Selasa, 13 Oktober 2026 23:06 WIB
Warga Cek Desa Sukodono, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, memanfaatkan program dokter spesialis keliling (Speling) yang diintegrasikan dalam Cek Kesehatan Gratis (CKG) untuk pemeriksaan kesehatan, Selasa (13/10/2026). ANTARA/HO-Humas Pemprov Jateng.
Jepara (ANTARA) - Program dokter spesialis keliling (Speling) yang diintegrasikan dalam Cek Kesehatan Gratis (CKG) memudahkan warga Desa Sukodono, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, dalam melakukan pemeriksaan kesehatan, terutama Tuberkulosis (TBC).
Dalam kegiatan yang dikunjungi oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Tengah Sumarno, Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus, dan Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wiyagus tersebut sekaligus dilakukan kegiatan Active Case Finding (ACF) Tuberkulosis (TBC).
"Upaya tersebut sebagai strategi untuk menemukan kasus penyakit TBC secara langsung di tengah masyarakat," kata Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Tengah Sumarno di Jepara, Selasa.
Melalui kegiatan tersebut, kata dia, warga mendapatkan manfaat untuk mengetahui kondisi kesehatannya, sekaligus dapat memeriksakan risiko paparan TBC.
Dalam kegiatan itu, rombongan kementerian juga meninjau pelaksanaan pemeriksaan warga. Meliputi, pemeriksaan dahak untuk sputum BTA (bakteri tahan asam), rontgen, tekanan darah, tinggi badan, serta pemeriksaan laboratorium sesuai kebutuhan.
Salah seorang warga yang mengikuti kegiatan tersebut, Dina Amelia mengaku datang bersama lima anggota keluarganya setelah mengetahui adanya riwayat TBC di lingkungan keluarga mereka.
Ia berharap pemeriksaan tersebut dapat membantu memastikan kondisi kesehatan seluruh anggota keluarganya sekaligus mencegah penularan.
"Harapannya tidak ada yang tertular dari keluarga, sehingga semuanya tetap sehat. Alhamdulillah, bisa cek kesehatan gratis melalui kegiatan ini," ungkap Dina.
Kepala Puskesmas Tahunan Pramita Sukti Setyarini mengatakan penelusuran atau tracing TBC penting dilakukan untuk menemukan kasus yang belum terdeteksi, termasuk pada orang yang tidak menunjukkan gejala.
Menurut dia pemeriksaan aktif diperlukan agar masyarakat yang berisiko terinfeksi TBC dapat segera menjalani pemeriksaan dan memperoleh penanganan sesuai hasil diagnosis.
"Dengan adanya tracing (pelacakan) ini, kita bisa menjaring pasien-pasien yang memiliki gejala TBC, tidak bergejala, maupun yang memiliki riwayat kontak. Melalui kegiatan ini, kita bisa melihat gambaran paru-paru melalui pemeriksaan rontgen untuk membantu mendeteksi kemungkinan TBC," ujarnya.
Ia menjelaskan kegiatan skrining TBC di wilayah kerja Puskesmas Tahunan diharapkan dapat dilakukan secara rutin setiap bulan. Pelaksanaannya menyasar sejumlah desa, termasuk menelusuri kontak erat dari pasien yang telah terkonfirmasi positif TBC.
Kontak erat tersebut meliputi anggota keluarga, teman dekat, hingga rekan kerja. Mereka dianjurkan menjalani pemeriksaan meskipun belum mengalami gejala, terutama jika memiliki riwayat kontak dengan pasien TBC.
"Walaupun tidak bergejala, kalau mereka memiliki riwayat kontak, kita bisa meminta mereka datang untuk diperiksa," jelasnya.
Ia mengaku senang dengan kegiatan di Desa Sukodono yang menggabungkan penelusuran TBC dengan program speling. Pemeriksaan yang tersedia meliputi rontgen, tekanan darah, tinggi badan, serta pemeriksaan laboratorium sesuai kebutuhan.
Integrasi tersebut diharapkan memudahkan masyarakat mengakses berbagai layanan kesehatan dalam satu kegiatan. Data pelayanan juga diinput melalui sistem satu sehat.
Pewarta: Akhmad Nazaruddin
Editor:
Immanuel Citra Senjaya
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.