Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memproyeksikan Indonesia akan mengalami surplus produksi solar hingga 4 juta kiloliter. Kelebihan stok tersebut dipicu oleh keberhasilan penerapan program biodiesel 50% (B50) serta optimalnya kapasitas produksi kilang di dalam negeri.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa adanya surplus tersebut menjadi alasan utama bagi pemerintah untuk menghentikan impor solar. Dengan produksi yang mencukupi, Indonesia tidak lagi perlu bergantung pada pasokan dari luar negeri.
Peningkatan kapasitas kilang nasional yang dipadukan dengan penggunaan biodiesel 50% dinilai telah memperkuat ketahanan energi nasional. Hal itu memastikan kebutuhan bahan bakar dalam negeri dapat terpenuhi secara mandiri dan lebih efisien.
"Memang di dalam hitungan kita dengan Pertamina, ke depan mungkin akan terjadi surplus. Karena dengan optimalisasi terhadap kilang kita yang ada di Kalimantan Timur itu menghasilkan 5,6 juta kiloliter di kilang kita yang ada di Kalimantan. Itu penambahan. Maka akan terjadi surplus. Surplusnya itu diperkirakan ya di antara 3 sampai 4 juta," katanya di sela acara Peresmian Peluncuran Mandatori B50, di Rest Area KM 57 Tol Jakarta-Cikampek, dikutip Senin (13/7/2026).
Selain itu, kebijakan B50 yang dicampurkan ke dalam BBM jenis solar otomatis mengurangi kebutuhan bahan baku minyak mentah dari luar negeri.
"Dengan peluncuran B50 ini maka alhamdulillah kita tidak lagi melakukan impor solar dari negara lain. Artinya solar dengan campuran B50 sudah kita dapat menyelesaikan di dalam negeri," kata Bahlil.
Pemerintah berencana mengonversi kelebihan pasokan solar tersebut menjadi bahan bakar pesawat atau Avtur guna mengejar target swasembada di sektor penerbangan. Pihaknya bersama PT Pertamina (Persero) kini tengah merampungkan peta jalan pembangunan pabrik Avtur yang ditargetkan mulai dieksekusi pada akhir tahun ini.
"Tahap berikutnya adalah kita akan mendorong untuk membangun Avtur. Karena bahan baku Avtur itu hampir sama dengan solar juga. Nah sekarang saya dengan Pertamina lagi membuat roadmap bahkan insyaallah doakan 2026 akhir ini sudah bisa kita lakukan untuk memulainya pembangunan pabrik untuk Avtur kita," tandasnya.
Impor BBM bensin & solar
Mengacu data Kementerian ESDM per 1 April 2026 sejauh ini, impor BBM jenis Bensin Indonesia terbesar masih berasal dari Singapura dengan presentase mencapai 64,23%. Lalu Malaysia dengan poris 27,18%. Sementara itu, kontribusi negara lain relatif kecil. Antara lain Oman 5,55%, Uni Emirat Arab 3,03%.
Adapun 3 negara utama sumber impor Solar Indonesia hingga April 2026 berasal dari Singapura dengan volume 58,56%, Malaysia dengan volume 36,56%, dan Taiwan dengan volume 4,88%.
(pgr/pgr)
Add
as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]