Sabtu, 18 Juli 2026 16:17 WIB
Arsip - Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani menyampaikan keterangan usai melaporkan realisasi investasi kepada Presiden Prabowo Subianto di Kantor Presiden, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (16/7/2026). Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani dalam laporannya menyatakan realisasi investasi yang masuk ke Indonesia pada kuartal II-2026 mencapai Rp511,8 triliun atau tumbuh 7,1 persen secara tahunan dan meningkat dibandingkan realisasi investasi pada kuartal I-2026 yang sebesar Rp498,8 triliun. ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/nz (ANTARA FOTO/BAYU PRATAMA S)
Jakarta (ANTARA) - Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman memandang, realisasi investasi pada semester I 2026 menunjukkan daya tarik investasi Indonesia masih cukup terjaga di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Berdasarkan laporan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, realisasi investasi pada periode tersebut telah mencapai Rp1.010,6 triliun atau sekitar 49,5 persen dari target tahun ini.
“Namun, tantangan pada semester II bukan lagi menarik komitmen investasi, melainkan memastikan investasi tersebut segera direalisasikan menjadi proyek yang produktif,” kata Rizal saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Sabtu.
Oleh karena itu, menurutnya, pemerintah perlu mempercepat eksekusi proyek melalui penyederhanaan perizinan, kepastian regulasi, percepatan pembangunan infrastruktur, serta penyelesaian berbagai hambatan di lapangan.
“Artinya, investasi tidak hanya tinggi secara nominal, tetapi juga mampu menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kapasitas produksi nasional,” kata dia.
Rizal memandang, iklim investasi Indonesia masih memiliki ketahanan yang relatif baik karena ditopang oleh besarnya pasar domestik, agenda hilirisasi, serta stabilitas ekonomi makro yang tetap terjaga.
Namun, investor pada semester II diperkirakan akan lebih selektif seiring tingginya ketidakpastian global, tensi geopolitik, dan biaya pendanaan yang masih tinggi.
Kondisi tersebut membuat investasi cenderung mengalir ke sektor-sektor yang menawarkan kepastian keuntungan dan nilai tambah tinggi, seperti hilirisasi mineral, manufaktur, ekonomi digital, pusat data, energi, dan logistik.
“Dengan demikian, konsistensi kebijakan menjadi faktor kunci agar Indonesia tetap kompetitif dibandingkan negara tujuan investasi lainnya di kawasan,” kata Rizal.
Adapun dari realisasi investasi semester I 2026 berhasil menyerap 1,44 juta tenaga kerja, meningkat 15 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, berdasarkan catatan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM.
Rizal memandang bahwa peningkatan penyerapan tenaga kerja ini merupakan perkembangan yang positif, tetapi belum cukup untuk menyimpulkan bahwa investasi telah berkualitas.
“Ukuran keberhasilan investasi tidak hanya ditentukan oleh banyaknya lapangan kerja yang tercipta, tetapi lebih penting juga oleh produktivitas, tingkat upah, transfer teknologi, peningkatan keterampilan tenaga kerja, dan besarnya nilai tambah yang dihasilkan,” kata dia.
Untuk itu, menurut Rizal, orientasi kebijakan investasi perlu bergeser dari sekadar mengejar besaran realisasi menjadi investasi yang lebih produktif, inklusif, dan berkelanjutan sehingga mampu memperkuat daya saing industri nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Pewarta : Rizka Khaerunnisa
Editor:
Hery Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2026