Review Mazda CX-80: Seni Membuat PHEV Tetap Menyenangkan

calendar_today 20.09.2026 - person  - timer ~

Jakarta -

Di tengah semakin banyaknya mobil plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) yang menawarkan efisiensi dan keheningan, Mazda CX-80 datang dengan pendekatan berbeda.

Mazda tidak cuma membuat SUV yang bisa berjalan menggunakan tenaga listrik. Mereka juga ingin mempertahankan sesuatu yang perlahan mulai hilang dari mobil modern yakni rasa ketika mengemudi.

Hal itu terasa sejak pertama kali membawa CX-80.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

SUV premium ini memang menawarkan teknologi elektrifikasi, tetapi karakter berkendaranya masih terasa seperti mobil konvensional dengan mesin bensin berkapasitas besar.

Mazda CX-80 PHEVMazda CX-80 PHEV Foto: Muhammad Hafizh Gemilang

Ketika PHEV Tak Mau Kehilangan Rasa Berkendara

Mobil PHEV sekarang umumnya mengejar efisiensi. Namun, pendekatan tersebut terkadang membuat rasa berkendaranya menjadi hambar.

Mazda CX-80 mengambil jalan berbeda. Mobil ini menggunakan mesin 2.500 cc empat silinder e-SKYACTIV PHEV yang menghasilkan tenaga 191 PS dan torsi 261 Nm.

Menariknya, Mazda tidak memasangkan mesin tersebut dengan e-CVT atau transmisi single-speed seperti yang lazim ditemukan pada mobil elektrifikasi. CX-80 menggunakan transmisi otomatis delapan percepatan.

Hasilnya, setiap kali pedal gas diinjak, masih terasa sensasi bahwa mesin dan transmisi benar-benar bekerja menggerakkan mobil. Masih ada perpindahan gigi, suara mesin ketika putaran naik, hingga sedikit hentakan yang membuat pengalaman berkendara terasa lebih hidup.

Bagi sebagian orang mungkin terasa kuno. Namun bagi mereka yang menikmati proses mengemudi, karakter seperti ini justru menjadi daya tarik.

Mazda CX-80 PHEVMazda CX-80 PHEV Foto: Muhammad Hafizh Gemilang

Irit di Kota dan Gak Khawatir Diajak Jalan Jauh

Meski mempertahankan rasa mesin bensin, CX-80 tetap menawarkan keunggulan utama sebuah PHEV, irit.

Baterainya memungkinkan mobil melaju menggunakan tenaga listrik hingga sekitar 60 km dalam kondisi penuh. Jarak tersebut rasanya cukup untuk kebutuhan mobilitas harian sebagian pengguna.

Mobil bisa digunakan bekerja pada pagi hari, kemudian kembali diisi menggunakan wall charger ketika sampai rumah. Dengan pola seperti ini, mesin bensin tidak harus selalu bekerja dan BBM jarang terpakai.

Di kondisi lain, misal ketika perjalanan menjadi lebih jauh, mesin bensin mulai mengambil peran. CX-80 memiliki tangki bahan bakar 70 liter sehingga pengguna tidak perlu terlalu bergantung pada stasiun pengisian daya saat bepergian ke luar kota.

Inilah yang membuat CX-80 terasa seimbang. Dalam kota bisa efisien, sementara di luar kota tetap menawarkan performa dan fleksibilitas sebuah SUV bermesin bensin.

Bayangkan kita dapat menggunakan mobil mewah 2.500 cc dari Mazda, tapi tak perlu sering-sering mengeluarkan anggaran bensin untuk penggunaan harian.

Cuma perlu ada aktivitas tambahan ketika sampai di rumah usai menggunakan mobilnya, yaitu mengecas.

Namun catatan sekaligus menjadi kekurangan Mazda CX-80 adalah belum mendukung DC charging sehingga pengisian baterai ketika perjalanan jauh membutuhkan waktu lebih lama.

Mazda CX-80 PHEVMazda CX-80 PHEV Foto: Muhammad Hafizh Gemilang

Besar, tapi Tak Sulit Dikendarai

Dengan panjang 4.990 mm dan wheelbase 3.120 mm, CX-80 jelas bukan SUV kecil. Namun dimensi tersebut tidak membuatnya terasa merepotkan ketika digunakan sehari-hari.

Setir menjadi salah satu bagian yang paling kami sukai. Responsnya nurut, komunikatif, dan memiliki bobot yang pas. Untuk putar balik maupun bermanuver di perkotaan, CX-80 masih terasa mudah dikendalikan.

Suspensinya memang tidak bisa disebut paling empuk di kelasnya. Ada sedikit karakter firm yang membuat body roll minim dan mobil terasa mantap ketika diajak melaju cepat.

Namun, ada beberapa catatan. Hentakan transmisi pada kondisi tertentu terkadang terasa cukup kasar.

Mazda CX-80 PHEVMazda CX-80 PHEV Foto: Muhammad Hafizh Gemilang

Mewah Tanpa Harus Berlebihan

Pendekatan Mazda juga terasa pada interior. CX-80 tidak mencoba terlihat mewah dengan ornamen berlebihan. Material, bentuk, dan detail kabinnya justru dibuat sederhana tetapi berkelas.

Fitur yang diberikan juga cukup lengkap, mulai dari panoramic sunroof, audio Bose, ventilated seat, kamera 360 derajat, hingga ADAS.

Menariknya, Mazda masih mempertahankan banyak tombol fisik. Bahkan fitur ADAS bisa dimatikan dan pengaturannya tetap tersimpan. Pendekatan ini terasa sederhana, tetapi justru menunjukkan Mazda memahami kebutuhan penggunanya.

Sebagai SUV tiga baris, CX-80 juga menawarkan akomodasi yang fleksibel. Konfigurasi captain seat di baris kedua menjadi tempat paling nyaman, sementara baris ketiga masih cukup memadai untuk perjalanan tertentu.

Namun pada akhirnya, Mazda CX-80 bukan PHEV yang dibuat untuk semua orang. Dengan harga Rp 1.199.900.000, mobil ini menawarkan sesuatu yang lebih sulit dihitung dengan angka.

Ia tidak mencoba menjadi PHEV paling murah atau paling senyap. Mazda justru mempertahankan sesuatu yang menurut mereka masih penting: rasa ketika kita berada di balik kemudi.

Dan mungkin, itulah seni membuat sebuah PHEV tetap menyenangkan.

(mhg/rgr)