Mendung yang makin pekat di langit tak menyurutkan langkah anak-anak di Hunian Sementara (Huntara) Aceh Tamiang 4, Desa Medang Ara, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh. Sore itu, mereka tetap berkumpul dan bermain di lapangan rumput kompleks huntara yang dibangun melalui kolaborasi Kementerian Pekerjaan Umum, PT Wijaya Karya, dan Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang itu.
Sejumlah anak laki-laki bahkan tetap asyik berlarian di tengah lapangan ketika hujan deras mulai mengguyur kompleks yang terdiri atas 240 unit huntara bagi penyintas bencana dari sejumlah wilayah di Aceh Tamiang tersebut. Pakaian mereka basah, tetapi tawa dan teriakan kecil terus terdengar.
Melihat tingkah polah anak-anak itu, Awaludin (43), penyintas asal Desa Tanjung Karang, Kecamatan Karang Baru, hanya bisa tersenyum. Ia mengaku tak kuasa melarang mereka menikmati waktu bermain.
“Biarkan saja dulu mereka bermain, asalkan hujan tidak disertai kilat atau petir. Kalau ada kilat, baru kami suruh mereka segera pulang,” kata Awaludin sembari mengamati anak-anak yang masih berkejaran di lapangan.
Awaludin kini menempati salah satu unit huntara bersama istri dan kedua anaknya. Di dalam unit tersebut tersedia dua tempat tidur dan sebuah lemari untuk menyimpan pakaian serta barang-barang keluarga. Meskipun sederhana, hunian itu menjadi tempat yang aman bagi keluarganya setelah rumah yang mereka tempati sebelumnya rusak berat akibat bencana hidrometeorologi akhir tahun lalu.
Ia bersyukur keluarganya memperoleh tempat tinggal sementara yang layak. Bagi Awaludin, huntara bukan sekadar bangunan untuk berlindung dari panas dan hujan, tetapi juga ruang bagi keluarganya untuk kembali menata kehidupan. Di tempat itu, anak-anaknya dapat beristirahat, belajar, bermain, dan perlahan meninggalkan rasa takut yang muncul setelah bencana.
Kompleks Huntara Aceh Tamiang 4 juga dilengkapi sejumlah fasilitas pendukung. Kamar mandi bersama tersedia pada setiap blok, disertai juga dengan dapur umum. Huntara itu juga memiliki tempat ibadah dan pasokan air bersih yang mengalir dengan baik dan lancar. Fasilitas tersebut memungkinkan para penghuni memenuhi kebutuhan sehari-hari sembari membangun kembali kebersamaan dengan sesama penyintas.
Rasa syukur serupa disampaikan Ngatrizal (66) dan istrinya, Yunita (61). Pasangan lanjut usia asal Desa Kebun Tanjung Seumantoh itu kini juga tinggal di kompleks Huntara Aceh Tamiang 4 setelah rumah mereka rusak parah akibat bencana.
“Alhamdulillah, kami bisa tinggal di huntara ini setelah rumah kami rusak parah,” ujar Ngatrizal. Baginya dan Yunita, keberadaan huntara memberikan rasa tenang karena mereka tidak lagi harus memikirkan tempat berlindung yang aman, terutama ketika hujan kembali turun.
Di sisi lain, pembangunan hunian tetap bagi penyintas melalui kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan elemen masyarakat juga terus dilakukan. Di Aceh Tamiang, ratusan huntap telah rampung dibangun, di antaranya berasal dari Yayasan Buddha Tzu Chi di Kecamatan Karang Baru dan huntap yang dibangun Polri di Kecamatan Kejuruan Muda. Kompleks huntap komunal itu kini dalam tahap penyelesaian akhir dan juga pembangunan fasilitas umum dan fasilitas sosial.