SilverFox Sebar Malware Lewat Aplikasi Claude Palsu, Indones

calendar_today 09.08.2026 - person  - timer ~

Selular.ID – Kelompok Advanced Persistent Threat (APT) SilverFox kembali memperlihatkan pola serangan yang memanfaatkan tren kecerdasan buatan (AI).

Kelompok yang disebut sebagai salah satu APT paling aktif di kawasan Asia Pasifik (APAC) tersebut kini menyebarkan malware dengan menyamar sebagai aplikasi Claude untuk Windows, macOS, dan Linux.

Temuan ini diungkap peneliti Kaspersky Global Research and Analysis Team (GReAT) dalam Kaspersky Cyber Security Weekend di Guangzhou, China.

SilverFox sebelumnya telah terdeteksi Kaspersky sejak Desember 2025 dan dikenal menggunakan metode serangan bertahap dengan infrastruktur yang dipisahkan untuk setiap tahap, sehingga lebih sulit dideteksi dan diblokir secara keseluruhan.

Baca juga:
  • Ancaman Siber Indonesia Mirip di Negara Maju, Tetapi Ada Perbedaannya
  • Apakah Masyarakat Indonesia Sadar akan Ancaman Siber? Ini Jawabannya

Menurut Ye Jin (Seth), Senior Security Researcher Kaspersky GReAT, SilverFox menjadi salah satu kelompok ancaman yang paling aktif di APAC.

Kelompok tersebut memanfaatkan tiga jalur utama untuk memasuki perangkat korban, yakni situs palsu, email phishing, dan file berbahaya yang disebarkan melalui aplikasi pesan.

Tonton juga:

Video Rekomendasi Untuk Anda

“SilverFox adalah salah satu kelompok ancaman paling aktif di seluruh kawasan APAC,” ujar Ye Jin.

Ia menjelaskan, malware yang disebarkan digunakan untuk aktivitas spionase siber jangka panjang dan pengumpulan data sensitif.

Sasar Perusahaan di Indonesia

Aktivitas terbaru SilverFox tidak hanya menyasar satu negara. Dalam kampanye sebelumnya, kelompok tersebut menargetkan perusahaan di India, Indonesia, Afrika Selatan, dan Rusia.

Sektor yang menjadi sasaran mencakup industri, konsultasi, perdagangan, hingga transportasi.

Salah satu modus yang digunakan adalah mengirim email phishing yang dibuat seolah-olah merupakan pemberitahuan resmi audit pajak.

Korban juga diarahkan untuk mengunduh sebuah arsip yang diklaim berisi “daftar pelanggaran pajak”.

Dengan memanfaatkan nama lembaga pajak serta kesan mendesak dari pesan tersebut, penyerang berupaya membuat penerima membuka file dan memulai rangkaian serangan.

Kaspersky mencatat lebih dari 1.600 email berbahaya dalam kampanye tersebut sepanjang Januari hingga Februari 2026.

Kini, SilverFox mengembangkan pendekatan dengan memanfaatkan meningkatnya penggunaan AI di lingkungan perusahaan.

Aplikasi Claude palsu menjadi umpan baru untuk menembus pertahanan organisasi.

Claude sendiri merupakan asisten percakapan berbasis large language model (LLM) yang dikembangkan Anthropic dan digunakan untuk berbagai kebutuhan, termasuk menulis, pemrograman, menganalisis dokumen, serta menyelesaikan persoalan kompleks melalui percakapan.

Lebih dari 90% Serangan Menargetkan Greater China

Dari sisi geografis, APAC menjadi kawasan yang paling banyak terdampak aktivitas SilverFox, dengan volume serangan yang jauh lebih tinggi dibandingkan gabungan kawasan lainnya.

Greater China menjadi sasaran utama. Kaspersky menyebut lebih dari 90% seluruh serangan SilverFox menargetkan kawasan tersebut, sementara China daratan sendiri menyumbang 71%.

Myanmar, Kamboja, dan Singapura juga disebut sebagai wilayah yang perlu mendapat perhatian karena mencatat aktivitas serangan yang cukup tinggi.

Dari sektor industri, manufaktur menjadi target terbesar, dengan kontribusi lebih dari sepertiga seluruh serangan SilverFox.

Sektor teknologi informasi dan layanan berada di belakangnya, terutama karena banyak serangan phishing diarahkan kepada pekerja bidang teknologi.

Sektor kesehatan dan keuangan juga menghadapi risiko besar karena memiliki aset serta informasi bernilai tinggi.

AI Mulai Mengambil Alih Peran Penyerang

SilverFox bukan satu-satunya contoh perubahan lanskap serangan siber akibat AI. Kaspersky juga menyoroti kemunculan JADEPUFFER, yang disebut sebagai ransomware pertama yang sepenuhnya digerakkan oleh LLM.

Berbeda dengan pola serangan sebelumnya, ketika AI hanya berfungsi membantu operator manusia, JADEPUFFER menunjukkan AI dapat berperan sebagai pengambil keputusan sekaligus pelaksana serangan.

Dalam kasus tersebut, agen AI mampu menganalisis kegagalan serangan, memperbaiki pendekatan, kemudian meluncurkan serangan baru hanya dalam 31 detik.

Menurut Kaspersky, kecepatan tersebut melampaui kemampuan respons sebagian besar tim pertahanan yang masih mengandalkan proses manusia.

Perubahan ini membuat ancaman berbasis AI tidak hanya semakin cepat, tetapi juga lebih otonom.

AI agent dapat mengambil keputusan secara mandiri sepanjang proses serangan tanpa pengawasan langsung manusia.

ChatGPhish Manfaatkan Kepercayaan Pengguna pada AI

Ancaman lain yang disoroti adalah ChatGPhish, sebuah teknik indirect prompt injection yang memanfaatkan fitur AI untuk merangkum konten dari internet.

Dalam skenario tersebut, penyerang menyisipkan instruksi berbahaya ke dalam sebuah halaman web. Korban kemudian meminta asisten AI untuk merangkum halaman tersebut.

AI yang tidak menyadari keberadaan instruksi tersembunyi dapat meneruskan instruksi atau tautan berbahaya kepada pengguna.

Karena informasi tersebut muncul melalui antarmuka AI yang dipercaya pengguna, korban berpotensi lebih mudah menganggapnya aman.

Masalahnya, serangan seperti ini juga berpotensi menyulitkan perangkat keamanan tradisional.

Aktivitas yang terlihat dari sisi sistem bisa saja tampak seperti interaksi normal antara pengguna dan layanan AI, bukan serangan siber konvensional.

AI Membuat Malware Semakin Mudah Dibuat

Perkembangan AI juga menurunkan hambatan teknis bagi pelaku serangan siber.

Kaspersky mencontohkan VoidLink, framework malware berbasis AI dan cloud-native yang ditemukan pada Januari 2026.

Framework tersebut dilaporkan dikembangkan hampir seluruhnya dengan bantuan AI.

Kondisi tersebut memperlihatkan bagaimana AI generatif dapat mengubah cara malware canggih dibuat sekaligus membuat kemampuan tersebut semakin mudah diakses oleh pelaku dengan tingkat keahlian teknis yang lebih rendah.

Artinya, AI bukan hanya meningkatkan kemampuan kelompok APT yang sudah memiliki sumber daya besar.

Teknologi yang sama berpotensi memperluas akses terhadap kemampuan serangan siber yang sebelumnya membutuhkan keahlian khusus.

Kaspersky Dorong Pertahanan Berbasis AI

Menghadapi perkembangan tersebut, Kaspersky menilai strategi pertahanan juga perlu memanfaatkan AI.

Ada empat pendekatan yang disarankan untuk menghadapi ancaman berbasis AI.

Pertama, pertahanan proaktif. Perusahaan perlu beralih dari sekadar merespons insiden menjadi melakukan threat hunting berbasis AI untuk mencari ancaman yang belum dikenal.

Kedua, Zero Trust. Setiap permintaan akses perlu diverifikasi secara ketat untuk mengurangi risiko yang muncul dari kepercayaan internal dalam jaringan.

Ketiga, pertahanan sistematis. Perlindungan perlu mencakup endpoint, jaringan, aplikasi, hingga data, bukan hanya satu lapisan keamanan.

Keempat, AI versus AI. Perusahaan dapat memanfaatkan model AI dan teknologi dual-use untuk meningkatkan kemampuan deteksi serta respons secara real-time mengikuti perkembangan serangan.

“Ketika penyerang dapat memanfaatkan AI untuk mengotomatisasi pengambilan keputusan dan mempercepat setiap tahapan serangan, para defender harus merespons dengan tingkat kecerdasan yang sama,” kata Ye Jin.

Perkembangan SilverFox menunjukkan bahwa AI kini menjadi bagian dari medan pertempuran baru keamanan siber.

Bagi perusahaan di Indonesia dan kawasan APAC, ancamannya bukan lagi hanya email phishing konvensional atau malware yang mudah dikenali.

Penyamaran aplikasi AI populer, serangan berbasis AI agent, hingga kemampuan malware yang dikembangkan dengan bantuan AI memperlihatkan bahwa pertahanan siber perlu bergerak lebih cepat dari sebelumnya.