Lintang adalah saudara terdekat Arbas. Maka, ketika dia yakin masih akan bertemu Arbas, kalimat itu bukan sekadar pengharapan. Ada kedekatan panjang yang membuat keyakinan itu tetap menyala, bahkan ketika laut di hadapannya begitu luas dan tak memberi petunjuk apa-apa.
Di antara lima bersaudara, Arbas adalah anak keempat, Lintang anak bungsu. Mereka empat laki-laki dan satu perempuan. Keduanya dikenal sangat dekat.
Ayah mereka, Irsam, adalah seniman yang namanya masyhur. Lahir di Klaten, Irsam dikenal sebagai salah satu pelukis dekoratif penting Indonesia. Seniman legendaris lulusan ASRI (sekarang ISI Yogyakarta) itu kerap mengangkat tema pedesaan dan kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa dalam lukisannya. Kalangan seni Yogyakarta sulit untuk tidak mengenal namanya.
Barangkali, pikir saya, ketekunan Arbas memandang dunia melalui fotografi sedikit banyak diwarisi dari sang ayah.
Kedekatan kakak-beradik itu tidak hanya tumbuh dari hubungan keluarga. Dalam banyak perjalanan, Lintang juga menjadi orang yang menemani Arbas bekerja. Profesi Lintang sebagai pengemudi travel membuatnya terbiasa menempuh perjalanan jauh. Keahlian itu pula yang sering dibutuhkan Arbas ketika harus berpindah dari satu lokasi liputan ke lokasi lainnya.
Mereka mendatangi banyak tempat bersama.
"Ke letusan Kelud saya bareng dia. Pernah juga sampai Muncar, Banyuwangi. Kami suka bergantian nyetir,” cerita Lintang.
Menjelang senja, saya melihat Lintang kembali keluar ke geladak terbuka. Sesekali dia berjalan ke buritan kapal. Matahari perlahan tenggelam di Selat Sunda. Cahaya keemasan tumpah ke permukaan laut. Pemandangan indah, tetapi tak cukup membuatnya berlama-lama di luar. Angin semakin keras dan dingin. Tak lama, dia kembali masuk ke dalam kapal.
Hari itu kami menghabiskan 14 jam di laut. Berangkat dari Ciwandan pukul 08.00, lalu kembali bersandar di pelabuhan yang sama sekitar pukul 22.00. Empat belas jam dalam guncangan ombak yang tak putus-putus. Melelahkan bagi siapa saja, termasuk Lintang.
Namun, lelah bukan satu-satunya yang kami bawa pulang. Pencarian hari itu belum menemukan petunjuk apa pun tentang keberadaan delapan orang yang hilang, termasuk Arbas.
Saya tidak tahu apa yang memenuhi pikiran Lintang malam itu. Mungkin kenangan-kenangan perjalanan bersama kakaknya kembali berputar. Perjalanan panjang, kemudi yang berpindah tangan, dan percakapan antara dua saudara yang sama-sama tahu ke mana hendak menuju.
Dulu, mereka bergantian memegang kemudi, memastikan perjalanan sampai tujuan. Kini Lintang hanya bisa menatap laut, berharap kapal menemukan sesuatu yang dapat membawanya kembali kepada Arbas.
Saya pulang ke penginapan malam itu bersama Lintang. Sepanjang jalan, mata saya berkaca-kaca. Saya hanya bisa memanjatkan doa, semoga mereka yang pergi, semuanya dapat kembali.