Puncak Kenaikan Harga Barang Diproyeksi Terjadi Akhir 2026, Ritel Mulai Waspada - Industri Katadata.co.id

calendar_today 13.07.2026 - person  - timer ~

Pelaku usaha ritel memperkirakan kenaikan harga barang akan semakin terasa pada triwulan IV 2026. Meski demikian, kondisi tersebut diprediksi tidak akan menurunkan tingkat kunjungan masyarakat ke pusat perbelanjaan, melainkan mengubah pola belanja, terutama bagi konsumen kelas menengah bawah.

Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja, mengatakan tekanan harga yang lebih signifikan diperkirakan baru akan terjadi pada triwulan IV 2026.

"Kenaikan harga tidak akan terlalu berdampak terhadap tingkat kunjungan ke pusat perbelanjaan, tetapi lebih memengaruhi pola atau tren belanja masyarakat, khususnya kelompok menengah bawah," ujarnya kepada Katadata.co.id, Senin (13/7). 

Dampaknya, konsumen akan menjadi lebih selektif dalam berbelanja. Kondisi itu diperkirakan membuat pertumbuhan nilai transaksi tidak secepat pertumbuhan jumlah pengunjung.

Meski demikian, APPBI masih memperkirakan industri ritel nasional tetap mencatatkan pertumbuhan sepanjang 2026 dibandingkan tahun sebelumnya, meski laju pertumbuhannya tidak akan terlalu signifikan.

Hal ini sebab masyarakat Indonesia memiliki kebiasaan menjadikan pusat perbelanjaan sebagai destinasi untuk berbagai aktivitas, tidak hanya berbelanja.

"Fungsi pusat perbelanjaan bukan lagi sekadar sebagai tempat belanja, tetapi juga untuk edukasi, hiburan, kegiatan sosial, budaya, dan tempat berkumpul masyarakat," kata Alphonzus.

Harga sejumlah barang dan produk mulai mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir. Namun, kenaikan tersebut masih relatif terbatas.

Ketua Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo), Budiarjo Iduansyah, mengatakan sebagian pelaku usaha sebenarnya telah menaikkan harga produk sejak sekitar dua bulan terakhir mengikuti kenaikan harga dari pemasok.

"Kenaikan harga memang mengikuti harga supplier. Namun sebagian pelaku usaha mencoba mengimbanginya dengan memberikan berbagai program diskon agar daya beli tetap terjaga," ujarnya kepada Katadata.co.id, Senin (13/7)

Menurut Budiarjo, kinerja ritel pada periode Juni hingga Agustus masih terbantu oleh musim libur sekolah yang mendorong aktivitas wisata dan belanja masyarakat.

Selain wisatawan domestik, kunjungan wisatawan mancanegara, terutama dari Malaysia dan China, turut menopang penjualan di sejumlah pusat perbelanjaan. Namun, jumlah wisatawan dari kawasan Timur Tengah disebut mengalami penurunan akibat ketidakpastian global sehingga turut memengaruhi pencapaian target penjualan ritel.

"Libur sekolah masih membantu sektor ritel. Aktivitas pariwisata meningkat dan wisatawan dari Malaysia maupun China masih cukup banyak datang. Namun, kondisi global membuat sebagian wisatawan menunda perjalanan sehingga penjualan belum mencapai target," katanya.

Stok Barang Impor Menipis

Di sisi lain, pelaku usaha juga menghadapi kendala pasokan barang impor. Budiarjo mengatakan sejumlah produk impor resmi yang biasanya menjadi daya tarik pusat perbelanjaan belum masuk ke Indonesia sehingga stok di berbagai gerai mulai menipis.

Akibatnya, sebagian anggota Hippindo menunda pembukaan toko baru karena khawatir ketersediaan barang belum mampu mendukung operasional gerai.

"Masih banyak barang impor yang belum masuk sehingga stok kosong. Kondisi ini cukup mengganggu pusat perbelanjaan, bahkan ada anggota yang menahan investasi pembukaan toko baru karena pasokan belum tersedia," ujarnya.

Meski demikian, beberapa kategori usaha masih mencatatkan pertumbuhan positif. Produk elektronik, perlengkapan gaya hidup, makanan dan minuman (F&B), serta produk oleh-oleh masih menikmati permintaan yang cukup baik seiring meningkatnya aktivitas pariwisata dan tingkat okupansi hotel.

Untuk menjaga momentum konsumsi hingga akhir tahun, Hippindo berharap pemerintah memperbanyak program promosi dan memberikan stimulus yang dapat langsung mendorong belanja masyarakat.

"Kami berharap ada tambahan event promosi dan stimulus dari pemerintah agar konsumsi domestik kembali meningkat dan dapat mendukung pertumbuhan sektor ritel," kata Budiarjo.