Informasi tersebut memungkinkan tim operasional mengetahui posisi kendaraan selama perjalanan.
Data pergerakan armada dapat digunakan untuk membantu memperkirakan waktu kedatangan, memantau perjalanan, serta mendukung koordinasi apabila terjadi kondisi tertentu di lapangan. Pemantauan kecepatan juga menjadi bagian dari pengawasan operasional.
"Dengan sistem tersebut, tim operasional dapat memperoleh informasi mengenai perjalanan kendaraan tanpa harus menunggu armada tiba di titik tujuan,"ujarnya
Alka mengatakan, ke depan data yang dihasilkan dari ADAS, DMS, dan GPS dapat dikembangkan untuk mendukung penerapan data-driven safety management. Pengembangan tersebut akan semakin relevan seiring bertambahnya armada dan kebutuhan terhadap pemantauan secara terpusat.
“GPS tracker untuk monitoring armada secara real-time serta speed monitoring juga menjadi bagian dari pendekatan keselamatan operasional TRAVL,” ujarnya.
Pemanfaatan teknologi tidak hanya dilakukan pada aspek monitoring kendaraan. Proses pemesanan juga dilakukan secara digital melalui situs TRAVL.
Penumpang dapat mencari jadwal, melakukan pemesanan tiket, memilih kursi, melakukan pembayaran digital, hingga menerima electronic ticketing. Digitalisasi tersebut menempatkan proses sebelum keberangkatan dalam satu alur layanan berbasis sistem.
Di sisi operasional perjalanan, armada TRAVL dilengkapi sejumlah fasilitas seperti captain reclining seat, leg rest, headrest, USB Type-A dan Type-C charging, serta personal AC.
Menurut Alka, integrasi antara sistem pemesanan, pemantauan armada, dan teknologi pendukung keselamatan diarahkan untuk menjaga konsistensi proses perjalanan sejak penumpang melakukan reservasi hingga tiba di tujuan.
Pengembangan sistem operasional tersebut berjalan bersamaan dengan penambahan akses keberangkatan. TRAVL membuka TRAVL Point Diponegoro di Jalan Diponegoro, Kota Bandung, sebagai alternatif bagi penumpang yang beraktivitas di kawasan pusat kota.
“Lokasi baru ini kami persiapkan sebagai alternatif keberangkatan dari pusat Kota Bandung, terutama bagi masyarakat yang tinggal, bekerja, maupun beraktivitas di kawasan pusat kota dan sekitarnya,” kata Alka.
Dari TRAVL Point Diponegoro, layanan tersedia menuju lima titik di Jakarta dan Tangerang Selatan, yakni Fatmawati, Blora (Dukuh Atas), Semanggi, Bintaro, dan BSD.
Baca Juga: Bahas AI di Elitery, Sandiaga Uno Dorong Teknologi Ciptakan Lapangan Kerja
Baca Juga: Hadirkan Pameran Outing dan Incentive Travel untuk Perusahaan, IOITE 2026 igelar di PIK 2
Keberangkatan tersedia setiap jam mulai pukul 04.00 hingga 22.00 WIB. Dalam perjalanan menuju Jakarta dan Tangerang Selatan, armada dari Diponegoro melewati TRAVL Point Pasteur sebelum melanjutkan perjalanan ke tujuan akhir.
Sementara pada perjalanan menuju Bandung, penumpang dapat turun setelah pintu keluar tol Pasteur dalam perjalanan menuju TRAVL Point Diponegoro.
Bagi TRAVL, pengembangan titik keberangkatan dan teknologi monitoring berjalan dalam satu kebutuhan operasional, yakni menyesuaikan layanan dengan pola perjalanan sekaligus meningkatkan visibilitas terhadap kondisi perjalanan.
"Pengembangan teknologi tersebut juga membuka peluang pemanfaatan data operasional secara lebih luas untuk mendukung pengelolaan keselamatan dan pemantauan armada pada layanan shuttle antarkota,"pungkasnya