Siasat United Tractors (UNTR) Bidik Investasi Coking Coal untuk Industri Baja - Bursa Katadata.co.id

calendar_today 07.09.2026 - person  - timer ~

PT United Tractors Tbk (UNTR) kembali membuka peluang investasi baru di sektor pertambangan. Anak usaha PT Astra International Tbk (ASII) itu tengah melirik batu bara metalurgi atau coking coal, komoditas yang menjadi salah satu bahan baku utama industri besi dan baja.

Presiden Direktur UNTR, Iwan Hadiantoro mengatakan, perseroan menilai komoditas yang menjadi bahan baku industri baja tersebut masih memiliki prospek yang menarik. “Kami lihat prospeknya bagus dan hingga saat ini kami belum melihat ada substitusi untuk metallurgical coal ini,” kata Iwan dalam paparan publik 2026, Senin (7/9). 

Akan tetapi, Iwan belum memerinci porsi bisnis batu bara maupun energi hijau dalam portofolio UNTR ke depan. Ia mengatakan, strategi investasi perusahaan masih berfokus pada dua komoditas utama, salah satunya sektor pertambangan mineral yang mencakup emas, nikel, serta logam dasar lainnya seperti tembaga.

Ia mengaku porsi investasi United Tractors pada 2027 akan menyesuaikan kondisi keuangan perseroan dan peluang yang tersedia. Dengan skala bisnisnya, Iwan mengatakan UNTR akan membidik aset baru dengan skala yang cukup besar atau sizeable.

Nah tentunya untuk melihat size yang UT (United Tractors) sudah besar saat ini, kami berharap bahwa bisnis-bisnis baru yang akan kami akuisisi itu cukup sizeable dan memiliki valuasi yang baik tentunya sesuai dengan kriteria investasi UT,” ucap Iwan. 

Adapun coking coal merupakan batu bara metalurgi yang digunakan sebagai bahan baku dalam proses pembuatan besi dan baja. Berbeda dengan batu bara termal yang umumnya digunakan sebagai sumber energi, coking coal diolah menjadi kokas untuk mendukung proses produksi baja.

Apabila menilik kinerja keuangan UNTR hingga semester pertama 2026, performa emiten alat berat milik Grup Astra itu lesu pada kuartal pertama 2026. Perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp 642,75 miliar, turun 80% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 3,18 triliun. Pendapatan perseroan turun 17% secara tahunan atau year on year (YoY) menjadi Rp 28,55 triliun dari sebelumnya Rp 34,26 triliun. 

Manajemen UNTR menjelaskan, penurunan itu terjadi karena merosotnya kontribusi PT Agincourt Resources akibat tidak adanya penjualan emas. Tak hanya itu, kinerja segmen mesin konstruksi serta kontraktor penambahan yang lesu seiring penurunan alokasi rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) batu bara nasional pada 2026. 

Kendati demikian, tekanan tersebut dapat ditahan oleh pertumbuhan pendapatan dari segmen pertambangan batu bara termal dan metalurgi, yang ditopang kenaikan harga rata-rata batu bara.

Secara terperinci, pendapatan segmen kontraktor penambangan tercatat Rp 11,9 triliun atau turun 6%. Sementara pendapatan segmen pertambangan batu bara termal dan metalurgi naik 13% menjadi Rp 8 triliun. Adapun pendapatan segmen mesin konstruksi turun 31% menjadi Rp 7,5 triliun, sedangkan segmen pertambangan emas dan mineral lainnya merosot 76% menjadi Rp 692 miliar.