Jakarta, CNN Indonesia --
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dikabarkan memaksa menggelar pertemuan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Gedung Putih, Washington D.C pada hari ini, Selasa (28/7).
Menurut seorang pejabat AS dan seorang sumber Israel, Netanyahu telah berupaya mendapatkan undangan ke Gedung Putih guna membahas perkembangan perang dengan Iran selama beberapa pekan terakhir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain terkait perang dengan Iran, Netanyahu memaksa bertemu Trump demi meyakinkan sang presiden AS agar tidak memberikan konsesi diplomatik terhadap Teheran.
Dikutip CNN, Trump disebut awalnya enggan bertemu. Sejumlah pejabat Gedung Putih juga merasa frustrasi atas apa yang mereka anggap sebagai upaya Israel memanfaatkan kebocoran informasi ke media untuk memaksa pertemuan terjadi.
Seorang pejabat AS mengatakan Netanyahu bahkan "berusaha mewujudkan pertemuan" dengan Trump dengan cara membocorkannya terlebih dulu ke media.
Pemakaman Senator AS Lindsey Graham pekan ini akhirnya menjadi kesempatan bagi keduanya untuk bertemu, meskipun pertemuan itu hanya menjadi agenda sampingan dari acara utama.
Selama bertahun-tahun, kunjungan Netanyahu ke Washington untuk bertemu Trump selalu mengikuti pola yang nyaris sama: karpet merah, jabat tangan hangat, dan pesan-pesan bersama yang menegaskan kemesraan aliansi Israel-AS.
Namun, hubungan keduanya berubah secara signifikan sejak pertemuan terakhir mereka lima bulan lalu. Kerja sama yang erat serta pujian berlimpah di awal perang Iran kini berganti dengan luapan kemarahan Trump yang bahkan disertai umpatan.
Ketika keduanya terakhir kali bertemu pada Februari, mereka meletakkan dasar bagi kampanye militer gabungan melawan Iran. Serangan-serangan awal perang menjadi simbol koordinasi militer yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang sama-sama dipuji dan dipromosikan oleh Netanyahu maupun Trump.
Namun seiring perang berkepanjangan dan gagal mencapai target optimistis untuk menggulingkan rezim Iran, perbedaan pandangan di antara Trump dan Netanyahu mulai terlihat jelas. Netanyahu ingin terus meningkatkan tekanan militer dan berperang, sedangkan Trump menginginkan mengakhiri perang.
Sumber Israel mengatakan Netanyahu berencana menyampaikan informasi intelijen terbaru kepada Trump mengenai perkembangan program nuklir dan kemampuan militer Iran. Meski demikian, Israel menilai bahwa "Trump tidak terlalu berminat melanjutkan perang besar, setidaknya sebelum pemilu Amerika Serikat pada November."
Menurut para pejabat, Trump sangat menyadari tekanan politik yang dihadapi Netanyahu menjelang pemilu Israel pada Oktober dan memahami bahwa dukungannya soal Iran dapat menjadi faktor penting bagi peluang politik sang perdana menteri.
Menyadari pengaruh tersebut, Trump sesekali menunjukkan dukungannya. Salah satunya terjadi pekan lalu ketika ia mengatakan Netanyahu tidak akan ditangkap apabila berkunjung ke Amerika Serikat, setelah Wali Kota New York Zohran Mamdani sempat menolak mencabut janji kampanyenya untuk memerintahkan penangkapan Netanyahu.
Pilihan Redaksi
Di depan publik, Trump tidak menyalahkan Netanyahu atas situasi saat ini. Namun secara pribadi, ia disebut pernah menyebut Netanyahu sebagai sosok yang "gila" dan "sulit" karena terus melanjutkan pemboman di Lebanon yang mengancam gencatan senjata AS-Iran.
Trump juga dilaporkan memarahinya melalui sambungan telepon karena menjalankan strategi perang yang berbeda dari tujuan Washington.
Perbedaan tujuan tersebut tidak hanya terbatas pada Iran.
Ketika Trump mendorong Netanyahu menghentikan operasi melawan Hizbullah, Lebanon menjadi sumber gesekan lainnya. Dalam percakapan telepon pada awal Juni yang dilaporkan Axios, Trump mengatakan kepada Netanyahu:
"Sekarang semua orang membencimu... semua orang membenci Israel karena ini."
Sebulan lalu Israel akhirnya menyetujui perjanjian trilateral dengan Lebanon, tetapi tetap menolak menarik seluruh pasukannya dari Lebanon selatan sebelum Hizbullah dilucuti.
Menurut seorang sumber Israel yang mengetahui jalannya rapat kabinet keamanan pada Minggu, Netanyahu mengatakan pemerintahan Trump ingin Israel menarik pasukannya dari posisi-posisi di Lebanon, Gaza, dan Suriah.
(bac/rds)
Add
as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNN]