Jakarta -
Gen Z ini tinggalkan karier di bidang IT dan pilih jadi penjual wanton mee. Ia bangun pukul 05.00, belajar tanpa gaji, hingga akhirnya mengambil alih kedai.
Adalah Poh Kang, gen Z asal Malaysia sebelumnya bekerja di bidang IT. Bagi Poh Kang, bekerja di bidang teknologi sempat menjadi pilihan yang dianggap paling aman untuk masa depan.
Namun, di usia 23 tahun, ia justru meninggalkan karier di bidang IT dan memilih berjualan wanton mee di Petaling Jaya, Malaysia, seperti yang dikutip dari Weird Kaya (12/9).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Poh Kang sebelumnya menempuh pendidikan selama empat tahun dengan spesialisasi pengembangan gim. Setelah lulus, ia bekerja di industri tersebut selama lebih dari setahun dengan gaji yang cukup baik dan peluang karier yang menjanjikan.
Gen Z banting stir jadi penjual wonton mee. Foto: Instagram/@pohkangg____
Meski tidak memiliki masalah dengan pekerjaannya, Poh Kang mulai merasa bosan. Ia kemudian menyadari bahwa minatnya justru lebih besar pada dunia makanan dan minuman atau F&B.
"Saya memilih IT karena orang-orang selalu mengatakan masa depan dan prospek kariernya lebih baik. Ketika mendengar suatu industri bagus, kita biasanya mengikutinya," ujar Poh Kang.
Ketertarikannya pada dunia kuliner ternyata sudah muncul sejak kecil. Keluarganya telah berjualan bak kut teh selama sekitar 40 tahun dan Poh Kang tumbuh dengan melihat ibunya bekerja keras di warung.
Saat masih di Sekolah Dasar (SD), ia bahkan sudah membayangkan dirinya menjadi pedagang makanan. Namun, setelah melihat beratnya kehidupan sebagai pedagang kaki lima, Poh Kang sempat memilih jalur karier profesional dan menekuni IT.
Gen Z banting stir jadi penjual wonton mee. Foto: Instagram/@pohkangg____
Keputusannya berubah ketika ia sering mengunjungi sebuah kedai wanton mee di dekat rumah. Ia kemudian mengetahui bahwa pemilik kedai tersebut sedang mencari orang untuk meneruskan bisnis karena keluarganya tidak tertarik melanjutkannya.
Peluang tersebut membuat Poh Kang memberanikan diri keluar dari pekerjaan IT. Dengan dukungan ibunya, ia belajar langsung kepada pemilik kedai selama sekitar empat hingga lima bulan tanpa menerima gaji.
Setiap hari, Poh Kang beraktivitas sejak pukul 05.00. Ia membeli bahan, menyiapkan kedai, membuat pangsit wanton, hingga mempelajari cara mengolah setiap komponen dalam semangkuk wanton mee.
Salah satu keahlian yang ia pertahankan adalah membuat char siu menggunakan arang. Menurutnya, metode tersebut memang lebih sulit karena panasnya tidak mudah dikontrol, tetapi menghasilkan aroma dan rasa khas.
"Sebagian besar char siu dibuat menggunakan gas karena jauh lebih mudah. Panas dari arang lebih sulit dikontrol, tetapi memberikan cita rasa yang khas. Karena itu, saya masih ingin mempertahankan cara ini," jelasnya.
Setelah sekitar empat bulan belajar, pemilik kedai akhirnya pensiun dan Poh Kang mengambil alih usaha tersebut. Ia bahkan sudah menghabiskan sebagian besar tabungannya untuk bisnis itu sehingga tidak ada pilihan untuk mundur.
Awalnya, ia sempat cemas apakah kedai tersebut bisa menjadi sumber penghasilan yang cukup. Namun, bisnisnya perlahan mampu mencapai titik impas dan ia mulai melihat pelanggan lama kembali datang.
Bagi Poh Kang, tantangan terbesar bukan sekadar menjual sebanyak mungkin mangkuk wanton mee. Ia justru ingin memastikan setiap hidangan yang keluar dari kedainya memiliki rasa yang konsisten dan sesuai dengan harapan pelanggan.
"Anda harus mau berubah dan menerima pendapat orang lain. Kalau pelanggan memberikan masukan, kita harus mendengarkannya, kecuali mereka memang sengaja membuat masalah," katanya.
Menjadi pedagang juga membuat Poh Kang memiliki lebih banyak waktu untuk berolahraga dan memikirkan konten mengenai kedainya. Namun, kebebasan itu harus dibayar dengan berkurangnya waktu bersosialisasi karena ia harus bangun sejak pagi.
"Saya tidak bisa mengatakan pekerjaan ini tidak melelahkan. Jelas sangat menguras fisik," ujarnya sambil tertawa.
Meski sudah meninggalkan dunia IT, Poh Kang tidak menyarankan orang lain langsung resign hanya karena merasa bosan dengan pekerjaannya. Menurutnya, keputusan besar seperti itu harus disertai perencanaan yang matang.
"Jangan langsung berhenti tanpa punya rencana. Anda harus memikirkan apa yang akan dilakukan selanjutnya, bagaimana menjalankannya, dan memiliki semacam strategi," pungkasnya.
Untuk saat ini, Poh Kang belum berniat mengembangkan kedai wanton mee miliknya menjadi jaringan besar. Ia memilih fokus membuat semangkuk wanton mee yang enak dan membuat pelanggan ingin kembali lagi.
(raf/adr)