Pinang mungkin bukan sesuatu yang asing bagi masyarakat Indonesia. Namun, siapa sangka, kebiasaan manusia menggunakan buah ini ternyata punya sejarah yang sangat panjang. Jauh sebelum pertanian berkembang dan sebelum manusia mengenal berbagai jenis obat modern, orang-orang yang hidup di Sulawesi ternyata sudah menggunakan pinang.
Peneliti menemukan bukti penggunaan pinang pada sisa-sisa dua manusia pemburu-peramu di Sulawesi. Salah satunya hidup sekitar 25.000 – 16.000 tahun lalu, sementara individu lainnya hidup sekitar 7.600 – 6.300 tahun lalu.
Temuan ini bahkan disebut sebagai bukti tertua yang diketahui mengenai penggunaan rutin tumbuhan psikoaktif oleh manusia. Berikut penjelasannya lebih lanjut, dilansir dari ABC News (13/9).
Jawaban sederhana tentang bagaimana peneliti mengetahui hal tersebut adalah dari gigi. Peneliti menemukan dua individu dengan pola kerusakan/groove pada gigi yang tidak biasa. Goresan tersebut berbentuk dalam dan membulat. Analisis menunjukkan bahwa pola kemungkinan terbentuk karena berulang kali mengisap benda bulat berukuran sekitar 1-2 cm.
Awalnya, peneliti tidak langsung tahu apa yang menyebabkan kerusakan tersebut. Tetapi bentuknya memberi petunjuk, dan setelah dibandingkan dengan kemungkinan lain, pinang menjadi kandidat yang paling masuk akal. Selain itu, penelitian diperkuat dengan analisis kimia yang menemukan jejak arekolin, senyawa aktif psikoaktif yang terdapat dalam pinang.
Para peneliti menduga salah satu kemungkinan awalnya adalah meredakan sakit gigi atau membuat mulut terasa kebas. Namun, kebiasaan yang awalnya mungkin membantu mengurangi rasa sakit justru dapat memperburuk kondisi gigi. Peneliti menyampaikan bahwa aktivitas ini menjadi siklus berulang bagi manusia terdahulu.
Lalu, apakah ini berarti manusia zaman dulu menggunakan pinang untuk adiksi karena pinang mengandung senyawa yang memiliki efek psikoaktif? Penggunaan pinang memang bukan sekadar soal makanan. Namun, peneliti menekankan bahwa mereka tidak mengetahui secara langsung seperti apa persis pengalaman yang dirasakan manusia 25.000 tahun lalu.
Kebiasaan penggunaan pinang sekarang tentu sudah sangat berbeda. Penelitian menyebutkan dalam praktik modern di berbagai wilayah Asia-Pasifik, pinang umumnya digunakan dalam bentuk quid atau gumpalan bahan yang dikunyah/diisap di dalam mulut, dan sering bersama kapur sirih serta bahan lainnya untuk membantu mempercepat pelepasan senyawa psikoaktif dari pinang
Manusia 25.000 tahun lalu belum tentu melakukan praktik mengunyah pinang persis seperti yang dikenal dalam tradisi modern.
Penggunaan tumbuhan yang memiliki efek pada tubuh dan pikiran mungkin sudah dilakukan manusia jauh sebelum munculnya pertanian. Oleh karena itu, penemuan ini memperpanjang sejarah penggunaan zat psikoaktif hingga Late Pleistocene (masa ketika siklus zaman es terjadi), puluhan ribu tahun lalu.
Di samping itu, dari Sulawesi, kita bisa melihat sejarah manusia dengan cara yang berbeda. Selama ini, ketika membicarakan sejarah manusia purba, perhatian sering kali tertuju pada fosil, alat batu, atau lukisan gua.
Temuan tentang pinang ini menunjukkan bahwa gigi manusia juga bisa menyimpan cerita lain, yaitu tentang kebiasaan, rasa sakit, dan cara manusia mencari sesuatu yang dapat mengubah pengalaman tubuhnya.
Meskipun 25.000 tahun adalah jarak yang sulit dibayangkan. Namun, di balik angka tersebut ada manusia yang mencari cara untuk menghadapi rasa sakit dan mengubah pengalaman tubuhnya. Yang berubah adalah zamannya, teknologinya, dan cara kita memahami tubuh.