Manokwari (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kelompok transportasi serta makanan, minuman dan tembakau menyumbang 3,65 poin persentase atau 70,19 persen terhadap inflasi tahunan Provinsi Papua Barat pada September 2026 sebesar 5,20 persen.
Kepala BPS Papua Barat Merry saat konferensi pers di Manokwari, Kamis, mengatakan kelompok transportasi menjadi penyumbang tertinggi dengan andil 2,43 poin persentase, sedangkan makanan, minuman dan tembakau 1,22 poin persentase.
“Transportasi mengalami inflasi 20,27 persen secara tahunan (year on year/yoy), sementara kelompok makanan, minuman dan tembakau mengalami inflasi tahunan 3,42 persen,” ujarnya.
Dia menyebut kenaikan indeks harga dua komoditas kelompok transportasi yaitu angkutan udara dan bensin menjadi penyumbang utama terjadinya inflasi tahunan pada September 2026, kemudian disusul komoditas beras serta nasi dengan lauk.
Adapun kelompok lainnya yang turut mendorong inflasi dengan andil relatif lebih kecil, antara lain restoran, perawatan jasa pribadi, pakaian dan alas kaki, kelompok rekreasi, perlengkapan rumah tangga, serta kelompok lainnya.
“Inflasi tahunan Papua Barat lebih rendah dari periode Agustus 2026 yang tercatat sebesar 5,27 persen (yoy),” ujar Merry.
Secara bulanan, kata dia, Papua Barat mengalami inflasi sebesar 0,90 persen mtm (month to month) berbanding terbalik dengan kondisi periode Agustus 2026 yang terjadi deflasi 1,19 persen mtm, dan lebih rendah dibanding September 2025.
Inflasi bulanan tersebut dipengaruhi kenaikan indeks dari kelompok makanan, minuman dan tembakau dengan andil 0,58 poin persentase, disusul transportasi 0,27 poin persentase, kelompok perawatan jasa pribadi, serta lainnya.
“Ada lima komoditas penyumbang utama inflasi bulanan Papua Barat, yaitu angkutan udara, ikan cakalang, tomat, daging ayam ras, dan sayur kangkung,” ucap Merry.
Menurut Merry, tingkat inflasi Papua Barat secara tahun kalender (year to date/y-to-d) pada periode September 2026 tercatat 3,08 persen, sedangkan secara tahunan mencapai 5,20 persen atau berada di atas kisaran nasional 2,5±1 persen.
Pewarta: Fransiskus Salu Weking
Editor : Evarianus Supar
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.