Jumat, 4 September 2026 17:00 WIB
Ilustrasi - Tampilan aplikasi Kredivo. ANTARA/HO-Kredivo
Jakarta (ANTARA) - Studi Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI) bersama Kredivo Group mencatat bahwa sekitar 54 persen kredit yang disalurkan melalui Kredivo pada 2025 digunakan untuk kebutuhan produktif.
Kebutuhan ini mulai dari modal usaha, renovasi rumah, pendidikan, hingga kesehatan. Data tersebut merupakan temuan awal studi yang melihat kontribusi layanan paylater dan pinjaman tunai (dari KrediFazz) terhadap perluasan akses kredit, perilaku finansial masyarakat, pemberdayaan UMKM, serta aktivitas ekonomi yang lebih luas.
Wakil Kepala Bidang Penelitian dan Pelatihan LD FEB UI Paksi Walandouw dalam keterangannya di Jakarta, Jumat, mengatakan studi tersebut bertujuan memberikan perspektif berbasis bukti mengenai peran kredit digital di Indonesia.
Di tengah pertumbuhan industri yang pesat dan diskursus publik yang berkembang, Paksi menambahkan bahwa perspektif berbasis bukti menjadi penting untuk melihat bagaimana kredit digital benar-benar bekerja dalam konteks sosial ekonomi Indonesia.
“Ketika sebuah layanan sudah menjadi fenomena sosial dalam skala ini, pertanyaan tentang dampaknya tidak lagi dapat dilihat hanya dari pertumbuhan industri, tetapi juga dari bagaimana ia memengaruhi kehidupan ekonomi masyarakat sehari-hari,” kata Paksi.
Dari sisi inklusi keuangan, hasil studi menyebutkan bahwa satu dari enam pengguna aktif Kredivo pada 2025 merupakan pengakses kredit pertama.
Profil pengguna tersebut didominasi kelompok yang selama ini relatif kurang terjangkau layanan kredit formal, yaitu 48 persen perempuan dan 57 persen berusia di bawah 30 tahun.
Di segmen UMKM, 97 persen penerima pinjaman modal usaha merupakan pelaku usaha mikro, sementara sekitar 40 persen memperoleh akses kredit formal pertama melalui Kredivo.
Chief Marketing Officer Kredivo Indina Andamari mengatakan, temuan-temuan tersebut baru menggambarkan permukaan dari perubahan yang terjadi selama satu dekade terakhir.
“Sepuluh tahun lalu, Kredivo hadir untuk membantu menjawab kesenjangan akses kredit di Indonesia. Seiring waktu, layanan kami berkembang dari membuka akses pembiayaan menjadi bagian dari perjalanan finansial jutaan masyarakat,” kata Indina.
Ia menambahkan bahwa studi ini memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai kontribusi tersebut, sekaligus menjadi masukan bagi perusahaan untuk terus menghadirkan layanan yang semakin relevan, inklusif, dan bermanfaat bagi konsumen Indonesia dengan ragam kebutuhan yang terus berkembang dinamis.
Studi dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif dengan melibatkan ratusan pengguna serta puluhan pelaku UMKM di berbagai provinsi. Analisis juga didukung data internal Kredivo dan berbagai data sekunder.
Adapun hasil lengkap dari studi ini akan dipublikasikan dalam Laporan Dampak Sosial dan Ekonomi Kredivo yang dijadwalkan rilis pada 10 September 2026.
Perusahaan menyampaikan, laporan tersebut diharapkan dapat menjadi referensi bagi stakeholders dalam memahami peran kredit digital berdasarkan bukti empiris.
Dengan begitu, diskusi mengenai industri ini tidak hanya berfokus pada pertumbuhan maupun risiko konsumsi, tetapi juga pada kontribusinya terhadap inklusi keuangan, peningkatan kesejahteraan masyarakat, dan pembangunan ekonomi.
Pewarta : Rizka Khaerunnisa
Editor:
Andriy Karantiti
COPYRIGHT © ANTARA 2026