"Kami tanam bunga sedikit demi sedikit dan terkadang beli bunga ke rumah-rumah warga, beli tanam, beli tanam, ternyata bagus, mendatangkan banyak pengunjung,"
Lombok Timur (ANTARA) - Junaidi melangkahkan kaki perlahan menembus kumpulan tanaman bunga krisan jingga yang memantulkan semburat cahaya matahari sore di kawasan ladang pertanian Desa Sembalun Bumbung, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Pria berusia 33 tahun itu sesekali menghentikan langkah. Jemari tangannya meraih bunga-bunga yang mulai layu, kemudian memetik dengan hati-hati agar serunai yang baru mekar itu bisa berkembang sempurna.
Di tengah bentangan lahan hortikultura yang menghijau sejauh mata memandang, kebun bunga seluas 16 petak atau sekitar setengah hektare adalah oase yang kini menjadi alternatif wisata bagi para pelancong saat berkunjung ke Sembalun.
Dari balik hamparan bunga beragam warna, mereka dapat mengabadikan panorama khas Sembalun dengan latar perbukitan dan Gunung Rinjani yang menjulang.
"Kami tanam bunga sedikit demi sedikit dan terkadang beli bunga ke rumah-rumah warga, beli tanam, beli tanam, ternyata bagus, mendatangkan banyak pengunjung," ucap Junaidi, saat ditemui pada awal Juli 2026, sembari mengenang proses pembentukan Taman Bunga Sembalun yang berlangsung lima tahun silam.
Ribuan orang dari berbagai daerah dan negara datang menyemut setiap hari, terutama saat musim liburan. Kemarau membuat jalan-jalan desa dipenuhi debu yang seringkali menghalangi jarak pandang.
Kehadiran taman bunga menjadi salah satu penanda perubahan kawasan yang selama ini identik sebagai pintu pendakian Gunung Rinjani. Kawasan yang terletak pada ketinggian 1.100 sampai 1.300 meter di atas permukaan laut itu menawarkan banyak objek tanpa harus mendaki gunung selama tiga hari dua malam.
Sembalun punya potensi besar untuk berkembang sebagai lokasi tujuan wisata dataran tinggi eksotis di wilayah timur Indonesia yang menawarkan pengalaman lengkap berbekal kekayaan alam, pertanian, dan budaya.
Alam adalah panggung utama yang memesona. Sembalun bukan hanya cerita tentang gunung, tetapi juga kisah dari setiap kelopak bunga yang bermekaran dan tangan-tangan yang merawatnya penuh cinta.
Agrowisata berbasis pengalaman
Pagi selalu datang dengan cara yang pelan di kawasan kaki Gunung Rinjani. Suhu dingin yang diembuskan udara kering dari Australia menggigit kulit.
Embun masih menempel pada dedaunan muda, sementara tanah vulkanik hitam berdebu efek kemarau menyimpan sisa hawa malam yang panjang.
Dua petani perempuan paruh baya berjongkok tanpa banyak bicara pada salah satu petak tegalan di tengah hamparan lahan pertanian lebih dari 1.000 hektare di Sembalun.
Caping anyaman bambu menutupi kepala yang berbalut jilbab memberikan perlindungan ekstra dari sengatan matahari yang perlahan meninggalkan ufuk. Jemari yang kasar bergerak pelan memeriksa satu demi satu bibit selada yang siap dipindahkan ke bedengan.
Pekerjaan menanam sayuran tidak pernah dilakukan secara terburu-buru. Setiap lubang tanam dibuat presisi sesuai ukuran bibit, posisi akar diperbaiki agar tidak terlipat, dan setiap genggam tanah ditekan lembut guna memastikan bibit dapat berdiri tegak.
Kesabaran adalah kunci utama dalam mengolah lahan pertanian, sebab hasil panen yang baik dan melimpah selalu dimulai dari perhatian terhadap hal-hal kecil.
Juru Bicara Pemerintah Provinsi NTB Ahsanul Khalik mengatakan tantangan yang kini dihadapi adalah keterbatasan air bersih. Lahan pertanian butuh sistem pengairan yang baik agar hasil panen maksimal.
Selama ini masyarakat memanfaatkan sumur bor dan sistem pertanian tadah hujan untuk menyiasati krisis air bersih. Sumber air bersih cukup melimpah melewati dinding bukit hingga kaldera, namun proses untuk mengalirkannya ke bawah butuh intervensi pusat, mengingat kawasan Sembalun masuk ke dalam wilayah kerja Taman Nasional Gunung Rinjani.
Aktivitas pertanian bukan sekadar mata pencarian bagi para penduduk desa. Pertanian adalah warisan pengetahuan yang ditularkan dari generasi ke generasi, sekaligus buah ketekunan yang lahir dari hubungan panjang manusia dengan alam.
Keterpautan fisik, rasa, dan alam itulah yang seharusnya mulai diperkenalkan kepada para pelancong melalui konsep agrowisata berbasis pengalaman.
Wisatawan tidak lagi hanya datang untuk berfoto di tengah hamparan lahan pertanian yang luas dengan latar belakang perbukitan dan Gunung Rinjani. Mereka diajak menjadi bagian dari kehidupan petani yang berperan sebagai tulang punggung peradaban global—memproduksi lebih dari 70 persen pasokan pangan dunia.
Rutinitas awal berwisata dimulai dari menyusuri pematang ladang yang masih basah oleh embun pagi. Pengunjung diajarkan bagaimana memilih bibit sayuran unggul, menanam, hingga merawat.
Aktivitas pariwisata berkualitas yang berbasis pengalaman dapat menumbuhkan kesan mendalam bagi para turis saat mengunjungi satu objek wisata.
Setelah melewati proses mengolah lahan pertanian, pengunjung diajak memetik sayuran langsung dari kebun agar mereka mengerti bahwa setiap hasil panen bukan lahir dalam semalam, melainkan butuh proses panjang yang bergantung terhadap kesuburan tanah, cuaca, dan ketekunan petani.
Pengalaman belum berhenti ketika hasil panen dimasukkan ke dalam keranjang. Sayuran segar tersebut kemudian dibawa ke dapur untuk diolah menjadi beragam hidangan makan siang.
Melalui agrowisata berbasis pengalaman, para turis tidak hanya membawa pulang foto-foto indah. Mereka juga mendapatkan pemahaman tentang bagaimana setiap makanan yang tersaji di atas piring melewati perjalanan panjang dari tanah, jerih payah petani, distribusi, hingga menjadi hidangan.
Model wisata tersebut dapat memberikan tambahan pendapatan kepada para petani, sedangkan wisatawan memperoleh pengetahuan berharga yang tidak pernah bisa dibeli di kota tentang keintiman desa yang sesungguhnya.
Keaslian budaya
Walau Sembalun lebih populer sebagai sentra hortikultura dan pintu masuk wisata pendakian ke Gunung Rinjani, tetapi banyak keluarga juga memelihara sapi sebagai tabungan, sekaligus sumber pendapatan tambahan yang menunjang usaha tani.
Budaya beternak hidup berdampingan dengan aktivitas bercocok tanam. Di beberapa bukit yang mengelilingi Sembalun, seperti Bukit Kanji dan Bukit Dandaun, sapi-sapi merumput bebas di antara tenda para pendaki.
Rutinitas melepasliarkan sapi ke bukit merupakan tradisi turun-temurun yang masih berlangsung hingga kini. Peternak membubuhi tanda agar sapi tidak tertukar, bahkan mereka punya panggilan khusus yang hanya bisa dipahami oleh sapi-sapi milik mereka sendiri.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan NTB Muhamad Riadi sempat terkesima menyaksikan sistem beternak sapi di Sembalun. Panggilan khusus yang diteriakkan peternak hanya bisa diterjemahkan oleh sapi-sapi milik peternak itu sendiri.
Jika peternak hanya memiliki 50 ekor sapi, sementara ada 1.000 ekor sapi di satu bukit, maka hanya 50 ekor sapi miliknya yang bergerak mendekati sumber suara yang melantunkan panggilan khusus. Peternak tidak perlu masuk ke dalam hutan atau mendaki bukit, karena sapi-sapi yang justru berjalan menghampiri mereka.
Keaslian budaya beternak sapi yang dilepasliarkan atau disebut umbaran dapat menjadi wisata alternatif untuk memikat para wisatawan. Pengalaman itu menawarkan sisi lain yang memperkenalkan kehidupan masyarakat secara autentik.
Sistem umbaran memadukan hubungan harmonis antara manusia, hewan ternak, dan bentang perbukitan savana. Langkah kaki yang mengibas rumput mempertegas ritme kehidupan penduduk lokal yang selaras dengan alam.
Umbaran menjadi pengingat di tengah arus pariwisata yang mengalir deras bahwa daya tarik objek wisata tidak selalu lahir dari wahana buatan. Tradisi lintas generasi yang terus hidup justru mampu menghadirkan pengalaman yang jauh lebih berkesan.
Baca juga: Tim SAR mengevakuasi pendaki hipotermia di Bukit Savana Lombok Timur
Baca juga: Kemenkum NTB proteksi tenun khas Sembalun Lombok Timur
Baca juga: Kemenhut dan tim gabungan padamkan kebakaran hutan Sembalun-NTB
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Sembalun dalam satu tarikan nafas
Editor:
Agus Setiawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026