Revolusi, Romansa, dan Runtuhnya Komisariat SMID IISIP

calendar_today 27.07.2026 - person  - timer ~

April 1996, sudah 60 orang. Tapi yang paling mengena bukan jumlahnya, bro. Tapi nama panggilannya.

Bayangin, ada yang dipanggil Mayung -- iya, itu nama ikan! Dan bener, mukanya emang kayak ikan Mayung kehabisan oksigen. Ada juga Bison, tapi jangankan gagah, jangkung aja enggak. Terus si Nyamuk -- badannya kurus, mukanya lancip, dan tiap diem mukanya kayak siap nyedot ideologi orang.

Semua ini terjadi gara-gara gemblengan Dwi. Tiap anggota wajib bawa orang baru tiap minggu. Kata kuncinya wajib: “Ganti Soeharto! Cabut Dwi Fungsi ABRI!”

Pokoknya apa pun kejadiannya, sambungin ke Soeharto.

Pernah ada mahasiswi keserempet motor, eh kita langsung orasi: "Lihat! Ini semua karena Soeharto nggak bisa atur lalu lintas! Ganti Soeharto!!"

Warga nengok, kita langsung belagak gak kenal. Ada yang pura-pura benerin tali sepatu, ada yang ganti baju dan identitas, bahkan ada yang tukeran muka sama pengendara motor lain.

Komisariat makin rame, Roso dan Ndaru jadi lebih sering ke kampus IISIP. Awalnya dikira ingin mentransformasi semangat revolusi.

Eh, ternyata ke kampus demi satu makhluk: Debby. Cantik, seger, kayak habis cuci muka pakai embun pagi. Tapi... Debby ternyata waria. Langsung tobat nasional. Sejak itu, tiap lihat lipstik langsung mengingat nama Tuhan.

Kerja politik makin kreatif. Selebaran sudah gak cuma nempel di tembok. Kita mulai nempel di helm dan bodi motor mahasiswa. Strategis, bro! Sampai ada yang ngamuk karena selebaran nempel di kaca spion.

Koran SUMAS juga beken. Isinya teori plus kabar perjuangan. Tapi fungsinya multifungsi: bisa jadi alas duduk, kipas darurat, bahkan bungkus gorengan ideologis.

Pas aksi Makassar Berdarah di UI Salemba, SMID IISIP dateng 15 orang. Udah kayak kontingen SEA Games. Polisi mulai gaya, kita dilarang keluar kampus.

Mundur ke LBH, sempat ribut, Bahar dari Pijar Indonesia ditangkep. Besoknya kita demo di lapangan basket kampus. Penontonnya lebih banyak dari peserta demo. Berasa kayak main sulap ditonton banyak orang, tapi yang hilang cuma semangat.

Sekre kita? Jangan bayangin kayak kantor startup. Itu rumah kontrakan lima orang anggota yang dijadikan sekre darurat revolusi. Dan kita dulu-duluan pasang telepon rumah sama sekre Camat Gabun. Zaman itu, punya telepon setara punya iPhone 15 Pro Max.

Ndaru si kribo mulai wajibin semua ikut IPO—bukan saham, tapi Ideologi, Politik, Organisasi. Isinya cuma tiga: diskusi, rapat, aksi. Dangdut? Coret. Karaoke? Haram. Joget? Sesat!

Dwi makin jumawa. Sekarang maunya kasih arahan dari sekre Camat Gabun, gak mau lagi ke kampus. Katanya, takut ketemu Debby 2.0.

Kami -- Anies, Alit, Indra JP, dan saya -- udah kayak kuartet Barcelona lokal. Alit itu Puyol: keras, ngotot. Anies itu Xavi: pintar ngomong. Saya Iniesta: gesit dan absurd. Indra JP jelas-jelas Messi: jenius, random, dan gak pernah salah oper.

Hari-hari kami dipenuhi olehbtugas dari Dwi, diskusi, demo, dan ikut Dwi keliling kampus lain.

Parahnya Dwi bilang kalau ditagih ongkos sama kenek pas naik buskota bilang aja numpang jadi bisa gratisan ngelilingin Jakarta demi selebaran. Pulang-pulang laper, karena gak dikasih jajan sama sekali  tapi tetap semangat karena... ya gak ada pilihan.

22 Juli 1996, PRD dideklarasikan di LBH Jakarta. SMID IISIP ditugaskan jaga keamanan. Udah kayak Paspampres.

Indra JP paling gaya: kacamata hitam, hitam dari ujung rambut sampai kaus kaki. Ada juga yang nyamar jadi mahasiswa cupu, lengkap dengan buku tulis dan kancing kemeja nyekek leher.

SMID pusat ngumumin seruan: “Buruh dan Mahasiswa Bersatulah!” Kita langsung bikin diskusi. Ngundang Wilson, yang semangat banget cerita buruh bakar pabrik. Kita angguk-angguk sambil mikir: "Kalau disuruh bakar koperasi kampus, gimana ya?"

Rencana pun matang: deklarasi resmi komisariat SMID IISIP harus spektakuler. Aksi buruh dalam kampus jadi pilihan.

Kita diskusi bareng Panjang, aktivis buruh yang... ya sesuai namanya tubuhnya tinggi kurus jadi kelihatan panjang. Kalau dia diri deket tiang listrik susah bedain mana yang orang mana yang tiang besi.

Kita sepakat sama panjang, deklarasi komisariat SMID IISIP dengan demo buruh di kampus bakal digelar Agustus 1996 sekaligus upacara 17-an.

Tapi takdir berkata lain.

28 Juli 1996, SMID resmi dinyatakan terlarang. Gak ada alkohol, tapi dianggap memabukkan. Gegara kerusuhan 27 Juli 1996 di kantor PDIP. Panik massal. Rencana bubar. Semua kayak ayam kehilangan GPS.

Tapi anak IISIP bukan kaleng-kaleng. 29 Juli 1996, kita kumpul diam-diam di belakang gedung 5.2. Aturannya: jangan ngomong politik, jangan saling kenal, dan jangan tatap-tatapan terlalu lama. Kayak film agen rahasia low budget.

Tiba-tiba Indra JP lari-lari, panik. "Bro! Polisi nyari elu!"

Gue gak mikir panjang, langsung loncat tembok. Gayanya keren, mendaratnya... pas di tumpukan sampah. Lari nyebrang kali kecil, stop Kopaja S616, dan ngilang ditelan kota.

Meninggalkan Kampus Tercinta...
...dan Debby. (Call back!)

*Mantan Ketua Komisariat SMID IISIP