Strategi logistik hijau pengendalian inflasi

calendar_today 29.07.2026 - person  - timer ~

Hibridasi armada diesel dan kendaraan listrik menawarkan solusi yang realistis bagi Indonesia. Selain mendukung target dekarbonisasi sektor transportasi, pendekatan ini memperkuat ketahanan rantai pasok pangan, meningkatkan efisiensi distribusi, dan

Jakarta (ANTARA) - Inflasi pangan masih menjadi tantangan yang terus berulang dalam perekonomian Indonesia. Setiap kali harga cabai, bawang merah, beras, maupun berbagai komoditas hortikultura melonjak, perhatian publik hampir selalu tertuju pada menurunnya produksi atau gangguan cuaca yang mengacaukan pola dan musim tanam.

Padahal, persoalan yang kerap luput dari sorotan justru terletak pada rantai distribusi. Komoditas sebenarnya tersedia di sentra-sentra produksi, tetapi biaya untuk mengantarkannya ke pasar-pasar utama terus meningkat akibat tingginya ongkos logistik.

Fenomena ini menunjukkan bahwa stabilitas harga pangan tidak hanya ditentukan oleh kecukupan pasokan, tetapi juga oleh seberapa efisien bahan pangan bergerak dari sentra produksi menuju meja makan masyarakat.

Karena itu, upaya menekan biaya distribusi menjadi bagian yang tak terpisahkan dari strategi pengendalian inflasi pangan. Dengan kontribusi biaya logistik yang diperkirakan mencapai 20 hingga 40 persen dari harga eceran beberapa komoditas, setiap peningkatan efisiensi transportasi akan memberikan dampak langsung terhadap upaya stabilisasi harga pangan di tingkat konsumen.

Dalam konteks inilah, elektrifikasi armada logistik menghadirkan peluang baru. Selama ini, kendaraan listrik lebih banyak diposisikan sebagai bagian dari agenda transisi energi dan pengurangan emisi karbon. Padahal, manfaat ekonominya jauh lebih luas, termasuk menciptakan struktur biaya logistik yang lebih stabil.

Hasil kajian Institute for Essential Services Reform (IESR) menunjukkan bahwa dalam jangka panjang penggunaan truk listrik secara penuh mampu menekan biaya energi hingga 78 persen dibandingkan kendaraan diesel. Efisiensi tersebut berasal dari konsumsi energi yang lebih rendah serta kebutuhan perawatan yang lebih sederhana. Dengan berkurangnya ketergantungan terhadap fluktuasi harga Bahan Bakar Minyak (BBM), biaya distribusi pangan menjadi lebih terkendali.

Artinya, kendaraan listrik tidak hanya menghasilkan udara yang lebih bersih, tetapi juga berpotensi memperkuat stabilitas harga pangan melalui penurunan biaya logistik.

Meski demikian, elektrifikasi tidak serta-merta dipahami sebagai langkah penggantian armada diesel secara total. Kita dapat membangun pendekatan yang lebih realistis melalui sistem logistik hibrida yang memanfaatkan keunggulan kedua teknologi.

Truk diesel tetap berperan pada distribusi antarkota dan jarak jauh yang membutuhkan daya jelajah tinggi, sedangkan truk listrik difokuskan pada distribusi perkotaan atau last-mile delivery. Pola hub-and-spoke memungkinkan perpindahan muatan di pusat distribusi sebelum barang dikirim ke pasar menggunakan armada listrik.

Strategi ini juga mengurangi kendala berupa keterbatasan jarak tempuh dan waktu pengisian baterai, sekaligus memaksimalkan efisiensi operasional.

Namun, harus diakui terdapat beberapa aspek lain dalam pengoperasian kendaraan listrik, salah satunya isu biaya per kilometer penggunaan ban yang lebih tinggi dibandingkan kendaraan konvensional. Beberapa perusahaan telah memperkenalkan teknologi ban yang lebih baru untuk mengatasi hal ini (low rolling resistance).

Baca juga: Pelindo Solusi Logistik Group Wujudkan Ekonomi Hijau melalui Program TJSL MADANI

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.