Jakarta, CNBC Indonesia - Raksasa e-commerce dan cloud asal China, Alibaba Group, menggebrak pasar keuangan dengan meluncurkan penawaran saham (share placement) bernilai fantastis pada Minggu (23/8) waktu setempat. Perusahaan menerbitkan saham senilai HK$80 miliar atau setara Rp180 triliun demi memupuk modal dalam perlombaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Aksi korporasi ini mencatatkan sejarah baru sebagai penawaran umum sekunder (primary follow-on offering) terbesar yang pernah terjadi di Bursa Efek Hong Kong. Tak hanya di Asia, secara global transaksi ini menduduki peringkat ketiga terbesar tahun ini, berada di belakang penawaran saham raksasa teknologi AS, Alphabet dan Intel.
Manajemen Alibaba menegaskan bakal menggunakan 100% dana segar tersebut untuk memperkuat kapabilitas AI secara full stack. Komitmen investasi ini mencakup pengembangan chip mandiri, pembangunan infrastruktur komputasi, hingga pengembangan dan penyebaran model AI di berbagai lini bisnis.
Berdasarkan term sheet yang dilaporkan Reuters, dikutip Senin (24/8/2026) Alibaba melepas 710 juta saham biasa di harga HK$112,70 per saham. Harga penawaran ini didiskon sekitar 3,6% dari harga penutupan perdagangan terakhir.
Langkah nekat Alibaba menghimpun dana raksasa ini menyusul laporan kinerja keuangan kuartal II (April-Juni). Laba bersih perusahaan terkoreksi tajam hingga 75% dibandingkan periode yang sama tahun lalu akibat lonjakan belanja modal (capex) untuk sektor AI. Alibaba bahkan mengaku telah menghabiskan hampir separuh dari total anggaran capex tiga tahunnya hanya dalam beberapa bulan.
Meski demikian, manajemen optimis investasi jor-joran ini akan terbayar manis. Tingginya permintaan pasar membuat estimasi pengembalian modal (payback period) investasi AI Alibaba diproyeksi bakal makin cepat, dari semula 3 tahun menjadi 2,5 tahun.
"Agar mampu menangkap potensi pertumbuhan di masa depan, kami harus berinvestasi di awal melalui belanja modal untuk membangun kapasitas komputasi yang memadai," tegas CEO Alibaba, Eddie Wu, saat konferensi pers laporan keuangan.
Aksi korporasi ini dilaporkan memicu perburuan hebat dari para investor global, termasuk lembaga pengelola dana abadi (sovereign wealth funds). Informasi dari sumber internal menyebutkan bahwa Alibaba sampai harus menaikkan target nilai emisi lantaran pesanan saham mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed).
Pilihan Redaksi
Sejumlah bank investasi papan atas seperti Morgan Stanley, HSBC, UBS, dan CICC ditunjuk sebagai joint bookrunners untuk mengawal transaksi ini.
Namun, investor asal Amerika Serikat (AS) terpaksa harus gigit jari. Alibaba mengonfirmasi bahwa penawaran saham ini tidak didaftarkan di bawah regulasi sekuritas AS karena dikategorikan sebagai transaksi offshore, sehingga investor dari Negeri Paman Sam tidak diizinkan berpartisipasi.
Langkah agresif Alibaba kian menegaskan panasnya peta persaingan infrastruktur AI global yang mempertemukan raksasa China dan AS.
Sebagai pembanding, empat raksasa komputasi (hyperscalers) AS-Microsoft, Amazon, Alphabet, dan Meta-diperkirakan bakal mengucurkan belanja modal fantastis hingga US$725 miliar pada tahun 2026. Sebagian besar dana raksasa tersebut dialokasikan khusus untuk pembangunan pusat data AI, pembelian chip canggih, serta penguatan infrastruktur cloud.
(fab/fab)
[Gambas:Video CNBC]