Sosiolog Sebut Tren Melukat Dipicu Kebutuhan Healing Masyarakat Urban |Republika Online

calendar_today 30.07.2026 - person  - timer ~

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ritual melukat belakangan menjadi tren di kalangan anak muda. Bahkan, tak sedikit figur publik yang membagikan pengalaman mengikuti ritual penyucian diri khas umat Hindu Bali tersebut di media sosial.

Sosiolog dari IPB University, Dr Ivanovich Agusta, menilai popularitas melukat tidak bisa dilepaskan dari pertemuan antara kebutuhan psikologis masyarakat modern, perkembangan media sosial, serta industri wellness tourism. la menjelaskan, melukat pada dasarnya merupakan ritual keagamaan Hindu Bali berupa penyucian diri secara sekala dan niskala atau lahir dan batin menggunakan air yang telah disucikan.

"Ritual yang pada mulanya bersifat religius-profan lokal kini bertransformasi menjadi ruang perjumpaan antara kebutuhan psikologis masyarakat modern, dinamika media sosial, dan industri pariwisata," kata Ivanovich saat dihubungi Republika, Rabu (29/7/2026).

Menurut Ivanovich, masyarakat urban hidup dalam ritme kerja yang cepat, kompetitif, dan penuh tekanan struktural. Kondisi tersebut memicu kecemasan dan rasa keterasingan sehingga melukat dipersepsikan sebagai instrumen katarsis melalui media air dan lanskap alam yang tenang.

la mengatakan, cara masyarakat mengatasi stres juga mengalami perubahan. Jika sebelumnya lebih banyak dilakukan melalui konsumsi hiburan seperti berbelanja atau hiburan malam, kini mulai bergeser menuju konsep kesehatan yang lebih holistik melalui wellness tourism.

"Dulu, healing itu dilakukan dengan konsumerisme konvensional seperti berbelanja dan hiburan malam. Kini, terjadi pergeseran menuju pendekatan kesehatan yang lebih holistik melalui wellness tourism, yang menggabungkan kesehatan fisik, ketenangan mental, dan keindahan estetika tempat, serta menjadikan ritual tradisional sebagai bentuk alternatif self-care," kata Ivanovich yang juga menjabat Kepala Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan IPB.

Selain itu, menurut dia, wisatawan kini tidak lagi hanya mencari pemandangan atau hiburan, namun juga pengalaman yang bersifat personal, emosional, dan bermakna. Melukat sendiri menawarkan sekaligus suasana alam, air, keheningan, ritual, simbol penyucian, serta narasi tentang melepaskan beban dan memulai kembalì.

"Unsur itu sesuai dengan kebutuhan wisatawan kontemporer terhadap pengalaman holistik dan transformatif," kata dia.

Ivanovich juga melihat adanya pergeseran cara generasi muda memaknai spiritualitas. Menurut dia, anak muda urban mulai meninggalkan pola keagamaan formal yang cenderung dogmatis menuju spiritualitas yang lebih personal, fleksibel, dan dekat dengan alam.

Dalam konteks itu, melukat menawarkan pengalaman spiritual yang inklusif karena peserta tidak dituntut berpindah keyakinan, melainkan diajak merasakan proses penyucian batin yang bersifat universal.

"Selain itu, generasi muda juga memiliki ketertarikan terhadap pengalaman budaya yang dianggap autentik, unik, dan berbeda dari rutinitas sehari-hari," kata dia.

Ivanovich mengatakan fenomena melukat tidak bisa dipandang semata-mata sebagai pencarian ketenangan ataupun sekadar mengikuti tren media sosial. Menurutnya, kedua faktor tersebut saling berkaitan dan saling memperkuat.

Sebagian orang, kata dia, mengikuti melukat karena sedang menghadapi masa transisi kehidupan, mengalami tekanan, atau ingin melakukan refleksi diri. Namun, ada pula yang mengenanya melalui unggahan selebritas, influencer, maupun teman di media sosial.

la menilai media sosial tidak hanya menjadi sumber informasi, tetapi juga ruang untuk menunjukkan bahwa seseorang telah mengikuti pengalaman yang sedang populer. "Selebriti berfungsi sebagai opinion leader dan penyedia social proof. Ketika pengalaman melukat ditampilkan berulang kali oleh figur terkenal, ritual itu menjadi lebih terlihat, dianggap menarik, aman untuk diikuti, dan akhirnya menjadi bagian dari daftar pengalaman yang harus dilakukan ketika datang ke Bali," ujar Ivanovich.