Studio Ikaten Olah Batik Klasik Jadi Menswear Modern, Bidik Pasar Ekspor di JMFW 2026

calendar_today 18.10.2026 - person  - timer ~

AKURAT.CO Jenama fesyen asal Sragen, Studio Ikaten, memanfaatkan Jakarta Muslim Fashion Week (JMFW) 2026 untuk memperkenalkan busana pria yang memadukan batik klasik dengan sentuhan modern.

Melalui koleksi bertajuk Tumurun, jenama yang berdiri sejak Agustus 2020 ini berupaya membawa warisan budaya ke pasar fesyen yang lebih luas.

Pendiri sekaligus desainer Studio Ikaten, Aulia Aksan mengatakan, koleksi Tumurun mengangkat motif batik klasik dengan pendekatan desain kontemporer.

Baca Juga: Jan Ayu Ubah Tapis Lampung Jadi Busana Harian di JMFW 2026, Bidik Pasar Profesional

Alih-alih mengubah motif aslinya, Studio Ikaten memilih mengeksplorasi warna, potongan busana, serta kombinasi material agar lebih sesuai dengan selera generasi muda.

"Jadi, tiap warisan itu cuma punya cerita, dan hal itu pengen kita turunkan ke generasi muda. Oleh karena itu, di koleksi kita itu mostly kita menggunakan motif batik klasik, tapi kita buat lebih fresh dari segi warna, kemudian styling," ujar Aulia saat ditemui di JMFW 2026.

Dalam koleksi tersebut, Studio Ikaten menggunakan motif ceplok yang dikembangkan dari motif truntum. Pilihan warna kuning menjadi salah satu pembeda dari karakter batik Solo yang identik dengan warna sogan atau cokelat dan hitam.

Aulia menjelaskan, pemilihan motif geometris dan berulang dilakukan agar karakter batik tetap terlihat meskipun kain dipotong dan ditempatkan pada bagian tertentu dari pakaian. Pendekatan ini juga memberikan keleluasaan bagi desainer untuk mengembangkan siluet busana yang lebih modern.

"Jadi sengaja semua warna kuning, karena kita pengen memberi warna baru di Solo. Kalau biasanya kan Solo biasanya khasnya sogan, cokelat, hitam, nah di koleksi ini aku pengen bener-bener tampil lebih fresh, lebih anak muda lagi dan lebih segar," katanya.

Untuk material batik, Studio Ikaten menggunakan kain dari perajin lokal Solo, Batik Adi Busana. Pemilihan tersebut sekaligus menjadi upaya mengangkat produk perajin daerah melalui kolaborasi dengan industri fesyen.

Aulia mengatakan pengembangan motif klasik membutuhkan pertimbangan tersendiri, terutama ketika motif tersebut memiliki nilai budaya yang kuat. Menurutnya, motif geometris yang berulang lebih mudah diadaptasi ke dalam desain kontemporer tanpa menghilangkan karakter utamanya.