Jakarta, CNN Indonesia --
Roket SpaceX yang melaju dengan kecepatan hingga lebih dari 8.000 km/jam dilaporkan menabrak Bulan pada Rabu (5/8). Pakar mulai meneliti dampak tabrakan tersebut.
Teleskop milik European Southern Observatoru (ESO), Very Large Telescope, yang berlokasi di Observatorium Paranal Chile, berhasil mendeteksi dampak tabrakan tersebut.
"Kami dapat mengonfirmasi bahwa teleskop mendeteksi garis spektrum gas natrium dan litium pada semburan material akibat benturan, yang bertahan sekitar 5 hingga 10 menit setelah tabrakan," ungkap Bárbara Ferreira, manajer media departemen komunikasi ESO, melansir CNN, Rabu (5/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kandungan natrium kemungkinan besar berasal dari tanah Bulan, sedangkan litium diperkirakan berasal dari material roket itu sendiri," lanjut dia.
Benjamin Fernando, peneliti di Los Alamos National Laboratory, New Mexico, juga membenarkan temuan tersebut. Menurutnya, pengamatan dilakukan menggunakan instrumen spektrograf pada teleskop tersebut.
Ia menjelaskan, pengamatan ini sejak awal diarahkan untuk melacak jejak kimiawi dari sisa bahan roket yang tersebar di permukaan Bulan.
Fernando menjelaskan bahwa tim peneliti juga mengumpulkan data pencitraan dari Enhanced Resolution Imaging Spectograph (ERIS) pada teleskop yang sama. Data gambar ini akan segera diproses untuk mencari bukti visual dari lokasi kejadian.
Carl Schmidt, asisten profesor riset astronomi di Boston University yang memimpin pengamatan ini, menyebutkan bahwa benturan terjadi sesuai perkiraan, yakni sekitar pukul 02.30 waktu setempat di dekat Kawah Einstein.
Menurut Schmidt, gumpalan gas natrium dan litium yang membubung akibat benturan tersebut membentang hingga puluhan kilometer. Para ilmuwan sejak awal memperkirakan bahwa semburan gas ini akan menjadi indikator paling jelas yang bisa teramati dari Bumi.
Para ilmuwan memastikan peristiwa ini tidak berbahaya bagi Bumi. Meski demikian, benturan roket berbobot sekitar 4 ton yang menghantam dengan kecepatan lebih dari 2,4 kilometer per detik itu diperkirakan akan membentuk kawah baru berdiameter antara 20 hingga 30 meter di permukaan bulan.
Fenomena ini tidak bisa dilihat dengan mata telanjang dari Bumi yang berjarak sekitar 363.000 kilometer, dan cukup sulit ditangkap bahkan oleh teleskop biasa.
Para astronom di berbagai observatorium sibuk mengarahkan teropong mereka ke bulan dengan harapan bisa mengabadikan momen langka ini. Kejadian jatuhnya benda buatan manusia ke bulan terbilang sangat jarang.
Para ilmuwan memanfaatkannya sebagai kesempatan berharga untuk mempelajari struktur tanah bulan sekaligus mempersiapkan langkah perlindungan bagi infrastruktur dan keselamatan astronot di masa depan, terutama dalam mendukung program eksplorasi bulan jangka panjang seperti proyek Artemis dari NASA.
Falcon 9 diluncurkan pada Januari 2025 dengan membawa dua pendarat Bulan robotik milik swasta, yakni Blue Ghost buatan Firefly Aerospace dan Resilience yang dikembangkan oleh perusahaan asal Tokyo, ispace.
Blue Ghost berhasil mendarat dan menyelesaikan misinya, sementara Resilience jatuh saat mencoba mendarat.
Bagian pendorong utama Falcon 9 memang bisa digunakan kembali, tetapi bagian atasnya hanya bisa terbang sekali. SpaceX biasanya mengarahkan kembali bagian atas roket ini ke atmosfer Bumi tak lama setelah peluncuran untuk dihancurkan.
Namun, hal ini tak bisa dilakukan pada peluncuran Blue Ghost dan Resilience lantaran proses pengiriman kedua wahana tersebut menghabiskan hampir seluruh bahan bakar roket. Akibatnya, roket seberat 4 ton tersebut ditinggalkan di orbit tinggi Bumi yang melintasi Bulan.
Julianna Scheiman, Direktur Program Sains NASA dan Dragon di SpaceX, mengatakan bahwa SpaceX sebenarnya telah melakukan manuver khusus untuk memastikan bagian atas roket tersebut tetap aman sesuai dengan aturan dan regulasi yang berlaku.
Meski demikian, manuver tersebut tidak mengunci posisi sampah antariksa tersebut di lokasi yang stabil. Gaya-gaya alam tetap memengaruhinya dan akhirnya mengubah arah jalurnya.
Scheiman mengungkap bahwa kombinasi antara aktivitas matahari dan gaya gravitasi pada akhirnya mendorong roket ini ke jalur menuju Bulan.
(dmi)
[Gambas:Video CNN]