REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membuka peluang bagi kreator konten untuk meningkatkan efisiensi proses produksi, mulai dari pencarian ide hingga penyuntingan video. Namun, pemanfaatan teknologi tersebut juga menuntut keterampilan baru agar kreator dapat menjaga kualitas karya, transparansi, dan kepercayaan audiens.
Di tengah perkembangan ekonomi digital, AI semakin digunakan dalam berbagai tahapan proses kreatif. Teknologi ini membantu pengguna mencari inspirasi, memproduksi konten, hingga mempelajari keterampilan baru. Meski demikian, manfaat AI tetap bergantung pada cara penggunaannya, termasuk kemampuan manusia untuk mengevaluasi hasil dan memastikan konten yang dihasilkan sesuai konteks.
Alfons Tanujaya, Pengamat Teknologi Informasi dan Ahli Keamanan Siber, mengatakan tanggung jawab pengguna menjadi semakin penting seiring berkembangnya kemampuan AI.
"Kecepatan perkembangan AI generatif jauh melampaui kecepatan masyarakat beradaptasi mengenalinya. Dulu, membuat sebuah video kreatif butuh waktu yang cukup lama, tapi sekarang, siapa pun bisa menghasilkan gambar atau video yang nyaris tidak terbedakan dari aslinya hanya dalam hitungan detik. Di titik inilah tanggung jawab pengguna dan transparansi dari platform menjadi lini pertahanan utama, bukan lagi pilihan tambahan," ujar Alfons dalam keterangan, Jumat (23/10/2026).
Bagi kreator, penggunaan AI dapat membantu mempercepat pekerjaan dan memperluas pilihan dalam menghasilkan karya. Namun, efisiensi tersebut perlu diimbangi dengan kemampuan mengolah ide, memberikan perspektif manusia, serta memastikan hasil akhir tetap memiliki nilai tambah.
Alfons juga menambahkan di balik setiap informasi atau konten yang dihasilkan dengan bantuan AI, tetap dibutuhkan campur tangan manusia. "Nilai tambah yang sesungguhnya lahir ketika kita memberikan perspektif, empati, serta keahlian analitis untuk mengubah data mentah dari AI menjadi solusi yang bermakna dan berdampak positif bagi publik," ujarnya.
Kreator TikTok Theresa menekankan bahwa AI dapat menjadi alat pendukung kreativitas apabila digunakan secara tepat dan bertanggung jawab. Transparansi dalam penggunaan AI juga diperlukan untuk menjaga kepercayaan audiens. Kreator dapat mengaktifkan Label AI sebelum mengunggah konten dan menjelaskan penggunaan teknologi tersebut kepada audiens.
Untuk mendukung transparansi, TikTok menghadirkan berbagai fitur dan teknologi yang membantu pengguna mengenali konten buatan AI. Dua tahun lalu, TikTok menjadi platform video pertama yang menerapkan Kredensial Konten C2PA, teknologi yang membantu pengguna mengenali konten yang dibuat atau diedit secara signifikan menggunakan AI.
Hingga saat ini, TikTok telah memberikan label pada lebih dari 3 miliar video buatan AI di seluruh dunia melalui kombinasi Content Credentials, Creator Labeling Tools, dan Invisible Watermarking. Pengguna juga dapat mengaktifkan Label AI saat mengunggah konten buatan AI.
AI untuk Efisiensi Produksi Konten
Pemilihan perangkat AI sesuai kebutuhan menjadi salah satu faktor yang dapat membantu kreator meningkatkan efisiensi kerja. Penggunaan teknologi yang tepat memungkinkan proses pencarian ide, perencanaan, hingga penyuntingan konten dilakukan dengan lebih terarah.
TikTok menyediakan sejumlah perangkat AI kreatif yang dapat digunakan pengguna. AI Outline membantu kreator mengembangkan ide mentah menjadi kerangka konten, judul, hashtag, hingga hook. Sementara itu, Smart Split di TikTok Studio membantu mengubah video panjang menjadi beberapa klip pendek secara otomatis.
Pemanfaatan perangkat tersebut memberikan pilihan bagi kreator untuk menyesuaikan proses produksi dengan kebutuhan konten. Meski dapat mempercepat pekerjaan, hasil akhirnya tetap perlu diperiksa agar sesuai dengan tujuan dan karakter audiens.