Jakarta (ANTARA) - TikTok dan Agile Advertising mendorong pelaku usaha serta penjual (seller) e-commerce untuk mengandalkan strategi berbasis data guna mengoptimalkan belanja iklan dan menghadapi periode puncak transaksi daring pada kuartal IV (Q4) 2026.
Untuk itu, seminar "TikTok × Agile Advertising: It's A Match" digelar untuk mempertemukan seller, pemilik merek, dan pelaku bisnis e-commerce dengan praktisi untuk membahas strategi periklanan berbasis data menjelang periode belanja Q4.
"Mayoritas brand yang mengalami kendala pemasaran sebenarnya bukan kekurangan jangkauan atau reach. Iklan mereka sampai ke audiens, tetapi bukan ke orang yang tepat," kata Managing Director Agile Advertising, Ryan Sidharta dalam keterangan tertulis, Senin.
"Dinamika pasar dan perilaku konsumen bergerak sangat cepat, sehingga kecocokan antara produk, audiens, dan pesan iklan harus terus ditemukan dan disesuaikan kembali," ujar Ryan Sidharta.
Ia menambahkan, pendekatan tersebut menempatkan kemampuan beradaptasi sebagai bagian penting dalam strategi pemasaran digital.
Baca juga: TikTok setuju bayar denda Rp1,8 triliun untuk kasus di Alabama
Dalam persaingan e-commerce yang semakin dinamis, peningkatan jumlah kunjungan maupun pesanan belum tentu berbanding lurus dengan pertumbuhan pendapatan dan profitabilitas apabila tidak diikuti dengan optimalisasi konversi serta nilai transaksi.
Karena itu, strategi periklanan perlu memperhitungkan lebih jauh hubungan antara alokasi anggaran, karakteristik audiens, performa toko, dan benchmark masing-masing industri.
Ia memaparkan, data operasional kemudian digunakan sebagai dasar untuk menentukan langkah berikutnya, termasuk apakah anggaran perlu ditingkatkan, strategi perlu diperbaiki, atau target audiens perlu disesuaikan.
Ryan mengatakan keputusan pemasaran sebaiknya tidak hanya bertumpu pada asumsi, melainkan pada data yang menunjukkan kondisi sebenarnya dari sebuah bisnis.
"Jangan pernah jatuh cinta pada ide, tetapi jatuh cinta pada apa yang dibuktikan oleh data secara faktual," kata dia.
"Saat volume pesanan meningkat tetapi pendapatan total justru stagnan, langkah pertama yang harus dilakukan adalah berhenti membeli lalu lintas pengunjung baru dan segera perbaiki nilai basket size serta struktur konversi toko Anda," tegas Ryan.
Baca juga: Mantan karyawan TikTok kembangkan AI untuk mengarahkan pose foto
Dalam seminar tersebut, pendekatan berbasis data dibahas melalui sejumlah materi yang berkaitan dengan kebutuhan bisnis menjelang Q4.
Azzufar Wafi Fathiyakan dari TikTok membahas tren pasar, perubahan perilaku konsumen, serta rekomendasi alokasi anggaran dan strategi kampanye untuk menghadapi periode puncak belanja.
Sementara itu, Ryan Sidharta dari Agile Advertising memaparkan pemanfaatan analitik data untuk menemukan kecocokan antara karakteristik industri, target audiens, dan ekosistem platform.
Materi lainnya mengenai penguatan sales funnel dan optimasi konversi disampaikan Jonathan Limantoro dari Ada Revenue.
Peserta juga berkesempatan mengikuti konsultasi dengan tim ads ops Agile Advertising untuk mengevaluasi performa akun periklanan berdasarkan kondisi bisnis masing-masing.
Konsultasi tersebut mencakup pembahasan strategi advertising dan marketing pada berbagai kategori industri, mulai dari fashion, beauty, makanan dan minuman, barang konsumsi cepat saji, otomotif, elektronik, hingga home and living.
Selain sesi seminar dan konsultasi, kegiatan "TikTok × Agile Advertising: It's A Match" juga menghadirkan sejumlah mitra, antara lain Baru Berguna Social (BB Social), Ada Revenue, Primatama Data Solusi, WidaTech, dan Tuju.ai.
Kegiatan tersebut ditutup dengan sesi networking yang mempertemukan para pelaku bisnis dari berbagai latar belakang industri. Forum itu sekaligus menjadi ruang untuk bertukar pengalaman dan membahas kemungkinan kolaborasi dalam mengembangkan strategi pemasaran digital.
Baca juga: TikTok Food Fest 2026 dukung pertumbuhan industri kuliner
Baca juga: Tokopedia-TikTok Shop bawa etalase produk kurasi Mendag Budi Santoso
Baca juga: Pemerintah fasilitasi 4.425 UMKM terdampak bencana masuk pasar digital
Pewarta: Alviansyah Pasaribu
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.