Di tengah tekanan sistem layanan kesehatan yang semakin berat akibat populasi lansia kian bertambah, penyakit kronis, kekurangan tenaga medis, dan ketidakmerataan akses, self-care kini semakin diakui sebagai salah satu jalan untuk meningkatkan luaran klinis (health outcomes), memperluas akses, serta mewujudkan penyediaan layanan kesehatan yang lebih berkelanjutan.
Riset ini menekankan bahwa self-care akan bekerja secara optimal bila terintegrasi dengan baik ke dalam sistem kesehatan formal. Dengan didukung oleh informasi yang terpercaya, keterjangkauan, dan sistem rujukan yang jelas.
Dr Manjulaa Narasimhan, Scientist, The Department of Sexual, Reproductive, Maternal, Child, Adolescent Health and Ageing, World Health Organization (WHO), dalam riset tersebut mengatakan bahwa self-care adalah garda terdepan untuk semua perawatan kesehatan.
Baca Juga: Bayer Tunjuk Simon Rosof Pimpin Bisnis Farmasi di Asia Pasifik
"Dengan adanya bukti klinis, kebijakan yang mendukung, serta tenaga kesehatan dan perawatan yang terlatih, perawatan diri dapat berkontribusi besar dalam meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan bagi semua orang," ujarnya.
Self-care Memperkuat Sistem Kesehatan jika Didukung dengan Baik
Riset Economist Enterprise menyebutkan bahwa self-care didefinisikan secara luas oleh WHO sebagai kemampuan individu, keluarga, dan komunitas untuk mengelola kesehatan dan kesejahteraannya, perawatan kesehatan diri mencakup area yang sangat luas, mulai dari perilaku hidup sehat sehari-hari dan praktik pencegahan penyakit, hingga pemanfaatan perangkat digital, pemantauan kesehatan diri, dan penggunaan obat-obatan bebas (over the counter/tanpa resep dokter).
Akan tetapi, definisi yang luas ini juga menghadirkan tantangan tersendiri. Terutama dalam hal tata kelola, tolak ukur, dan konsistensi integrasinya di seluruh sistem kesehatan.
Riset ini memaparkan bahwa self-care berfungsi maksimal sebagai bagian yang didukung oleh sistem kesehatan, bukan sebagai penggantinya.
Self-care yang didukung dengan baik–lewat informasi tepercaya, akses yang terjangkau, dan jalur rujukan yang jelas mampu memperluas akses ke layanan kesehatan, memperkuat langkah pencegahan dan intervensi dini, mendorong pasien agar lebih berdaya, mandiri, dan aktif berperan dalam merawat kesehatan mereka sendiri, dan mengurangi beban dan tekanan pada sistem kesehatan.
Baca Juga: Bayer dan Pipeline Dorong Pertumbuhan Farmasi di Masa Depan
"Solusi self-care, termasuk penggunaan perangkat digital, obat bebas yang aman dan terjangkau, suplemen nutrisi, serta informasi edukatif, merupakan hal yang fundamental untuk mengatasi kesenjangan layanan kesehatan global. Hal ini merupakan lini pertahanan pertama bagi masyarakat dan sistem Kesehatan," jelas Julio Triana, Member of the Bayer Board of Management and President Consumer Health, dalam keterangannya, Jumat (24/7/2026).
"Kami ingin memberdayakan masyarakat agar memiliki kemampuan dan mengambil keputusan yang tepat bagi kesehatan mereka sendiri, mengambil kendali penuh atas kesejahteraan mereka, serta berperan aktif dalam upaya pengobatan dan pencegahan. Self-care yang kredibel dapat membantu memperluas akses dan memperkuat sistem kesehatan, tetapi ini harus didukung oleh informasi berbasis bukti, standar yang ketat, serta jalur rujukan yang jelas menuju perawatan professional," tambahnya menerangkan.
Self-care yang Efektif Bergantung pada Tindakan, Dukungan Tepercaya, dan Akuntabilitas
Riset tersebut menyebut ada tiga prioritas krusial untuk menjadikan self-care sebagai bagian yang lebih efektif dari layanan kesehatan arus Utama.
Mewujudkan komitmen kebijakan menjadi tindakan nyata: Seiring dengan semakin diakuinya self-care, setiap negara memerlukan struktur tata kelola dan pembagian tanggung jawab yang tegas, serta koordinasi pemangku kepentingan yang lebih kuat untuk menerjemahkan visi kebijakan menjadi implementasi praktis.
Memperluas akses melalui dukungan tepercaya dan merata: Produk dan layanan yang terjangkau, informasi yang andal, mekanisme pembiayaan yang tepat, serta sistem dukungan yang relevan secara budaya, sangat penting untuk memastikan bahwa perawatan diri dapat memperluas akses tanpa memperlebar kesenjangan kesehatan yang sudah ada.
Baca Juga: Bayer-Kemenko Pangan Berkolaborasi Tingkatkan Produktivitas Jagung di Ponorogo Lewat Inovasi Teknologi
Memperkuat landasan bukti, pengukuran, dan akuntabilitas: Mengingat praktik self-care semakin umum dilakukan di rumah, apotek, maupun platform digital, sistem kesehatan akan membutuhkan mekanisme yang lebih kuat untuk mengukur hasil akhir (outcomes), memantau keselamatan pasien, dan menghasilkan data yang valid untuk memandu arah kebijakan maupun keputusan investasi di masa depan.
Riset ini juga menemukan bahwa sejumlah negara telah menunjukkan bagaimana self-care dapat disematkan ke dalam sistem pemberian layanan kesehatan yang lebih luas. Jerman, misalnya, menerapkan "resep hijau" (green prescriptions), yang memungkinkan Dokter untuk meresepkan obat bebas secara formal sebagai bagian dari terapi diri dengan panduan medis.
Di Indonesia, Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) secara aktif mempromosikan gaya hidup sehat, sanitasi, serta edukasi kesehatan mandiri termasuk penggunaan obat yang bertanggung jawab di lingkungan sekolah, tempat kerja, dan masyarakat.
Berbicara tentang hubungan yang saling melengkapi antara perawatan diri dan fasilitas kesehatan institusional, Greg Perry selaku Director General, Global Self-Care Federation, mengatakan, self-care bukan bermaksud mengalihkan tanggung jawab dari sistem kesehatan.
Sebaliknya, layanan, produk self-care berbasis bukti, serta obat-obatan tanpa resep yang dilengkapi dengan informasi tepercaya, justru akan memberikan keleluasaan kapasitas (headroom) bagi jalur rujukan, sehingga pasien bisa mendapatkan perawatan medis di fasilitas kesehatan secara tepat waktu saat mereka benar-benar membutuhkannya.
Baca Juga: Bayer Dukung Petani Jateng Tingkatkan Hasil Panen Jagung, Perkuat Ketahanan Pangan Indonesia
"Self-care tidak bertujuan melepaskan tanggung jawab sistem kesehatan. Sebaliknya, produk dan layanan self-care berbasis bukti serta obat bebas yang dilengkapi oleh informasi akurat justru menciptakan ruang kapasitas (headroom) bagi jalur rujukan. Dengan begitu, pasien dapat memperoleh penanganan medis di fasilitas kesehatan secara tepat waktu saat benar-benar membutuhkannya," ujarnya.
Temuan dari riset Economist Enterprise menyimpulkan bahwa, jika tata kelola, pembiayaan, akuntabilitas, serta sistem dukungannya diperkuat, self-care dapat menjadi titik awal yang sangat hemat biaya dan saling melengkapi guna menciptakan sistem kesehatan yang lebih preventif dan proaktif.