Kabupaten Bogor (ANTARA) - SMA Kemala Taruna Bhayangkara (KTB) di Gunungsindur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, menerbitkan dua buku karya siswa kelas XI yang dikembangkan dari tugas pembelajaran melalui proses penulisan hingga penyuntingan selama sekitar sembilan bulan.
Kepala SMA Kemala Bhayangkara Hendri Adi di Bogor, Minggu, mengatakan dua buku tersebut diluncurkan dalam rangka memperingati Bulan Bahasa sekaligus mendorong keberanian siswa menuangkan pengalaman dan pemikirannya melalui tulisan.
“Halangan utama orang untuk merefleksikan apa yang dipikirkan dalam bentuk tulisan adalah memulai. Anak-anak ini berhasil melampaui itu dan hari ini kami disajikan dua buku karya pertama mereka,” kata Hendri.
Dua buku tersebut yakni Echoes of Heritage yang berisi kumpulan kolom atau opini siswa serta Suara Dari Masa Depan berupa antologi karya sastra.
Menurut Hendri, Echoes of Heritage berawal dari penugasan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Para siswa diminta merefleksikan pengalaman ketika berinteraksi dengan budaya, kemudian mengembangkannya menjadi tulisan berbentuk opini.
Program tersebut kemudian dikembangkan agar tulisan siswa tidak berhenti sebagai tugas pembelajaran, tetapi menjadi karya yang dapat dibaca masyarakat.
“Tidak hanya sekadar mempersiapkan dan menuangkan ide, tetapi bagaimana ide itu menjadi karya,” ujarnya.
Proses penerbitan kedua buku berlangsung sekitar sembilan bulan sejak dimulai pada Februari 2026. Siswa melewati sejumlah tahapan mulai dari penulisan, pengumpulan naskah, kurasi, penyuntingan bersama penulis profesional, hingga pencetakan.
Sekolah menjadikan proses tersebut sebagai bagian dari upaya membangun budaya literasi sekaligus memberikan pengalaman kepada siswa mengenai tahapan menghasilkan sebuah karya tulis hingga diterbitkan.
Sementara itu, Direktur Kebhayangkaraan Irjen Pol M Sugiarto mengingatkan para siswa agar tetap mengandalkan pemikiran dan pengalaman pribadi sebagai dasar menulis di tengah perkembangan teknologi kecerdasan artifisial (AI).
Menurut dia, penggunaan AI sulit dilepaskan dari perkembangan teknologi saat ini. Namun, teknologi tersebut sebaiknya menjadi alat bantu setelah siswa terlebih dahulu membangun dan menuangkan gagasannya sendiri.
“Kalau kita menyatakan bagaimana pengaruh AI di zaman sekarang, hampir tidak mungkin kita tidak melirik AI, tetapi seberapa orisinal tulisan kita? Tulis dulu, tuangkan pikiran kita, baru dalam proses selanjutnya melibatkan AI,” kata Sugiarto.
Ia berharap penerbitan dua buku itu menjadi langkah awal bagi para siswa untuk terus menghasilkan karya lainnya yang dapat memberikan manfaat kepada masyarakat.
“Setelah kita mencoba dan berhasil, Insyaallah kita akan memancing karya-karya yang lain. Jadi, terus berkarya. Negara ini membutuhkan karya-karya, bukan sekadar orang yang pintar. Karya yang bisa dirasakan orang lain,” ujarnya.
Pewarta: Antara
Editor : M Fikri Setiawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.