Juara Eropa, Spanyol, dijadwalkan akan menantang sang juara bertahan, Argentina, dalam partai final ideal di Stadion New York New Jersey, New Jersey, Amerika Serikat, pada Minggu (19/7/2026) malam setempat atau Senin dini hari WIB.
Jelang duel adu gengsi tersebut, Aymeric Laporte memperingatkan "korps baju hitam" untuk bertindak tegas agar pertandingan tidak berujung menjadi kekacauan.
Kritik Laporte didasari oleh catatan miring laga semifinal antara Argentina kontra Inggris. Pada laga yang berakhir 2-1 untuk kemenangan tim Albiceleste tersebut, armada Lionel Scaloni tercatat melakukan 15 kali pelanggaran keras demi meredam agresivitas Tiga Singa.
Salah satu momen yang paling disorot adalah pelanggaran keras Enzo Fernandez dari belakang yang mengenai leher pemain Inggris, Elliot Anderson, saat laga baru berjalan tiga menit, namun luput dari kartu wasit.
"Tugas wasit adalah mengendalikan hal-hal seperti ini agar situasi tidak lepas kendali. Jika satu atau dua pemain dibiarkan bertindak kasar, pertandingan akan berubah menjadi kekacauan," kata Laporte kepada harian olahraga Spanyol, Marca.
Mantan bek Manchester City berusia 32 tahun itu menambahkan, dirinya sama sekali tidak gentar dengan kontak fisik selama masih dalam koridor regulasi.
Namun, ia menyayangkan taktik Argentina yang dinilainya sengaja ingin mencederai lawan.
"Khusus untuk Argentina, mereka adalah tim yang suka 'meninggalkan bekas' (luka) pada lawan mereka. Hal semacam itu seharusnya tidak dibolehkan dalam sepakbola, terutama di kompetisi sebesar Piala Dunia, karena itu bisa merusak fokus dan memancing emosi Anda," jelas Laporte.
Tuduhan miring serupa sebelumnya juga sempat dilayangkan oleh kubu Mesir di babak 16 besar lalu.
https://www.akurat.co/bola/874140/spanyol-vs-argentina-lionel-scaloni-melawan-sang-guru-luis-de-la-fuente-di-final-piala-dunia
Mereka menuding adanya keberpihakan wasit yang membiarkan gaya main keras Argentina demi meloloskan sang megabintang, Lionel Messi.
Berbeda dengan pernyataan frontal Laporte, pelatih kepala Timnas Spanyol, Luis De La Fuente dan sang kapten Rodri justru memilih melemparkan jawaban diplomatis saat menghadiri konferensi pers di New York, Jumat (17/7/2026).
De La Fuente menegaskan rasa hormatnya yang setinggi langit kepada sang juara bertahan demi menjaga kondusivitas atmosfer final.
"Saya menghormati semua pendapat. Namun saya harus katakan, saya memiliki kekaguman terbesar untuk Argentina yang merupakan juara Amerika dan juara dunia saat ini," kata De La Fuente.
Senada dengan sang mentor, jenderal lapangan tengah Rodri meminta rekan-rekannya untuk menutup telinga dan fokus pada permainan sepakbola mereka sendiri ketimbang meladeni provokasi lawan.
"Saya ingin berpikir bahwa Argentina adalah tim yang memberikan kemampuan terbaik mereka tanpa berniat bermain kotor," tutur gelandang Manchester City tersebut.
"Namun, jika situasi di lapangan mengarah ke sana, kami harus mengabaikannya dan tetap memainkan gaya kami agar tidak terpancing provokasi."
De La Fuente juga membawa kabar baik bahwa wonderkid Lamine Yamal dipastikan fit dan siap tampil di laga final setelah sempat diistirahatkan dalam sesi latihan terakhir.
Laga final ini menjadi misi pembuktian bagi Argentina yang berambisi menjadi tim putra pertama sejak Brasil (edisi 1958 dan 1962) yang mampu menjuarai Piala Dunia dua edisi berturut-turut.