Talenta Vokasi Dituntut Adaptif Hadapi Perubahan Dunia Kerja |Republika Online

calendar_today 16.09.2026 - person  - timer ~

REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG SELATAN — Perubahan kebutuhan dunia kerja membuat lulusan pendidikan vokasi tidak cukup hanya mengandalkan keterampilan teknis. Talenta vokasi juga dituntut mampu beradaptasi, membangun jejaring, bekerja lintas sektor, serta mengubah kompetensi menjadi karya dan peluang ekonomi.

Direktur Sekolah Vokasi Universitas Terbuka (UT) Muhammad Yunus mengatakan, “Mereka juga dituntut mampu beradaptasi, membangun jejaring, bekerja lintas sektor, serta mengubah kompetensi menjadi karya dan peluang ekonomi,” saat Seminar Nasional Sekolah Vokasi UT 2026 di UTCC, Tangerang Selatan, Selasa (15/9/2026).

Menurut Yunus, perubahan tersebut membuat hubungan antara pendidikan vokasi dan dunia kerja perlu diperkuat. Kompetensi yang diperoleh mahasiswa perlu disesuaikan dengan kebutuhan industri dan perkembangan sektor usaha.

“Pendidikan vokasi, tidak hanya berkaitan dengan penguasaan kompetensi. Lebih dari itu, kompetensi mahasiswa perlu terhubung dengan kebutuhan dunia kerja dan perkembangan industri,” jelas Yunus.

Kebutuhan tersebut menjadi salah satu isu yang dibahas dalam Seminar Nasional Sekolah Vokasi UT 2026 bertema “Learn, Link, Lead: Empowering Vocational Talent through Academia–Industry Collaboration”. Forum tersebut membahas keterhubungan pendidikan vokasi dengan perguruan tinggi, dunia industri, dunia usaha, pemerintah, serta ekosistem ekonomi kreatif.

Penguatan hubungan dengan dunia kerja dilakukan Sekolah Vokasi UT melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dan nota kesepakatan (MoA) dengan sejumlah mitra. Kerja sama tersebut mencakup pengembangan kompetensi, pembelajaran berbasis praktik, dan penguatan jejaring industri.

Selain kebutuhan industri, talenta vokasi juga menghadapi peluang yang berkembang di sektor ekonomi kreatif. Keterampilan teknis perlu dikembangkan menjadi kemampuan menciptakan karya dan nilai ekonomi agar lulusan tidak hanya bergantung pada jalur pekerjaan konvensional.

Perspektif tersebut dibahas dalam keynote speech Kementerian Ekonomi Kreatif Republik Indonesia bertajuk “Vokasi Meets Creative Economy: Dari Kompetensi Menjadi Kreasi dan Kekuatan Ekonomi”. Pembahasan tersebut menyoroti hubungan antara kompetensi pendidikan vokasi dengan pengembangan karya, inovasi, dan aktivitas ekonomi kreatif.

Perubahan pola kebutuhan tenaga kerja dan perkembangan ekonomi kreatif membuat pendidikan vokasi perlu memperluas ukuran kesiapan lulusan. Penguasaan kompetensi teknis tetap menjadi dasar, tetapi kemampuan beradaptasi, membangun jejaring, dan mengembangkan kompetensi menjadi karya turut menentukan ruang kontribusi talenta vokasi di dunia kerja.