ILUSTRASI. Saham-saham bank berkapitalisasi besar atau big banks kembali mencatat penguatan pada perdagangan Senin (5/10/2026) (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)
Reporter: Aura Putri | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham-saham bank berkapitalisasi besar atau big banks kembali mencatat penguatan pada perdagangan Senin (5/10/2026). Kenaikan ini menjadi angin segar setelah mayoritas saham perbankan besar mengalami tekanan pada perdagangan pekan sebelumnya.
Mengutip data Stockbit, penguatan saham big banks dipimpin oleh PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang naik 1,74% menjadi Rp 4.100 per saham.
Selanjutnya, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menguat 1,30% menjadi Rp 3.120 per saham. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) naik 1,23% menjadi Rp 6.175 per saham, sedangkan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) menguat 1,17% menjadi Rp 3.460 per saham.
Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan mengatakan, pergerakan saham big banks mulai menunjukkan technical rebound, meski belum cukup kuat untuk mengindikasikan pembalikan tren atau reversal.
Baca Juga: OJK Periksa Asuransi Bintang (ASBI) Terkait Dugaan Penggelapan Dana dan Investasi
“Koreksi yang cukup panjang sebenarnya sudah membuat valuasi big banks jauh lebih menarik. Namun untuk saat ini pergerakannya masih sangat dipengaruhi oleh foreign flow, rupiah, yield obligasi global, dan arah suku bunga,” ujar Ekky kepada Kontan, Senin (5/10/2026).
Di sisi lain, penerapan mekanisme short selling dinilai belum menjadi faktor utama yang menekan pergerakan saham BBCA. Ekky menilai aktivitas short selling masih relatif terbatas sehingga tekanan terhadap saham BBCA lebih banyak dipengaruhi sentimen pasar dan foreign outflow.
“Short selling memang secara teori dapat menambah tekanan ketika harga sedang turun, tetapi dengan baru dua sekuritas yang dapat memfasilitasi transaksi dan partisipasi yang masih terbatas, kami belum melihat mekanisme tersebut sebagai sentimen utama bagi BBCA maupun big banks lainnya,” ujarnya.
Untuk saham BBRI, Ekky melihat peluang pengujian level di bawah Rp 3.000 masih terbuka. Menurut dia, pergerakan saham BBRI di sekitar level tersebut akan menjadi salah satu penentu arah selanjutnya.
“Kalau Rp 3.000 mampu bertahan dan tekanan asing mulai mereda, justru ada peluang technical rebound. Sebaliknya, kalau Rp 3.000 ditembus dengan volume besar dan foreign sell masih berlanjut, risiko penurunan lanjutan tentu akan meningkat,” jelasnya.
Baca Juga: OJK: Nilai Aset Industri Penjaminan Kembali Terkoreksi 5,17% pada Agustus 2026
Ekky menambahkan, level Rp 3.000 lebih tepat dipandang sebagai area penentuan arah saham BBRI, bukan sebagai target penurunan secara langsung. Dari sisi valuasi, saham BBRI juga dinilai sudah berada pada level yang jauh lebih murah, dengan target harga sekitar Rp 3.500.
“Kondisi sekarang sudah mulai menarik untuk akumulasi bertahap atau buy on weakness, tetapi belum perlu langsung masuk secara agresif,” ujarnya.
Untuk strategi investasi BBRI, Ekky melihat area Rp 3.000-Rp 3.100 menarik untuk akumulasi secara bertahap. Adapun target awal berada di kisaran Rp 3.400-Rp 3.500.
Sementara itu, saham BBCA dinilai lebih sesuai bagi investor yang mengutamakan pilihan defensif. Ekky memberikan target harga BBCA di kisaran Rp 7.500-Rp 7.900.
Adapun saham BMRI juga masih dinilai menarik untuk strategi akumulasi bertahap. Area Rp 4.000-Rp 4.100 dapat menjadi level akumulasi, dengan target konservatif di kisaran Rp 5.000-Rp 5.200.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Tag