Transformasi Transmigrasi, Mentrans Iftitah Belajar Model Industrialisasi Pedesaan ke Tiongkok

calendar_today 12.10.2026 - person  - timer ~

Senin, 12 Oktober 2026 - 10:59 WIB

VIVA – Menteri Transmigrasi (Mentrans) Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara melakukan kunjungan kerja ke Tiongkok pada 12–18 Oktober 2026. 

Baca Juga

Kunjungan ini bertujuan untuk memperkuat kerja sama pembangunan pertanian modern, industrialisasi, hilirisasi, serta pengembangan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di kawasan transmigrasi Indonesia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selama berada di Tiongkok atas undangan pemerintah setempat, Mentrans Iftitah dijadwalkan melakoni serangkaian agenda penting, di antaranya pertemuan bilateral di Kementerian Pertanian dan Pedesaan Tiongkok (MARA) pada Senin (12/10/2026), memberikan kuliah umum di Peking University, Beijing, serta meninjau fasilitas industri dan riset di Chongqing, Hangzhou, Zhejiang, dan Shanghai.

Baca Juga

Langkah ini merupakan bagian dari penterjemahan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mempercepat pembangunan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di luar Pulau Jawa melalui transformasi transmigrasi.

"Indonesia memiliki sumber daya alam yang sangat besar. Tetapi kekayaan alam saja tidak cukup untuk menyejahterakan rakyat. Kita membutuhkan teknologi, investasi, industri, dan sumber daya manusia yang mampu menciptakan nilai tambah. Karena itu, kita ingin belajar dari pengalaman Tiongkok dalam membangun industri dan mengembangkan ekonomi pedesaan," ujar Iftitah dalam keterangan resminya, dikutip Senin (12/10).

Baca Juga

Dalam pertemuan di MARA, delegasi Indonesia turut melibatkan Chinese Academy of Agricultural Sciences (CAAS) dan Foreign Economic Cooperation Center (FEC) untuk membahas pengembangan teknologi produksi, pengolahan hasil pertanian, serta akses pasar. 

Sejumlah komoditas unggulan kawasan transmigrasi yang dijajaki meliputi durian di Sulawesi Tengah, kelapa genjah di Nusa Tenggara Timur, kelapa di Maluku Utara, hingga padi, kakao, kopi, dan tebu di Papua.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selain agenda pemerintahan, Iftitah memberikan kuliah umum di Institute of South-South Cooperation and Development (ISSCAD) Peking University guna membuka peluang kolaborasi akademik dan riset terapan yang dapat memberikan rekomendasi konkret bagi pembangunan kawasan transmigrasi.

Rangkaian kunjungan juga mencakup peninjauan ke sejumlah perusahaan dan pusat riset terkemuka, seperti BAIC Group, Chongqing Academy of Agricultural Sciences, China National Rice Research Institute, Zhejiang Huayou Cobalt, hingga Commercial Aircraft Corporation of China (COMAC). Iftitah menegaskan bahwa pendekatan yang dipelajari dari Tiongkok akan disesuaikan dengan karakteristik geografis, sosial, dan budaya Indonesia.

Halaman Selanjutnya

"Ukuran keberhasilan diplomasi ekonomi bukan berapa banyak negara yang kita kunjungi atau berapa banyak pertemuan yang kita lakukan. Ukurannya adalah manfaat nyata bagi Indonesia: berapa investasi yang masuk, berapa lapangan kerja yang tercipta, dan berapa pendapatan masyarakat yang meningkat," tegasnya.