Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
16 September 2026 09:50
Jakarta, CNBC Indonesia - Tekanan dolar Amerika Serikat (AS) kembali membayangi pasar valuta Asia pada perdagangan Rabu (16/9/2026). Mayoritas mata uang kawasan melemah, seiring pasar menanti keputusan suku bunga bank sentral AS (The Fed) malam nanti.
Merujuk data Refinitiv per pukul 09.20 WIB, dari sembilan mata uang Asia yang dipantau, sebanyak enam mata uang melemah terhadap dolar AS. Sementara dua mata uang menguat dan satu lainnya stagnan.
Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan tekanan paling dalam di Asia pagi ini. Won melemah 0,56% ke posisi KRW 1.369,67/US$.
Rupiah juga ikut tertekan dari greenback pada pagi ini, setelah mengalami pelemahan dalam empat hari perdagangan beruntun. Mata uang Garuda terpantau melemah 0,23% ke posisi Rp17.720/US$.
Yen Jepang terkoreksi 0,13% ke JPY 155,29/US$, disusul dong Vietnam yang melemah 0,10% ke VND 25.984/US$.
Dolar Singapura turun 0,07% ke SGD 1,2732/US$, sementara dolar Taiwan melemah 0,06% ke TWD 31,834/US$.
Di sisi lain, peso Filipina menjadi mata uang dengan penguatan paling tajam di Asia pagi ini. Peso naik 0,07% ke posisi PHP 62,721/US$.
Baht Thailand juga bergerak positif dengan penguatan 0,03% ke THB 32,25/US$. Sementara yuan China stagnan di posisi CNY 6,7113/US$.
Arah mata uang Asia pagi ini masih banyak ditentukan oleh penguatan dolar AS. Indeks dolar AS (DXY) pada waktu yang sama terpantau naik 0,09% ke posisi 99,704 atau semakin mendekatin level psikologisnya di 100.
Dolar AS bergerak menguat terhadap mayoritas mata uang utama setelah lonjakan harga minyak mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Kondisi ini semakin memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada pekan ini.
Yield Treasury AS tenor 10 tahun sempat menembus 5,041% pada perdagangan Selasa waktu setempat, level tertinggi sejak 2007. Kenaikan yield membuat aset berbasis dolar AS kembali lebih menarik bagi investor.
Harga minyak juga masih bertahan tinggi di atas US$105 per barel. Kenaikan ini terjadi setelah kelompok Houthi yang didukung Iran melancarkan serangan baru ke Arab Saudi dan pembicaraan Teluk-Iran ditunda.
Kenaikan harga energi membuat kekhawatiran inflasi kembali meningkat. Situasi tersebut memperkuat keyakinan pasar bahwa The Fed masih memiliki alasan untuk menaikkan suku bunga dalam pertemuan 15-16 September 2026.
Berdasarkan CME FedWatch, pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed mencapai 92,4%. Angka ini membuat kenaikan suku bunga pada pekan ini hampir sepenuhnya diperhitungkan pasar.
Meski demikian, pasar tetap mewaspadai potensi kejutan dari The Fed. Fokus investor tidak hanya tertuju pada keputusan suku bunga, tetapi juga arah pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh setelah keputusan diumumkan.
"Anda harus siap menghadapi hal yang tidak terduga. Ini adalah masa volatilitas," ujar Juan Perez, senior director of trading Monex USA, dikutip dari Reuters.
Perez menilai, meski The Fed menaikkan suku bunga, sebagian sentimen positif untuk dolar AS kemungkinan sudah tercermin di pasar. Karena itu, arah dolar berikutnya akan sangat bergantung pada nada pernyataan The Fed mengenai peluang kenaikan suku bunga lanjutan.
"Apa nada yang Anda berikan kepada kami? Apakah setelah itu kami bisa memikirkan Desember dan sisa tahun ini? Itulah yang benar-benar akan memengaruhi arah mata uang," ujar Perez.
Yen Jepang juga kembali melemah dan menjauh dari level tertinggi tujuh bulan. Dolar AS sempat naik 0,5% terhadap yen pada perdagangan Selasa, ketika mata uang Jepang sempat melemah melewati level 155 per dolar AS.
Pasar kini juga menanti keputusan Bank of Japan (BOJ). OCBC memperkirakan BOJ akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan 16-17 September.
Dengan dolar AS yang kembali menguat, tekanan terhadap mata uang Asia masih cukup besar.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]
(evw/evw)