Liputan6.com, Jakarta - Mobil listrik modern semakin identik dengan angka tenaga yang fantastis. Tidak sedikit model performa tinggi yang kini menawarkan tenaga hingga lebih dari 1.000 horsepower (HP).
Angka tersebut tentu terdengar menggiurkan, terutama bagi konsumen yang menginginkan akselerasi brutal. Namun, tenaga 1.000 HP yang tercantum dalam materi promosi ternyata tidak selalu bisa tersedia setiap saat ketika pedal gas diinjak.
Hal ini berkaitan dengan perbedaan antara peak power atau daya puncak dan continuous power alias daya berkelanjutan pada kendaraan listrik.
Laporan majalah otomotif Jerman, Auto Motor und Sport, mengungkap bahwa perbedaan kedua angka tersebut pada mobil listrik bisa sangat signifikan.
Salah satu contoh paling mudah terlihat adalah Porsche Taycan Turbo GT. Mobil listrik performa tinggi ini memiliki tenaga standar yang diklaim mencapai 778 HP.
Ketika fitur Launch Control diaktifkan, output tersebut dapat meningkat menjadi 1.019 HP. Bahkan, melalui fitur Overboost, tenaga maksimalnya bisa mencapai 1.093 HP.
Namun, ada satu hal penting yang perlu diperhatikan. Tenaga tertinggi tersebut hanya dapat dipertahankan dalam waktu sekitar dua detik.
Artinya, angka 1.093 HP lebih tepat dipahami sebagai kemampuan daya puncak dalam kondisi tertentu, bukan tenaga yang dapat terus-menerus disalurkan oleh mobil.
Perbedaan antara peak power dan continuous power sebenarnya bukan hal aneh pada mobil listrik.
Peak power menggambarkan kemampuan maksimal sistem penggerak listrik dalam periode singkat. Angka inilah yang biasanya menjadi daya tarik ketika sebuah mobil listrik performa tinggi dipasarkan.
Sementara itu, continuous power menggambarkan kemampuan kendaraan mempertahankan output dalam durasi yang jauh lebih lama.
Untuk mengukur kemampuan tersebut, regulasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui Peraturan 85 atau ECE R85 menggunakan pengukuran output rata-rata maksimum selama 30 menit.
Karena menggunakan metode pengukuran berbeda, angka tenaga yang tercantum dalam dokumen pendaftaran resmi kendaraan, termasuk di Jerman, dapat terlihat jauh lebih rendah dibandingkan angka tenaga maksimum yang dipromosikan pabrikan.
Perbedaan angka tersebut tidak berarti sebuah mobil listrik akan tiba-tiba kehilangan tenaga atau menjadi lambat setelah digunakan selama 30 menit.
Angka 30 menit dalam pengujian regulasi merupakan tolok ukur standar untuk mengetahui kemampuan kendaraan mempertahankan beban dalam jangka waktu panjang.
Pengujian semacam ini lebih relevan untuk menggambarkan kondisi ekstrem, misalnya ketika kendaraan harus membawa beban berat, menanjak dalam waktu lama, atau bekerja keras secara terus-menerus.
Jadi, pengemudi yang menggunakan mobil listrik untuk perjalanan sehari-hari belum tentu akan merasakan penurunan performa seperti yang tergambar dari perbedaan angka tersebut.
Lantas, mengapa mobil listrik tidak bisa mempertahankan tenaga puncaknya dalam waktu lama?
Salah satu faktor utamanya adalah temperatur dan sistem manajemen termal.
Motor listrik mampu menerima arus listrik dalam jumlah sangat besar dan menghasilkan tenaga tinggi secara instan. Namun, proses tersebut juga menghasilkan panas.