Kamis, 23 Juli 2026 20:10 WIB
Rektor UMS Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., saat memberikan sambutan di Kampus UMS Solo, Jawa Tengah, Kamis (23/7/2026). ANTARA/HO-UMS
Solo (ANTARA) - Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menjadi co-host untuk pelatihan penulisan deskripsi permohonan paten tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Direktorat Hilirisasi dan Kemitraan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Kegiatan pelatihan dan pendampingan ini berlangsung di Ruang Meeting Gedung Edutorium KH Ahmad Dahlan UMS, Solo, Jawa Tengah, 23-24 Juli 2026.
Dr. Adhi Indra Hermanu selaku Kepala Tim Hilirisasi dan Industri, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan memberikan apresiasi kepada UMS karena kolaborasi ini telah berlangsung lima kali. Ia juga menyampaikan rencana untuk merekrut pemeriksa Ditjen Kekayaan Intelektual dari dosen.
“Salah satu mungkin yang bisa mendorong penguatan Sentra KI di Perguruan Tinggi adalah kita coba bangun eh ini apa namanya, fungsional untuk eh personel yang nanti memang akan mengurusi Sentra KI,” katanya, Kamis.
Ia juga memaparkan berbagai program pendanaan riset yang dapat dimanfaatkan perguruan tinggi. Selain mendorong peningkatan jumlah paten, Ditjen Risbang juga membuka peluang pendanaan bagi riset yang memiliki potensi hilirisasi dan komersialisasi melalui pendampingan dari tim pakar, baik dalam aspek teknis, kelayakan bisnis, maupun penyempurnaan produk.
Rektor UMS Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., menyampaikan antara industri di satu sisi sebagai end user, sekaligus insight untuk menopang Bapak Ibu melakukan inovasi paten, itu menjadi hubungan kausalitas resiprokal. Ia berharap agar hubungan antara industri dan perguruan tinggi dapat berjalan baik.
“Jadi kalau bisa kedua-duanya. Kalau bisa kampus ini antara paten dan industri ini hubungannya mesra. Hubungannya mesra, industri tidak jalan sendirian, tetapi penggagas/penemu paten itu juga bisa membersamai. Sehingga nanti hubungannya saling melengkapi supaya bisa berjalan secara berbarengan,” tutur Harun optimistis.
Ia juga menyampaikan pergerakan industri sekarang lari dua kali lebih cepat dibandingkan perguruan tinggi bahkan tiga kali lebih cepat. Menurutnya, berbagai bidang, termasuk akal imitasi (AI) telah berkembang menjadi industri sehingga perguruan tinggi perlu menyesuaikan diri agar tidak tertinggal.
“Tolong memikirkan ke sana supaya industri di satu sisi, dengan paten yang dihasilkan teman-teman perguruan tinggi, itu bisa jalan searah. Orang industri seringkali tidak pernah memikirkan paten, mereka lari begitu cepat. Sementara orang paten ketika ingin masuk industri juga terlalu banyak mikir. Nah, ini juga perlu dijembatani,” ujarnya.
Pada kegiatan ini hadir tiga narasumber yang memaparkan materi. drh. I Ketut Mudite Adnyane, SKH., M.Si., Ph.D., PAVet. dalam kesempatan tersebut menyampaikan tentang syarat dan administrasi. Ia juga menyampaikan tentang sistematika penulisan dokumen paten.
Sementara. Prof. Dr. techn. Ir. Suyitno, S.T., M.T., menyampaikan langkah-langkah penelusuran paten untuk mengetahui patentabilitas invensi. Menurutnya dokumen paten memiliki ciri yaitu fokus pada pemecahan masalah teknis, gaya penulisan yang to the point, kaku, instruksional, dan prinsipnya menggunakan kalimat pasif.
Di samping itu, Dr. Eng. Muhamad Sahlan, S.Si., M.Eng., memaparkan tentang mengubah invensi sebagai hak eksklusif. Ia menyebut, ada tiga pilar utama paten yaitu invensi, inventor, hak eksklusif (kekuatan).
“Paten itu juga harus dijelaskan sejelas-jelasnya, bukan disembunyikan,” katanya.
Usai pemaparan materi dari ketiga narasumber, kegiatan dilanjutkan dengan pendampingan penulisan deskripsi permohonan paten bersama fasilitator.
Pewarta: Aris Wasita
Editor:
Teguh Imam Wibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.