ILUSTRASI. ATM perbankan (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)
Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Saham emiten perbankan berkapitalisasi besar atau big banks kompak melemah pada perdagangan awal pekan, Senin (21/9/2026). Investor cenderung melakukan aksi jual di tengah sentimen eksternal dan sikap wait and see menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada 22–23 September 2026.
Mengacu pada perdagangan hari ini, saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menjadi saham big banks yang mencatat penurunan paling dalam, yakni 1,53% ke level Rp6.425 per saham. Pada pembukaan perdagangan, saham BMRI berada di level Rp6.525 per saham.
Sementara itu, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 75 poin atau 1,19% ke level Rp6.225 per saham. Pada pembukaan perdagangan, saham BBCA berada di level Rp6.300. Dalam sepekan, saham BBCA telah melemah 4,23%.
Baca Juga: Premi Asuransi Engineering Turun 14,1%, AAUI Ungkap Penyebabnya
Adapun saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) terkoreksi 30 poin atau 0,82% ke level Rp3.620 per saham. Saham BBNI sempat dibuka menguat ke level Rp3.660 per saham. Namun, dalam sepekan terakhir, saham BBNI telah anjlok 6,46%.
Berikutnya, saham PT Bank Rakyaat Indonesia (BBRI) melemah 0,30% ke level Rp3.300 per saham. Pada pembukaan perdagangan, saham BBRI berada di level Rp3.310 per saham. Dalam sepekan, saham BBRI tercatat turun 2,94%.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, pelemahan serempak saham big banks pada awal pekan lebih mencerminkan risk-off dan aksi profit taking, bukan perubahan fundamental perbankan secara struktural.
Tekanan terhadap saham perbankan datang dari kombinasi rupiah yang masih berada di sekitar Rp17.700 per dolar AS, imbal hasil US Treasury (UST) 10 tahun yang mendekati 5%, serta ketidakpastian arah suku bunga global setelah The Fed masih membuka peluang kenaikan lanjutan.
Di dalam negeri, investor juga cenderung wait and see menjelang RDG BI yang berlangsung pada 22–23 September 2026. Kondisi tersebut membuat saham bank besar menjadi sasaran aksi jual setelah sebelumnya sempat mengalami penguatan cukup signifikan.
“Pelemahan serempak saham big banks pada awal pekan ini lebih mencerminkan risk-off dan aksi profit taking, bukan perubahan fundamental perbankan secara struktural,” ujar Nafan kepada kontan.co.id, Senin (21/9).
Baca Juga: Biaya Dana Bank Digital Masih Tertekan hingga Akhir Tahun 2026
Ia menambahkan, data perdagangan pekan lalu juga menunjukkan BBNI dan BMRI masing-masing terkoreksi 2,41% dan 2,07% secara mingguan, seiring tekanan jual investor asing.
Untuk pekan ini, Nafan melihat masih terdapat peluang technical rebound pada saham big banks apabila hasil RDG BI memberikan sinyal yang relatif akomodatif dan stabilitas rupiah membaik.
Konsensus pasar saat ini memperkirakan BI mempertahankan BI-Rate di level 5,75%. Jika keputusan tersebut disertai guidance yang mendukung stabilitas likuiditas dan kredit, sentimen terhadap saham perbankan berpotensi kembali mendapat perhatian investor.
Selain itu, pemerintah memperpanjang penempatan dana sekitar Rp200 triliun di bank-bank BUMN hingga Juli 2027. Kebijakan tersebut dinilai berpotensi menopang likuiditas dan kapasitas intermediasi perbankan.
“Kebijakan makroprudensial BI serta implementasi KLM juga tetap menjadi katalis struktural bagi pertumbuhan kredit,” ujar Nafan.
Meski demikian, pergerakan saham big banks tetap akan dipengaruhi perkembangan rupiah, arus dana asing, yield SBN maupun UST, serta dinamika harga minyak global.
Adapun Head Online Trading BCA Sekuritas Achmad Yaki mengatakan, kebijakan The Fed yang cenderung ketat telah mendorong kenaikan imbal hasil obligasi AS. Kondisi tersebut kemudian memicu perpindahan modal asing dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Investor asing, kata Yaki, banyak melepas saham perbankan besar seperti BMRI, BBCA dan BBRI. Pasar juga masih berhati-hati sembari mencermati arah kebijakan suku bunga BI.
Meski demikian, Yaki menilai sektor perbankan pada semester II 2026 secara fundamental masih solid dan diproyeksikan tumbuh secara selektif. Pergerakan saham dalam jangka pendek pada pekan 21–25 September 2026 masih dibayangi volatilitas global dan domestik.
Menurut Yaki, terdapat sejumlah faktor yang perlu diperhatikan investor pada pekan ini. Pertama, hasil RDG BI pada 22–23 September 2026.
Kedua, tekanan imbal hasil global dan potensi arus keluar dana asing. Ketiga, sentimen teknikal serta rebalancing indeks global.
Dari sisi rekomendasi, Yaki memberikan rekomendasi buy untuk BBNI dengan target harga Rp5.690 dan BMRI dengan target Rp6.500 per saham.
Sementara untuk BBRI, Yaki memberikan rekomendasi hold dengan target Rp4.400 per saham. Adapun BBCA mendapatkan rekomendasi trading buy dengan target harga Rp7.125 per saham.
Di sisi lain, Nafan memberikan rekomendasi add untuk BBCA dengan target harga Rp7.900, BBNI Rp4.020, BMRI Rp4.720 dan BBRI Rp3.570 per saham.
Baca Juga: Aturan Investasi di Luar Negeri Ada di Perubahan POJK 27/2023, Ini Kata Asosiasi DPLK
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Tag