Lukman Nur Hakim Akurat.co
| 8 September 2026, 11:55 WIB

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PTBA, Una Lindasari
AKURAT.CO PT Bukit Asam (Persero) Tbk. (PTBA) mengembangkan produk kalium humat berbasis hasil pengolahan batu bara sebagai bagian dari strategi hilirisasi dan berpotensi mendukung sektor pertanian.
Kalium humat merupakan senyawa berbentuk garam kalium yang berasal dari asam humat dan banyak dimanfaatkan sebagai pembenah tanah maupun bahan tambahan pupuk organik.
Senyawa ini umumnya diperoleh melalui proses ekstraksi menggunakan larutan alkali dari material seperti leonardit dan batu bara muda (lignit).
Baca Juga: PTBA Targetkan Proyek Batu Bara Jadi DME Masuk Konstruksi 2027
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PTBA, Una Lindasari mengatakan, perseroan saat ini telah memiliki pilot plant kalium humat dengan kapasitas sekitar 171 ton per tahun.
“Saat ini pilot plant untuk kalium humat yang memiliki kapasitas sekitar 171 ton per tahun dengan target pengembangan hingga 10.000 ton per tahun,” kata Una dalam Public Expose Live 2026, Senin (7/9/2026) petang.
Una menuturkan, pengembangan kalium humat menjadi salah satu bagian dari upaya PTBA memperluas pemanfaatan batu bara menjadi produk bernilai tambah di luar bisnis batu bara konvensional.
Menurutnya, hilirisasi menjadi salah satu fokus perseroan untuk meningkatkan nilai ekonomi dari sumber daya yang dimiliki PTBA.
“Kami melihat potensi yang luas dari sumber daya yang dimiliki oleh PTBA untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah termasuk DME, metanol dan kalium humat,” ujarnya.
Sementara itu, PTBA menargetkan proyek hilirisasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME) mulai memasuki tahap konstruksi pada 2027.
Direktur Hilirisasi dan Diversifikasi Produk PTBA, Turino Yulianto mengatakan proyek coal to DME tersebut saat ini tengah masuk dalam proses finalisasi studi kelayakan bersama sejumlah pihak terkait.
Menurutnya, proyek DME merupakan salah satu proyek hilirisasi batu bara PTBA yang tengah diorkestrasi oleh Danantara Indonesia. Selain DME, PTBA juga mengembangkan proyek coal to synthetic natural gas (SNG).
“Ya, saya akan jawab beberapa proyek hilirisasi batubara khususnya DME. Saat ini yang proyek yang sedang dan sudah hampir berjalan adalah DME dan SNG. Dua-duanya partner kita, off takernya adalah Pertamina Group,” tutur Turino.
Turino menuturkan, proyek coal to DME diarahkan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor liquefied petroleum gas (LPG). Sementara proyek coal to SNG ditujukan untuk memenuhi kebutuhan gas, khususnya bagi sektor industri.
Dia menambahkan, kedua proyek tersebut menjadi bagian dari agenda strategis pemerintah dalam mendorong hilirisasi batu bara sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
PTBA, kata Turino menargetkan proses konstruksi proyek coal to DME dapat dimulai pada tahun depan. “Insya Allah dalam waktu tidak lama lagi targetnya tahun depan sudah mulai konstruksi,” tukasnya.