Riset UGM Ungkap Temuan Masalah Gigi Bisa Dibantu AI, Begini Catatannya

calendar_today 13.10.2026 - person  - timer ~

Jakarta -

Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) berpotensi membantu dokter gigi menentukan diagnosis dan tindakan medis secara lebih tepat. Riset Universitas Gadjah Mada (UGM) menemukan penggunaan AI meningkatkan ketepatan pengodean diagnosis dokter gigi di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) dari 49,4 persen menjadi 79 persen.

Temuan dari penelitian doktoral drg Achmad Zam Zam Aghasy, MKes, yang menguji AI sebagai sistem pendukung keputusan klinis dalam pelayanan kesehatan gigi dan mulut menyoroti persoalan rujukan pasien gigi ke rumah sakit.

Penelitian terdahulu mencatat sekitar 52,2-58,2 persen rujukan gigi dari FKTP ke fasilitas kesehatan lanjutan tidak tepat. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya pemahaman mengenai diagnosis dan pengodean tindakan medis.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Lima dari 10 yang diputuskan untuk dirujuk itu ternyata sebenarnya bisa dilakukan di FKTP, sehingga beban secara nasional menjadi sangat membengkak karena pasien menumpuk di FKRTL," beber Zamzam dalam keterangan tertulis di laman resmi UGM, Selasa (13/10/2026).

Dalam pengujian yang melibatkan 62 dokter gigi di FKTP mitra BPJS Kesehatan di Daerah Istimewa Yogyakarta, kelompok yang menggunakan AI mencatat ketepatan kode tindakan sebesar 87,4 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan kelompok tanpa AI yang mencapai 63,9 persen.

Ketika ketepatan kode diagnosis dan tindakan dinilai bersamaan, kelompok dengan bantuan AI mencatat akurasi 68,4 persen, sedangkan kelompok tanpa AI hanya 38,7 persen.

Peningkatan ketepatan juga terlihat pada kasus yang jarang ditemui. Pada kasus stomatitis ulseratif nekrotikans, misalnya, ketepatan kelompok dengan AI mencapai 71 persen, sementara kelompok tanpa AI hanya 12,9 persen.

Meski begitu, penggunaan AI tidak menunjukkan perbedaan waktu pengerjaan yang bermakna dibandingkan metode tanpa bantuan teknologi tersebut.

Masih Ada Tantangan

Zamzam menilai penerapan AI dalam layanan kesehatan perlu mempertimbangkan keamanan data pasien dan kesiapan infrastruktur, termasuk jaringan internet serta integrasi sistem informasi kesehatan.

Ia juga merekomendasikan agar Kementerian Kesehatan dan BPJS Kesehatan mempertimbangkan integrasi sistem pendukung keputusan klinis berbasis AI ke platform SATUSEHAT dan PCare.

Kopromotor disertasi, dr. Lutfan Lazuardi, M.Kes., Ph.D., menilai penelitian tersebut memberikan bukti mengenai potensi pemanfaatan AI dalam layanan klinis.

"Inisiatif terkait kecerdasan buatan di setting layanan klinis masih terbatas dan belum banyak buktinya, sehingga di sini Dr. Zamzam mengambil peran untuk menjadi pihak yang membuktikan apakah ini ada peran yang strategis atau tidak," ujarnya.

Temuan ini menunjukkan AI berpotensi membantu dokter gigi meningkatkan ketepatan diagnosis dan pengodean tindakan. Namun, penerapannya secara luas tetap membutuhkan kesiapan infrastruktur, perlindungan data pasien, dan pengujian lebih lanjut.

Halaman 2 dari 2

(naf/naf)