Bandung (ANTARA) - Ada sesuatu yang menarik dari stabilitas ekonomi. Kita sering baru menyadari nilainya ketika ia mulai menghilang. Selama harga relatif terkendali, nilai tukar bergerak wajar, sistem keuangan bekerja dengan baik, serta masyarakat dapat bertransaksi tanpa gangguan, stabilitas seolah menjadi keadaan biasa. Namun, ketika gejolak datang, kita segera memahami bahwa stabilitas menyentuh kehidupan masyarakat secara luas.
Sejarah memberikan banyak pelajaran mengenai hal tersebut. Gejolak ekonomi memang merupakan bagian dari dinamika perekonomian. Fluktuasi harga aset, nilai tukar, ataupun aktivitas ekonomi tidak selalu berarti krisis. Persoalan muncul ketika fluktuasi menjadi terlalu besar, berlangsung lama, dan mengganggu keberlangsungan ekonomi. Pada titik tersebut, gejolak dapat berubah menjadi instabilitas, kemudian merambat menjadi krisis.
Sektor keuangan berperan penting dalam proses tersebut. Perbankan, pasar modal, pasar uang, pasar obligasi, dan berbagai instrumen keuangan pada dasarnya menjalankan fungsi intermediasi yang mendukung kegiatan ekonomi. Modal berpindah dari pihak yang memiliki kelebihan dana menuju kegiatan produktif yang membutuhkan pembiayaan. Ketika mekanisme berjalan baik, investasi berkembang dan kegiatan ekonomi memperoleh ruang untuk tumbuh.
Namun, perkembangan sektor keuangan juga membawa risiko. Informasi, ekspektasi, dan perilaku pelaku pasar dapat menyebabkan harga aset bergerak jauh dari kondisi fundamentalnya. Optimisme berlebihan dapat mendorong harga terus naik, sementara perubahan ekspektasi dapat dengan cepat berubah menjadi kepanikan. Ketika proses tersebut terjadi secara luas, masalah yang semula berada di pasar keuangan dapat merambat kepada sektor riil.
Ketua Instabilitas Menjadi Biaya Sosial
Krisis Asia 1997-1998 memberikan gambaran nyata mengenai proses tersebut. Gejolak yang bermula dari tekanan nilai tukar di Thailand dengan cepat menjalar ke berbagai negara Asia, termasuk Indonesia. Tekanan di sektor keuangan kemudian bertransformasi menjadi persoalan ekonomi yang jauh lebih luas. Pertumbuhan melemah, perusahaan menghadapi kesulitan, pengangguran meningkat, dan kesejahteraan masyarakat tertekan.
Pengalaman serupa muncul dalam berbagai episode krisis lainnya. Krisis keuangan global 2007-2008 menunjukkan bagaimana persoalan pada pasar perumahan dan produk keuangan dapat menyebar menuju perbankan, investasi, perdagangan, hingga perekonomian dunia.
Bentuk krisis memang berubah mengikuti perkembangan zaman, tetapi terdapat satu pola yang relatif sama. Ketika instabilitas tidak dapat diredam, biaya yang muncul tidak hanya ditanggung oleh pelaku yang mengambil risiko di pasar keuangan. Di sinilah gagasan mengenai stabilitas sebagai barang publik menjadi relevan.
Stabilitas tidak menghasilkan barang yang dapat kita pegang, tetapi manfaatnya dirasakan masyarakat secara luas. Inflasi yang terkendali membantu menjaga daya beli. Sistem keuangan yang stabil memungkinkan kegiatan pembiayaan tetap berjalan. Stabilitas makroekonomi memberikan ruang untuk membuat keputusan ekonomi dengan horizon yang lebih panjang.
Sebaliknya, ketika stabilitas terganggu, masyarakat yang bahkan tidak pernah bertransaksi di pasar saham sekalipun dapat menanggung akibatnya. Karena itu, stabilitas tidak seharusnya dipertentangkan dengan pertumbuhan. Justru stabilitas menyediakan fondasi agar pertumbuhan dapat berlangsung lebih sehat dan berkelanjutan.
Namun, sejarah menunjukkan bahwa mekanisme pasar tidak selalu mampu mengoreksi gejolak secara cepat tanpa menimbulkan biaya yang besar bagi masyarakat. Pada kondisi inilah kehadiran otoritas publik memperoleh relevansinya.
Menjaga Stabilitas, Mendukung Pertumbuhan
Pewarta: Adhy Ramawan Putra (*)
Editor : Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.